Anak SD Bunuh Diri, Kegagalan Sekularisme dan Solusi Khilafah

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
WhatsApp
Twitter
Telegram
Threads

Tinta Media – Tragedi bunuh diri seorang murid Sekolah Dasar (SD) di Nusa Tenggara Timur (NTT) merupakan akta dakwaan telanjang atas kegagalan negara sekuler-kapitalistik. Ketika seorang bocah mengakhiri hidup karena tak mampu membeli alat tulis, yang runtuh adalah fondasi pengurusan negara, lebih dari sekadar kondisi psikologis. Ini adalah kejahatan struktural, melebihi insiden personal atau isu kesehatan mental semata.

 

Dalam pandangan Islam ideologis, peristiwa ini menandai gagalnya negara menjalankan fungsi _ri‘ayah_ (pengurusan rakyat). Sekularisme menyingkirkan agama dari kebijakan publik, kapitalisme menurunkan pendidikan menjadi layanan administratif. Akibatnya, “pendidikan gratis” berhenti sebagai slogan. Sementara itu, biaya riil seperti buku, alat tulis, dan transportasi tetap membebani keluarga miskin.

 

Runtuhnya Ketahanan Keluarga

 

Sekularisme memisahkan wahyu dari kebijakan. Pendidikan diperlakukan sebagai proyek, bukan hak primer yang dijamin negara. Data Badan Pusat Statistik menunjukkan NTT konsisten di jajaran provinsi termiskin, sekitar 19–20 persen. Ketahanan keluarga melemah di bawah tekanan ekonomi eksploitatif.

 

Negara membiarkan orang tua berjuang sendirian tanpa perlindungan sistemis. Ketika keluarga rapuh, anak menjadi korban pertama. Laporan Dana Anak-Anak Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNICEF) dan Komisi Perlindungan Anak Indonesia mengonfirmasi bahwa risiko tekanan psikologis anak meningkat tajam saat tuntutan sekolah tidak ditopang ekonomi keluarga. Kekerasan struktural ini sunyi, rapi, dan mematikan.

 

Dosa Struktural Negara

 

Islam memosisikan negara sebagai raa‘in. Pemimpin bertanggung jawab penuh atas rakyatnya. Ketika seorang anak bunuh diri karena kemiskinan, negara menjadi pihak pertama yang harus didakwa. Menyalahkan pola asuh atau kesehatan mental tanpa menggugat sistem merupakan pengaburan sebab.

 

Dosa struktural negara tampak pada pembiaran kemiskinan ekstrem lintas generasi, liberalisasi pendidikan yang membebani rumah tangga miskin, serta absennya perlindungan jiwa yang terintegrasi. Juga tampak pada penggantian kewajiban negara dengan bantuan temporer.

 

Al-Qur’an Surat An-Nisa ayat 29 mengharamkan bunuh diri. Islam turut mengharamkan sistem yang menciptakan keputusasaan.

 

Solusi Total Penjaga Jiwa

 

Islam tidak berhenti pada larangan moral. Islam menghadirkan institusi politik berupa Khilafah sebagai penjaga jiwa (hifzh an-nafs). Di sinilah solusi bekerja dari akar.

 

Legitimasi historisnya konkret. Pada masa Khalifah Umar bin Khaththab, negara melalui baitulmal menjamin kebutuhan rakyat secara personal. Umar menetapkan tunjangan rutin bagi warga, termasuk anak-anak. Ketika diketahui ada ibu menyapih bayi lebih dini demi tunjangan, Umar mengoreksi kebijakan tersebut. Tunjangan diberikan sejak kelahiran. Ini adalah kebijakan negara, bukan romantisme sejarah, yang menjaga jiwa dan martabat sejak dini.

 

Dalam Khilafah, jaminan kebutuhan dasar (pangan, sandang, papan) ditegakkan melalui ekonomi syariah noneksploitatif. Pendidikan mutlak gratis. Seluruh sarana belajar disediakan negara dari baitulmal yang bersumber dari pengelolaan kepemilikan umum. Integrasi ri‘ayah memastikan keluarga tidak sendirian menanggung beban hidup.

 

Legitimasi Fikih Siyasah

 

Imam Al-Mawardi menegaskan dalam Al-Ahkâm as-Sulthâniyyah, imamah ditegakkan sebagai pengganti kenabian dalam menjaga agama dan mengatur urusan dunia:

 

«الإِمَامَةُ مَوْضُوعَةٌ لِخِلَافَةِ النُّبُوَّةِ فِي حِرَاسَةِ الدِّينِ وَسِيَاسَةِ الدُّنْيَا»

 

Mandat ini menegaskan bahwa pengurusan pendidikan dan perlindungan jiwa adalah kewajiban inti negara. Membiarkan anak terjerumus ke dalam keputusasaan akibat kemiskinan merupakan pelanggaran berat syariat.

 

Ganti Sistem, Selamatkan Anak

 

Tragedi NTT merupakan produk sistem, bukan takdir. Menangisi korban tanpa mengganti fondasi adalah kemunafikan sosial. Selama sekularisme dan kapitalisme dipertahankan, tragedi serupa akan berulang. Anak menyerah pada hidup karena sebuah buku dan sebatang pulpen.

 

Islam telah menunjukkan jalan melalui Khilafah yang teruji sejarah, kukuh dalam kebijakan, dan tulus melayani. Menyelamatkan nyawa anak-anak menuntut keberanian mencampakkan sistem rapuh dan kembali pada aturan Sang Pencipta. Inilah satu-satunya cara memastikan tangan-tangan mungil memegang pena dengan harapan, bukan menulis surat kematian. Wallahualam bissawab.

 

Oleh: Waode Arumaini Ali, S.E.,

Kolumnis Publik di Sulawesi Selatan

Loading

Views: 45

TintaMedia.Com : Menebar opini Islam di tengah-tengah umat yang terkungkung sistem kehidupan sekuler.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TULISAN TERBARU

SEDANG TRENDING

MENANGKAN OPINI ISLAM

JADWAL SHOLAT DI KOTA ANDA