Gencatan Senjata: Jeda dalam Genosida yang Terencana

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
WhatsApp
Twitter
Telegram
Threads

Tinta Media – Ketika gencatan senjata diumumkan dalam konflik Palestina, dunia seolah menyambutnya dengan lega. Para pemimpin dunia bersorak. Media sekuler menyanjung diplomasi dan organisasi internasional mengklaim keberhasilan dalam meredakan ketegangan.

Gencatan senjata antara Hamas dan Israel yang diumumkan pada 15 Januari 2025 telah menarik perhatian berbagai pihak, termasuk Indonesia yang menyambut baik kesepakatan tersebut.

Menteri Luar Negeri Indonesia Sugiono menekankan pentingnya implementasi segera dan komprehensif dari perjanjian ini untuk mencegah jatuhnya korban lebih lanjut.

Namun, pandangan skeptis muncul dari kalangan akademisi. Hasbi Aswar, pengamat hubungan internasional dari Universitas Islam Indonesia menyatakan pesimismenya terhadap kepatuhan para Zionis dalam menjalankan gencatan senjata ini, mengingat sejarah panjang pelanggaran perjanjian oleh mereka dan ketidakmampuan gencatan senjata sebelumnya dalam menghentikan penderitaan rakyat Palestina. (Voaindonesia.com, 17-01-2025).

Fakta berbicara lain. Gencatan senjata bukanlah kemenangan rakyat Palestina, melainkan strategi entitas Zions untuk menyusun kembali kekuatan setelah gagal mematahkan perlawanan rakyat Gaza. Bahkan, dalam hitungan jam setelah gencatan senjata diberlakukan, tentara Zionis kembali melancarkan serangan brutal, membunuh rakyat Palestina yang tak bersenjata. Ini bukan perundingan damai. Ini hanyalah jeda dalam genosida yang terencana.

Kapitalisme Sekuler, Biang Keladi Nestapa Palestina

Apa yang menjadi penyebab konflik ini tak kunjung usai? Jawabannya terletak pada sistem kapitalisme sekuler yang mengendalikan tatanan dunia saat ini. Sistem ini tidak mengenal keadilan, hanya kepentingan ekonomi dan politik yang menjadi landasan setiap kebijakan.

Amerika Serikat, yang selalu mengklaim sebagai mediator, nyatanya adalah penyandang dana utama entitas Zionis. Setiap tahunnya, miliaran dolar mengalir ke Tel Aviv dalam bentuk bantuan militer dan ekonomi. Perusahaan senjata di Barat meraup keuntungan dari perang ini, sementara rakyat Palestina menjadi korban. Sistem kapitalisme tidak pernah mengenal keadilan. Mereka hanya mengenal eksploitasi dan dominasi.

Begitu pula dengan demokrasi liberal yang diklaim sebagai sistem terbaik dalam menyelesaikan konflik. Apakah sistem ini telah membawa keadilan bagi rakyat Palestina? Tidak. Demokrasi hanya menjadi alat bagi segelintir elit untuk mempertahankan kekuasaan mereka. Lobi Zionis di parlemen-parlemen Barat memastikan bahwa kepentingan entitas Zionis selalu menjadi prioritas, sementara suara rakyat yang menyerukan keadilan diabaikan.

Keteguhan Rakyat Gaza, Tamparan bagi Kepengecutan Penguasa Muslim

Di tengah kelaparan, kehancuran, dan kehilangan, rakyat Gaza tetap teguh. Mereka tidak tunduk kepada Zionis, meski pemimpin-pemimpin mereka gugur syahid. Keteguhan mereka menjadi tamparan keras bagi para penguasa muslim yang justru memilih menjadi perpanjangan tangan Barat.

Mesir menutup perbatasan Rafah, mencegah bantuan masuk ke Gaza. Yordania dan Arab Saudi tetap berpegang pada perjanjian damai dengan Zionis. Turki dan Iran hanya berkoar dalam pidato, tanpa ada tindakan nyata. Para penguasa ini lebih takut kepada sanksi Amerika daripada murka Allah.

Sejarah telah mencatat bahwa penjajah tidak akan pernah menyerahkan Palestina melalui perundingan. Rasulullah ﷺ tidak membebaskan Makkah dengan diplomasi, tetapi dengan kekuatan. Salahuddin Al-Ayyubi tidak merebut kembali Baitul Maqdis dengan resolusi PBB, tetapi dengan jihad. Namun hari ini, para penguasa muslim justru sibuk membujuk rakyat Palestina agar menerima solusi dua negara yang nyata-nyata hanya menguntungkan Zionis.

Solusi Hakiki: Jihad dan Khilafah

Gencatan senjata tidak akan mengubah apa pun. Sejarah membuktikan bahwa entitas Zionis hanya memahami satu bahasa, yaitu kekuatan. Selama umat Islam tetap tunduk pada sistem kapitalisme sekuler dan demokrasi, Palestina akan tetap menjadi ladang pembantaian.

Solusi hakiki hanya ada dalam sistem Islam yang pernah diterapkan oleh Rasulullah ﷺ dan para Khulafaur Rasyidin. Islam tidak mengenal batas-batas nasionalisme yang memecah belah umat. Islam tidak mengandalkan diplomasi pengecut yang menyerahkan urusan umat kepada musuh-musuh Allah. Islam memerintahkan jihad sebagai satu-satunya jalan untuk membebaskan tanah kaum muslimin dari cengkeraman penjajah.

Allah telah menjanjikan kemenangan bagi umat Islam, tetapi kemenangan itu tidak akan datang dengan tunduk kepada sistem kufur. Umat Islam harus bangkit, menanggalkan demokrasi yang gagal melindungi mereka, dan kembali kepada sistem yang dijanjikan oleh Allah SWT, Khilafah Islamiyah.

Hanya dengan tegaknya Khilafah, tentara-tentara muslim akan bergerak membebaskan Palestina, sebagaimana yang dilakukan oleh para pemimpin Islam terdahulu. Hanya dengan Khilafah, penjajah Zionis akan dicabut hingga ke akar-akar. Umat Islam akan kembali menjadi satu tubuh yang kokoh, siap menghadapi musuh-musuh mereka dengan kekuatan yang hakiki.

Palestina tidak akan bebas dengan diplomasi atau pun resolusi PBB. Palestina hanya akan bebas dengan jihad di bawah naungan Khilafah. Inilah solusi sejati, yang telah terbukti dalam sejarah. Solusi ini akan membawa kemenangan hakiki bagi umat Islam.

 

 

 

Oleh: Novi Ummu Mafa
Sahabat Tinta Media

Loading

Views: 27

TintaMedia.Com : Menebar opini Islam di tengah-tengah umat yang terkungkung sistem kehidupan sekuler.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TULISAN TERBARU

SEDANG TRENDING

MENANGKAN OPINI ISLAM

JADWAL SHOLAT DI KOTA ANDA