Tinta Media – Publik kembali dibuat miris oleh berita duka. Seorang anak SD berusia sekitar 10 tahun bunuh diri di Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), karena tak mampu membeli pena dan buku. Yang makin membuat hati trenyuh, ia meninggalkan sepucuk surat untuk ibunya. Dalam isi suratnya, ia seakan putus asa dan menyerah pada kemiskinan yang ia rasakan sehingga tidak mau menjadi beban bagi orang tuanya.
Orang tua anak itu adalah seorang janda yang menanggung nafkah lima orang anaknya. Upah sebagai petani dan buruh serabutan tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarganya, bahkan sekadar memenuhi kebutuhan dasarnya.
Peristiwa ini bukan sekadar kabar duka, tetapi fakta dan alarm keras bagi masyarakat dan negara. Di saat banyak bencana alam yang belum tuntas penanganannya, bencana sosial pun tak kalah merebak.
Pendidikan adalah kebutuhan mendasar bagi semua warga negara yang seharusnya bisa dinikmati secara gratis oleh semua orang, baik kaya maupun miskin. Tak hanya gratis biayanya, masyarakat juga harus dipenuhi sarana dan prasarananya, termasuk alat-alat belajar.
Namun sayangnya, di negara yang menganut sistem kapitalisme demokrasi, distribusi kekayaan tidak merata, apalagi bagi daerah-daerah terpencil. Jarak antara yang kaya dan yang miskin semakin lebar. Pendidikan dikapitalisasi sehingga kalangan kurang mampu tidak bisa menjangkaunya.
Kemiskinan yang dialami umat saat ini bukanlah kemiskinan alamiah, melainkan kemiskinan sistemis. Fakta ini menunjukkan bahwa sistem saat ini tidak bisa menjamin terpenuhinya kebutuhan dasar bagi seluruh masyarakat. Inilah buah busuk akibat penerapan sistem kapitalisme.
Islam Menjamin Pendidikan
Kebutuhan mendasar bagi manusia adalah pangan, sandang, papan, pendidikan, dan keamanan. Islam menjamin terpenuhinya semua itu bagi setiap orang yang berkewarganegaraan Khilafah.
Dalam sistem Islam, pendidikan gratis menjadi hak warga negara, mulai dari pendidikan usia dini hingga pendidikan tinggi bagi mahasiswa. Bahkan, negara akan memberikan tunjangan bagi pelajar sehingga setiap orang tidak terbebani biaya untuk mencari ilmu.
Madrasah, perpustakaan, dan halaqah ilmu dibiayai negara atau wakaf. Pelajar tidak membayar biaya sekolah. Dalam beberapa periode (terutama Abbasiyah dan Utsmaniyah), pelajar mendapat makanan, tempat tinggal (asrama), kertas dan alat tulis, bahkan kadang uang tunjangan agar bisa fokus belajar tanpa harus bekerja.
Negara memberi gaji tetap kepada pengajar maupun ulama sehingga sistem pendidikan dapat berjalan stabil. Sebagaimana Madrasah Nizamiyah (abad ke-11) yang menyediakan beasiswa penuh bagi pelajar, termasuk tempat tinggal dan kebutuhan hidup.
Negara Khilafah memandang pendidikan sebagai tanggung jawab negara dalam rangka membentuk kepribadian umat. Itulah sebabnya ilmu dan sains berkembang pesat pada masa Khilafah.
Negara menyiapkan pos anggaran besar bagi pendidikan yang berasal dari baitulmal. Selain itu, sistem ekonomi Islam menyediakan lapangan kerja bagi para penanggung nafkah. Seorang janda tidak akan dibiarkan berjuang sendiri untuk memenuhi kebutuhan keluarganya.
Penerapan sistem Islam secara menyeluruh merupakan solusi bagi persoalan bunuh diri anak dan juga solusi bagi berbagai persoalan hidup lainnya. Dengan adanya persoalan ini, seharusnya masyarakat sadar bahwa tidak ada solusi lain kecuali menegakkan kembali hukum syariah Islam secara menyeluruh dalam naungan negara Khilafah. Wallahualam bissawab.
Oleh: Sri Syahidah,
Aktivis Muslimah
![]()
Views: 27
















