Toleransi Kebablasan Gambaran Tergelincirnya Akidah

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
WhatsApp
Twitter
Telegram
Threads
Toleransi Kebablasan Gambaran Tergelincirnya Akidah

 

Tinta Media – Indonesia memiliki keanekaragaman
suku, golongan, ras, agama, dan budaya. Keragaman ini menjadi ciri khas negeri,
dengan keunikan yang dimiliki maka, sikap saling menghargai dan menghormati
tidak terlepas dari culture masyarakat. Toleransi menjadi perbincangan
yang terus digemborkan akhir-akhir ini, menurut W.J.S. Poerwadarminta toleransi
merupakan Sebuah sifat atau sikap menenggang (menghargai, membiarkan,
membolehkan) pendapat, pandangan, kepercayaan, kebiasaan, kelakuan, dan lain
sebagainya yang berbeda dengan pendiriannya sendiri.

Kunjungan Paus Fransiskus ke
Indonesia ramai diperbincangkan baik dari segi penampilan beliau yang sederhana
terlihat dari sepatu yang digunakan, kendaraan yang beliau pilih untuk
mengantarkannya, beliau sosok ramah dan bersahaja terlihat saat bercengkerama
dengan warga hingga sosok beliau yang taat dengan ajaran agamanya. Beliau
seorang paus sekaligus kepala negara di negara Vatikan.

Terlepas dari pemaparan di atas, ada
hal menarik yang sangat sayang dilewatkan yaitu berkunjungnya Paus Fransiskus
ke masjid Istiqlal Jakarta. Terlihat bagaimana sikap dari Imam besar Masjid
Istiqlal memperlakukan seorang non muslim. Sangat ramah sampai menjabat tangan
dan menciumnya, begitu pula orang nomor 1 di negeri kita melakukan hal serupa.
Memang jika kita melihat dengan kedua mata dan tidak meresapinya dalam-dalam
hal ini terlihat amat indah dan sejuk di pandang mata melihat bagaimana seorang
tokoh masyarakat menghormati dan menghargai non muslim atas dalih toleransi.

Apa jadinya jika sikap ini disalah
artikan oleh kaum muslimin yang memfotokopi perlakuan imam besar dan orang
nomor 1 di negeri kita tanpa mencari tahu terlebih dahulu apakah diperbolehkan
dalam syariat untuk berlemah lembut kepada non muslim. Toleransi yang
dipertontonkan kepada kaum muslimin dihias dengan begitu cantik dan lembut
hingga yang melihat terhipnotis oleh ketenteramannya. Boleh jadi dibalik
toleransi yang beredar menjadi bentuk toleransi kebablasan hingga sedikit
banyaknya mempengaruhi akidah kaum muslimin. Memang tidak serta merta mengubah namun,
laksana batu yang terus ditetesi air hujan lambat laun akan berlubang dan
rapuh. Begitu pula dengan akidah   kaum muslimin hanya butuh waktu saja maka
akidah pelan-pelan akan tergelincir.

Apabila kita merujuk pada definisi
toleransi menurut W.J.S. Poerwadarminta yang mengatakan toleransi berupa sikap
menghargai, membiarkan, dan membolehkan. Namun, toleransi saat ini mengarah ke Tasyabbuh
mengikuti hal-hal yang dilakukan orang kafir dengan dalih toleransi. Kita
kembali mengintip sejarah Islam, bagaimana Islam menjunjung tinggi toleransi. Saat
Islam menguasai sepertiga dunia tidak ada yang tidak kenal dengan Daulah Islam.
Dari segi keilmuan, peraturan, kesejahteraan, kekuatan militer bahkan hal-hal
kecil seperti akhlak dan toleransi dalam Islam juga sangat dipandang baik.

Daulah Islam dalam memperluas
wilayahnya dengan metode futuhat dengan tujuan menyampaikan dakwah Islam
kepada orang-orang non muslim tanpa ada paksaan dan intimidasi sedikit pun dari
kaum muslimin. Wilayah yang didatangi utusan-utusan khalifah untuk memfutuhat
dan menyampaikan dakwah Islam tidak dengan kekerasan, menyampaikan Islam dengan
ihasan dan ahsan menawarkan kepada non muslim untuk ikut ajaran Islam. Jika non
muslim enggan dan menolak maka mereka ditawarkan untuk hidup di bawah naungan
Daulah Islam mendapat perlindungan dan hak yang sama dengan kaum muslimin
dengan syarat membayar jizyah.

Mereka yang tinggal dan tunduk di
bawah naungan Islam diberikan kebebasan untuk menjalankan aktivitas keagamaan
mereka tanpa kaum muslimin mengganggu atau pun mengikutinya. Mereka diberikan
wilayah khusus di dalam wilayah Islam untuk membangun tempat peribadatan mereka
dan melakukan segala jenis aktivitasnya. Namun mereka juga dipersilakan untuk
beraktivitas di tengah-tengah lingkungan kaum muslimin dengan ketentuan untuk
para perempuan non muslim berpakaian layaknya pakaian seorang Muslimah untuk
menutup aurat mereka sehingga tidak menimbulkan syahwat dan fitnah ketika
beraktivitas ditengah-tengah lingkungan kaum muslimin.

Begitulah sedikit gambaran bentuk
toleransi kaum muslimin yang telah dipraktikkan jauh sebelum praktik toleransi
ala sekuler-kapitalis merambah dunia kaum muslimin. Rasulullah Saw., bersabda
dalam sebuah hadits dari Ibnu Abbas berkata: ditanyakan kepada Rasulullah : Agama
manakah yang paling dicintai oleh Allah Swt? Maka beliau bersabda: Agama yang
lurus lagi toleran.
(H.R. Bukhari)

Banyak sekali hal-hal toleransi yang
sudah dicontohkan oleh Rasulullah, para sahabat untuk kaum muslimin di zaman
ini. Kita sebagai kaum muslimin hendaknya kembali kepada Syariat Islam dalam
segala aspek perkara termasuk perkara toleransi ditengah-tengah umat agar tidak
menjadi umat yang Tasyabbuh dan bertaklid buta.

Wallahu A’lam Bishshawwab

Oleh : Rika Ishvasa, Aktivis Muslimah

Loading

Views: 16

TintaMedia.Com : Menebar opini Islam di tengah-tengah umat yang terkungkung sistem kehidupan sekuler.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TULISAN TERBARU

SEDANG TRENDING

MENANGKAN OPINI ISLAM

JADWAL SHOLAT DI KOTA ANDA