Tinta Media – Saat ini umat Islam dihadapkan pada seruan toleransi yang bertentangan dengan ajaran Islam. Sikap kita terhadap perayaan Natal menjadi indikator toleransi yang sesungguhnya. Toleransi yang diserukan saat ini mengandung risiko pencampuran ajaran Islam dengan ide-ide non-Islam yang jelas merusak akidah. Hal serupa terjadi saat pergantian tahun, yaitu ketika masyarakat muslim mengadakan pesta yang sarat dengan aktivitas maksiat.
Negara seharusnya berperan sebagai penjaga akidah۔ Namun kenyataannya, umat harus bertindak sendiri untuk menjaga keyakinan dan generasi mereka. Menghadapi kerusakan moral yang parah, kaum muslimin harus aktif melakukan penyadaran.
Setiap muslim wajib memegang teguh Islam, serta menjaga identitas Islam dalam seluruh aspek kehidupan, terutama peribadatan. Karena itu, mengikuti perayaan dan mengucapkan selamat Natal merupakan tindakan yang menciderai identitas Islam dan diharamkan.
Kemaksiatan yang merajalela akan menarik bala Allah Ta’ala, tidak hanya bagi pelaku, tetapi juga bagi yang membiarkan kemaksiatan teri. Oleh karena itu, umat Islam harus bersatu dalam menjaga akidah dan moralitas, khususnya negara dengan seluruh struktur kenegaraan yang berfungsi sebagai pengurus, penjaga, atau pelindung rakyat dari berbagai hal yang merusak dan berbahaya۔ Wallahu ‘alam bisshawab.
Oleh: Nilam Astriati
Sahabat Tinta Media
![]()
Views: 23
















