Tinta Media – Miris! Mahasiswa berinisial YM (23) mengakhiri hidupnya dengan gantung diri di kandang babi di salah satu dusun di Kecamatan Waigete, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT), Sabtu (30/11) (regional.kompas.com, 2/12/2024).
Dilansir dari media yang sama, mahasiwa berinisial JAA (18) juga nekat mengakhiri hidup dengan melompat dari lantai 27 Apartemen Pinewood di Jatinangor Sumedang, Jawa Barat. Korban yang diduga mengalami depresi tersebut merupakan mahasiswa Fakultas Teknik Lingkungan ITB.
Seorang wanita bernisial E (18) yang merupakan mahasiswa Universitas Tarumanegara juga mengakhiri hidup dengan melompat dari lantai 6 gedung kampus. Jasadnya ditemukan di halaman gedung kampus di Tomang, Grogol Petamburan, Jakarta Barat, Jumat (4/10) pukul 18.45 WIB. (tribunews.com, 7/10/2024).
Kejadian tadi hanya segelintir kasus kematian bunuh diri yang dilakukan oleh generasi muda akhir-akhir ini. Disinyalir, masih banyak kasus bunuh diri yang tidak dilaporkan (underrepoting). Berdasarkan penelitian Asosiasi Pencegahan Bunuh Diri Indonesia, tingkat underrepoting di Indonesia mencapai minimal 303 persen. Angka ini lebih tinggi dibandingkan dengan angka rata-rata dunia yang hanya 0-50 persen. (Inasp.id) Ini menunjukkan fenomena bunuh diri pada remaja di Indonesia ibarat gunung es. Hanya sedikit yang muncul kepermukaan. Sementara fakta sebenarnya, jauh lebih besar.
Mirisnya, pelaku bunuh diri banyak dilakukan oleh generasi muda. Sebagian besar pelaku berusia 26-45 tahun (30,9 persen) sedangkan bunuh diri yang dilakukan usia 17-25 tahun sebanyak 75 kasus (8,8 persen).
Survei lainnya dilakukan Alvara Research Center terhadap 1520 responden di 34 provinsi Indonesia pada 2022 silam. Hasilnya, menunjukkan generasi Z (kelahiran 1997-2012) memiliki tingkat kecemasan yang tinggi dibandingkan generasi milenial dan X (Goodstats.id, 31/7/2024).
Data tersebut diperkuat oleh data dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Selama periode 11 tahun, 2012-2023 tercatat ada 2.112 kasus bunuh diri di Indonesia. Sebanyak 46,63 persen atau 985 kasus diantaranya dilakukan oleh remaja. Penyebabnya beragam, mulai dari tekanan akademis, cyber bullying, dan masalah keluarga. (Brin.go.id, 21/11/2023).
Faktor Sistem
Generasi muda hari ini tak sedikit yang cenderung memiliki sifat yang lemah dan rentan. Tanpa fikir panjang, mereka mencari jalan pintas dalam menghadapi masalah dengan bunuh diri.
Menurut Prof Euis Sunarti, Guru Besar Ketahanan Keluarga Fakultas Ekologi Manusia IPB, generasi hari ini wdan generasi sebelumnya berbeda dalam hal menghadapi tekanan, harapan, dan memenuhi berbagai tuntutan standar kehidupan.
Ia menjelaskan, disrupsi (inovasi dan perubahan) dari screen time gadget, internet, misalnya, konten-konten yang beredar hari ini mendatangkan nilai (value) sendiri tentang standar hidup, harapan, ingin jadi apa, orang lain memiliki apa. Itu semua bisa menjadi sumber tekanan bagi generasi muda.
Mereka juga menjadi generasi yang mudah menyerah dalam menghadapi kehidupan. Alhasil, sikap putus asa, stres, hingga depresi, menjadi penyakit mental banyak dialami generasi muda hari ini. Mereka berpikir semua beban masalah dan mental mereka akan terlepas dan berakhir dengan bunuh diri.
Mengapa generasi kita menjadi seperti ini? Faktor utamanya ialah penerapan sistem hari ini yakni sekuler kapitalisme yang gagal mewujudkan generasi yang kuat dan tangguh. Sistem ini meniadakan peran tiga pilar pembentuk generasi.
Pertama, keluarga. Generasi yang memiliki mental rapuh kebanyakan dialami oleh mereka yang dibesarkan di lingkungan keluarga broken home, fatherless, motherless, atau hidup berjauhan dengan orang tua.
Kedua, sekolah dan masyarakat. Kurikulum pendidikan yang diterapkan hari ini adalah kurikulum sekuler yang menjauhkan manusia dari aturan Allah Taala. Memisahkan perkara Islam dan kehidupan. Hasilnya, generasi kita terdidik dengan cara pandang kapitalisme-sekularisme. Standar kebahagiaan hidup tertinggi dengan mencari sebanyak-banyaknya materi dan kesenangan duniawi. Ketika mereka tidak berhasil menggapainya, depresi menjadi hal yang tidak mampu dihindari. Perilaku mereka tidak lagi bersandar pada halal-haram.
Solusi Islam
Karena masalah bunuh diri dipengaruhi problem sistemis, maka menyelesaikannya pun harus dilakukan secara sistemis. Islam adalah solusi bagi semua persoalan hidup manusia. Bagaimana mekanisme Islam mencegah bunuh diri?
Pertama, Islam menanamkan akidah Islam sejak dini pada anak-anak. Dengan penguatan akidah yang kuat, setiap anak akan memahami visi dan misi hidupnya sebagai hamba Allah Taala, yakni beribadah dengan menaati segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya.
Kedua, menerapkan kurikulum pendidikan berbasis akidah Islam. Sejarah Islam telah membuktikan bahwa kurikulum pendidikan Islam mampu melahirkan generasi kuat imannya, tangguh mentalnya, dan cerdas akalnya. Negara akan mengondisikan penyelenggaraan pendidikan yang bertujuan untuk membentuk syahsiah Islam terlaksana dengan baik.
Ketiga, memastikan para ibu mampu dan menjalankan kewajibannya dengan baik. Ibu adalah sekolah pertama bagi anak-anaknya. Sistem Islam akan memberdayakan kaum ibu sebagai ibu generasi peradaban, bukan mesin ekonomi seperti halnya dalam sistem kapitalisme yang menempatkan para ibu pada persoalan ekonomi dan kesejahteraan.
Penerapan sistem Islam secara sempurna yang paripurna akan membentuk insan bertakwa, masyarakat yang gemar berdakwah, dan negara yang benar-benar mengayomi rakyat. Dengan begitu, masalah bunuh diri akan tuntas karena setiap muslim dapat memahami hakikat dan jati dirinya sebagai hamba dengan menjadikan Islam sebagai the way of life.
Wallahu’alam bishawab.
Oleh: Isti Rahmawati, S.Hum
(Pegiat Literasi Muslimah)
![]()
Views: 37
















