Tinta Media – Lagi dan lagi, kriminalitas yang tak henti-henti. Pemuda yang
seharusnya menjadi tonggak perubahan justru terseret dalam tindak kriminal di
negeri ini. Lantas, mau menjadi apa pemuda di negeri ini?
Bocah laki – laki berinisial MA (6 tahun) asal Sukabumi menjadi
korban pembunuhan, tidak hanya dibunuh anak yang baru mau duduk disekolah dasar
ini juga menjadi korban kekerasan seksual sodomi. (SUKABUMIKU.id 2/5/2024).
Miris, kasus pembunuhan dan pelecehan seksual kembali terjadi.
Bahkan pelaku pembunuh sekaligus pelecehan seksual tersebut adalah anak di
bawah umur. Fakta yang begitu menggemparkan.
Lihat betapa rusak pemikiran juga akhlak generasi saat ini.
Siapa yang akan bertanggung jawab terhadap semua ini? Bukan hanya satu atau dua
kasus yang terjadi, tetapi telah puluhan bahkan ratusan kasus kriminal yang
dilakukan para pemuda di negeri ini.
Kapitalisme, Akar dari Semua Masalah
Sistem yang rusak akan melahirkan aturan yang rusak.
Eksploitasi perempuan dalam sistem kapitalisme justru menggeser peran perempuan
dalam mencetak generasi yang unggul.
Perempuan dipaksa untuk bekerja demi kebutuhan. Seolah-olah bekerja
adalah kewajiban.
Situs dan tontonan yang merusak juga mempengaruhi mindset
generasi saat ini. Tidak adanya pembatasan ataupun penyaringan membuat anak-anak mudah mengakses berbagai
situs dan tontonan yang tidak layak. Alhasil mereka meniru apa yang telah
mereka lihat selama ini.
Lemahnya akidah. Sistem saat ini yakni agama dipisahkan dari
kehidupan membuat akidah semakin merosot dan iman semakin melemah. Mental
mereka yang mudah terombang-ambingkan. Lantas mau jadi apa generasi saat ini
ketika iman saja hanya tersisa sedikit di hati mereka?
Islam adalah Solusi
Berbeda halnya dengan sistem Islam. Dalam Islam perempuan tidak
diwajibkan bekerja justru peran utama perempuan adalah al ummu madrasatul ula.
Ibu adalah madrasah pertama bagi anaknya, sehingga peran perempuan sangat
diperlukan untuk mencetak generasi-generasi yang unggul. Perempuan akan
difokuskan pada tugas utamanya. Dan sejak remaja mereka telah dibekali dengan
ilmu-ilmu yang memang nantinya dibutuhkan ketika mereka berumah tangga dan
memiliki anak.
Situs dan tontonan pun akan dibatasi dalam pemerintahan Islam.
Bahkan ilmu-ilmu asing yang itu bisa melemahkan akidah tidak akan diambil.
Semua hal yang tidak sesuai dengan kurikulum Islam tidak akan diambil dan
film-film ataupun tontonan yang merusak akidah juga akan dihapuskan, sehingga
terbentuklah generasi yang Qur’ani, berakhlak mulia dan berprestasi.
Hal pertama yang diajarkan dalam kurikulum pendidikan Islam
adalah penanaman akidah. Kenapa? Karena akidah adalah pondasi. Seseorang yang
memiliki akidah yang kuat akan mampu menentukan mana yang benar dan mana yang
salah. Mereka juga tidak mudah terprovokasi. Dan mereka juga tidak akan mudah
rapuh atau putus asa tatkala cobaan datang di kehidupan mereka. Mental mereka
terlatih dan syariat Islam menjadi dasar dalam mereka melakukan sesuatu.
Dan semua itu terbukti dengan melihat bagaimana Islam mengatur
kehidupan selama 1.300 tahun lamanya. Generasi-generasi unggul tercetak selama
Islam berdiri memimpin. Masalah-masalah kriminal yang terjadi di kalangan
pemuda tak akan separah ini. Dan jika pun ada maka Islam akan memberikan sanksi
yang membuat pelaku jera dan sekaligus bisa memberi peringatan bagi yang
menyaksikannya. Begitu indahnya kehidupan Islam. Semua problematika umat
teratasi dan kesejahteraan umat terjamin dalam penerapan sistem Islam di setiap
lini kehidupan.
Wallahu’alam bishawab.
Oleh : Dita Serly, Sahabat Tinta Media
![]()
Views: 18
















