Tinta Media – Kembali berulang, seruan toleransi yang bertentangan dengan Islam۔ Bahkan, seruan diserukan oleh menteri agama, kepala daerah, dan pejabat lainnya۔ Seruan toleransi terus digaungkan ke tengah-tengah masyarakat yang mayoritas muslim ini seperti yang diberitakan jawapos۔com Jum’at 13/12/2024.
Wali kota Surabaya Eri Cahyadi menegaskan pentingnya kerja sama semua pihak untuk memastikan keamanan dan kenyamanan warga, terutama umat Kristiani yang merayakan Natal۔ Eri menyampaikan terkait seluruh gereja di Surabaya untuk memastikan pengamanan berlangsung optimal. Tujuannya adalah untuk menjaga keamanan. Karena itu, ia menggandeng berbagai organisasi dan kepolisian, serta ormas, terkait keamanan Natal dan tahun baru.
Kemudian diberitakan juga di radarsampitjawapos.com, Minggu 15 Desember 2024 bahwa Menteri Agama Republik Indonesia Nasaruddin Umar mengajak seluruh masyarakat untuk terus menjaga keharmonisan antara umat beragama. Ia juga menekankan pentingnya saling mendukung dan menghormati dalam merayakan hari besar keagamaan masing-masing. Menurutnya, perbedaan itu anugerah sebagai sesuatu yang membuat kehidupan kita lebih indah.
Nasaruddin juga mengingatkan bahwa pentingnya menjaga toleransi adalah bagian penting indentitas bangsa Indonesia۔ Ia mengajak masyarakat untuk memanfaatkan momen natal dan tahun baru sebagai waktu untuk memperkuat nilai-nilai kebersamaan.
Selain itu, Ketua Komisi DPRD kota Banjarmasin, Aliansyah turut mengimbau masyarakat untuk menjaga suasana perayaan yang aman dan tertib dan meningkatkan toleransi.
Toleransi yang senantiasa digaungkan itu nyatanya ditujukan kepada umat Islam۔ Karena itu, umat Islam harus mau bertoleransi sesuai keinginan mereka, sekalipun bertentangan dengan akidah Islam۔ Ini terjadi karena tidak ada pemahaman akan tegasnya penguasa dan pejabat negara dalam menjaga urusan umat, termasuk dalam hal tugas penjagaan negara atas akidah umat.
Di sinilah seharusnya umat Islam paham makna toleransi yang sebenarnya dalam Islam. Umat harus cerdas, jangan terjerumus pada makna toleransi yang justru diarahkan pada pluralisme agama yang menganggap semua agama benar۔ Ini jelas berbahaya dan bertentangan dengan keyakinan seorang muslim, seperti yang tertera di surat Ali Imran ayat 19 dan 85, Allah berfirman,
“Sesungguhnya agama di sisi Allah ialah Islam. Barang siapa yang mencari agama selain Islam dia tidak akan diterima.”
Inilah yang harusnya yang dipahami oleh semua umat Islam khususnya para penguasa bahwa hanya Islam agama yang benar dan Allah SWT ridhai.
Menjadikan HAM sebagai pijakan dan memasifkan kampanye moderasi beragama sangatlah berbahaya. Hal tersebut dapat merusak akidah umat sehingga membuat umat makin jauh dari pemahaman yang lurus.
Nyatanya, moderasi melonggarkan aturan syariat Islam dan meradikalkan hukum-hukum Islam۔ Sehingga, umat Islam bebas berperilaku mengarah pada sekularisme۔
Maka, umat Islam sangat membutuhkan reminder karena kecendrungan masyarakat yang semakin longgar. Di sinilah umat harus ada yang menyerukan atau memahamkan pada aturan Islam dan batas-batas teloransi۔ Karena di sisi lain, sebagian umat ada yang tidak paham dengan perayaan tahun baru dan ucapan selamat natal۔ Adapun yang sudah paham, masih saja ada yang menjalankan karena tidak adanya penjagaan akidah dari negara serta sanksi yang tegas.
Islam memiliki definisi yang jelas soal pelanggaran hukum syara’. Dalam Islam, segala sesuatu yang bertentangan dengan ketetapan Allah dan Rasul-Nya disebut pelanggaran atau kemaksiatan. Aktivitas meyakini dan mengadopsi ajaran di luar Islam adalah pelanggaran hukum syara’, seperti penggunaan atribut agama lain, pengucapan selamat natal, maupun perayaan tahun baru. Maka, umat bukan hanya butuh penyeru dan yang memahamkan ajaran Islam saja, tetapi juga butuh institusi negara untuk menerapkannya۔
Islam memiliki konsep yang jelas dalam interaksi dengan agama lain, seperti yang tertera di surat Al-Kafirun ayat 1-6, juga Al-Baqarah ayat 42 dan 256.
Islam sudah mengajarkan dan mengatur perihal teloransi sejak pertama kali datang. Maka, dalam hal ini tidak layak berbagai aktivitas toleransi dilakukan oleh umat Islam yang menyerupai aktivitas di luar Islam, sebagaimana sabda Rasulullah SAW,
“Barang siapa menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk golongan mereka۔” (HR۔ Abu Dawud)
Islam menjadikan pemimpin dan pejabat negara senantiasa memberikan nasihat takwa, serta menguatkan akidah dan keimanan ke tengah-tengah masyarakat۔ Dengan begitu, umat akan terkondisikan untuk tetap terikat dengan aturan Islam, khususnya di momen-momen krusial yang berpotensi membahayakan akidah seperti Nataru.
Kepemimpinan Islam tetap memberikan toleransi dan kebebasan kepada nonmuslim untuk memeluk dan menjalankan agamanya, termasuk merayakan hari besar. Mereka tidak akan dipaksa untuk memeluk Islam. Mereka bahkan mendapatkan perlindungan dari Islam karena mereka adalah warga yang berstatus ahlu dzimmah, yakni orang nonmuslim yang tunduk di bawah sistem Islam dengan tetap memeluk agamanya. Mereka berkewajiban membayar jizyah dan tunduk pada sistem pemerintahan Islam.
Demikianlah gambaran teloransi dalam sistem kehidupan Islam, yakni tanpa harus mencampuradukkan ajaran Islam dengan agama lain. Wallahu a’lam bish shawwab.
Oleh: Yanti Yulianti
Sahabat Tinta Media
![]()
Views: 13
















