Tinta Media – Tak henti-hentinya seruan toleransi ditujukan kepada umat lslam menjelang perayaan natal dan tahun baru (nataru), dengan menjaga kerukunan antar-umat beragama. Selama ini, umat lslam sebagai mayoritas sudah toleransi terhadap umat selain lslam, dengan membiarkan mereka merayakan hari besar keagamaannya.
Namun, umat lslam yang tidak menyampaikan selamat dan ikut merayakan perayaan hari besar mereka dianggap intoleran. Cerdas harus, bahwa toleransi itu tidak harus dengan mengucapkan selamat dan ikut merayakannya. Bukankah syahadat umat lslam telah jelas hanya mengakui satu Tuhan yang disembah, sedang agama lain mempunyai Tuhan berbilang. Apalagi, dalam surat Al-Kafirun sudah tegas dinyatakan, “Kamu bukan penyembah apa yang aku sembah, dan aku bukan penyembah apa yang kamu sembah. Untukmu agamamu dan untukku agamaku.”
Jika tidak melandaskan perbuatan dengan Al-Qur’an, dipastikan akan tersesat, karena Ia adalah petunjuk sebagaimana tertera dalam surat Al-Baqarah 186. Kita saksikan hari ini umat lslam banyak terperosok dalam kemusyrikan karena opini yang diaruskan oleh moderasi beragama, bahwa toleran itu mengucapkan selamat dan mengikuti perayaan hari besar agama lain. Sungguh, ini adalah kejahilan yang tersistemik dan berhasil menjerumuskan jutaan umat lslam pada perangkap mereka.
Jadi, jelas bahwa toleransi itu berbeda dengan tololransi. Dalam sistem sekularisme demokrasi, toleransi yang dimaksud menabrak syariat. Maka, ini disebut tololransi. Sudah jelas, aturan mainnya diubah sehingga menjadi kabur. Inilah sikap yang dilarang lslam bahwa yang hak dan batil itu sangat jelas perbedaannya, tidak boleh diambil jalan tengah.
Sikap tololransi juga tampak pada penjagaan gereja, membersihkan gereja bersama-sama, hingga yang ngeri adalah membaca salawat Nabi, setelah itu dilanjutkan perayaan natal bersama. Jujur, ada sebagian dari umat kristiani sendiri yang tidak merasa perlu orang Islam ikut merayakan hari besar mereka, tetapi ada sebagian umat Islam yang sok untuk bersama-sama terlibat di dalamnya, atas nama toleransi.
Kenapa semua itu terjadi? Karena Islam hanya dipahami secara sempit sekadar hubungan manusia dengan Allah saja, yaitu ibadah mahdah. Sedangkan dalam urusan yang lebih luas, terkait pergaulan masyarakat, ekonomi, pemerintahan, dll, umat Islam menerapkan sistem sekularisme kapitalis. Sistem itu berbuah kebebasan, bebas beragama atau tidak beragama, bebas memiliki apa pun, baik halal atau haram, bebas bertingkah laku, bebas berpendapat apa saja. Agama tidak menjadi standar perbuatan dalam sistem ini.
Padahal, lslam sebagai sistem ketika diterapkan pasti benar dan baik untuk siapa pun, baik muslim atau nonmuslim sampai kapan pun, karena berasal dari Sang Pencipta yang tahu kebaikan untuk ciptaan-Nya. Terbukti saat lslam memimpin wilayah Andalusia atau Spanyol selama 700 tahun, tiga agama, yaitu Yahudi, Nasrani, dan lslam hidup damai. Toleransi terlaksana dengan baik tanpa harus mencampuradukkan keimanan agama satu dengan yang lain.
Namun, sejak kesatuan umat lslam di bawah kepemimpinan seorang Khalifah diruntuhkan tahun 1924 M, lslam selalu menjadi objek sasaran musuh-musuhnya yang tidak ingin kebangkitannya kembali. Mereka berupaya membuat makar agar umat lslam menjauhi syariatnya yang mulia, hingga ahirnya umat lslam tidak tahu mana yang hak dan mana yang batil. Mereka mudah di adu domba dan terombang-ambing dalam kebimbangan hingga terjerumus pada kesesatan.
Yang pasti ada upaya tersistemik agar umat lslam senantiasa mengikuti gaya hidup mereka. Umat harus sadar bahwa Allah SWT telah memperingatkan hal tersebut dalam Qur’an surat Al-Baqarah 120:
“Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar)”. Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu.”
Allahu a’lam.
Oleh: Umi Hanifah
Sahabat Tinta Media
![]()
Views: 25












