Hanya dengan Persatuan Umat Islam, Penderitaan Perempuan dan Anak-Anak Palestina Berakhir

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
WhatsApp
Twitter
Telegram
Threads

Tinta Media – Penderitaan warga Palestina, khususnya anak-anak dan perempuan, terus terjadi seakan tiada henti. Menurut laporan investigasi Al Jazeera yang berjudul The Rest of the Story, setidaknya ada 2.842 warga Palestina yang hilang sejak agresi dimulai pada Oktober 2023. Israel diduga telah menggunakan senjata termal dan termobarik yang menyebabkan ribuan warga di Jalur Gaza, Palestina, kehilangan nyawa. Mereka dianggap menjadi korban dari serangan senjata tersebut yang mampu menghancurkan target tanpa meninggalkan jejak selain percikan darah atau potongan kecil tubuh.

Menurut kesaksian Yasmin Mahani, seorang ibu yang tinggal di Kota Gaza, ia adalah salah satu dari ribuan orang yang menyaksikan hilangnya manusia tanpa jejak setelah serangan Israel. Pada pagi hari, 10 Agustus 2024, Mahani berjalan melalui puing-puing Sekolah Al-Tabin yang masih berasap setelah dibombardir oleh Israel.

Ia mencari anak dan suaminya yang berada di lokasi saat serangan berlangsung. Di lokasi itu, Mahani berhasil menemukan suaminya. Namun, putranya, Saad, tidak terlihat. Mahani berkeliling mengunjungi rumah sakit, pemakaman, dan masjid, tetapi tidak berhasil menemukannya. Ia hanya menemukan potongan daging dan darah.

Apa yang dimaksud dengan senjata termal dan termobarik? Para pakar dan saksi mencatat dampak yang ditimbulkan oleh penggunaan senjata termal dan termobarik secara sistematis. Senjata yang dilarang di tingkat internasional ini dapat mencapai suhu lebih dari 3.500 derajat Celsius.

Vasily Fatigarov, seorang ahli militer Rusia, menjelaskan bahwa senjata termobarik tidak hanya membunuh, tetapi juga menghilangkan materi. Berbeda dengan bahan peledak konvensional, senjata ini mengeluarkan awan berbahan bakar yang menciptakan bola api besar serta efek vakum.

Dr. Munir Al Bursh, Direktur Jenderal Kementerian Kesehatan Palestina di Gaza, menjelaskan tentang efek biologis dari suhu ekstrem tersebut pada manusia yang terdiri atas 80 persen air. Ia mengungkapkan bahwa titik didih air adalah 100 derajat Celsius. Jaringan tubuh akan menguap dan menjadi abu. Penyelidikan menunjukkan bahwa panas yang sangat tinggi ini sering kali dihasilkan oleh tritonal, campuran TNT dan bubuk aluminium yang terdapat dalam bom buatan Amerika seperti MK-84 (cnnindonesia.com, 14/02/2026).

Wanita dan anak-anak di Palestina, khususnya di Gaza, berada dalam krisis kemanusiaan yang sangat serius akibat konflik yang berkepanjangan. Malnutrisi di kalangan anak-anak sangat memprihatinkan, dengan puluhan ribu anak memerlukan perawatan mendesak. Kekurangan pasokan medis, susu formula, dan air bersih telah mengakibatkan banyak bayi dan anak-anak kehilangan nyawa akibat kelaparan, dehidrasi, serta penyakit yang tidak terobati.

Banyak anak-anak di Gaza mengalami trauma akibat suara ledakan, kehilangan orang tua atau anggota keluarga, serta hidup sebagai pengungsi di antara reruntuhan bangunan. Harapan mereka untuk masa depan hampir menghilang karena situasi yang penuh ketidakpastian.

Lebih dari 64.000 anak dilaporkan meninggal atau mengalami cedera selama konflik yang berkepanjangan. Anak yang selamat harus menghadapi kenyataan hidup yang baru setelah kehilangan bagian tubuh mereka akibat serangan.

Kondisi wanita Palestina menghadapi tekanan ganda, baik sebagai korban langsung maupun sebagai pengasuh yang berjuang untuk mendapatkan makanan dan layanan kesehatan di tengah runtuhnya sistem pendukung. Mereka juga berisiko menghadapi masalah kesehatan reproduksi yang serius akibat hancurnya fasilitas kesehatan dan kurangnya akses terhadap sanitasi.

Ratusan wanita melahirkan setiap harinya di tempat-tempat yang tidak higienis seperti tenda atau pusat bantuan, sering kali tanpa menggunakan obat bius saat menjalani operasi caesar. Banyak ibu hamil mengalami masalah kekurangan gizi yang serius, yang secara langsung memengaruhi kesehatan bayi yang baru lahir serta kemampuan mereka untuk menyusui.

Hancurnya infrastruktur, seperti sekolah dan pusat kesehatan yang seharusnya berfungsi sebagai tempat perlindungan, kini rusak atau dialihfungsikan menjadi penampungan sementara yang padat dan tidak bersih sehingga menghambat proses pendidikan dan meningkatkan kemungkinan terjadinya wabah penyakit.

Serangan yang dilakukan oleh Israel terhadap penduduk sipil, termasuk perempuan dan anak-anak, merupakan suatu kejahatan terstruktur. Meskipun dunia menyadari bahwa ini adalah pelanggaran hak asasi manusia, tidak ada satu pun pihak yang dapat menghentikannya. Penggunaan senjata termobarik oleh Israel memperlihatkan kebiadaban modern dan ketidakberperikemanusiaan. Hal ini semakin menunjukkan bahwa tindakan Israel merupakan bentuk genosida.

Tindakan kriminal Israel tidak dapat dibiarkan dan tidak dapat diselesaikan dengan cara damai. Pembunuhan dan kerusakan yang ditimbulkan telah melewati batas dan harus dihadapi dengan jihad oleh pasukan kaum Muslim. Seharusnya umat Islam, terutama pemimpin negeri Islam, sadar bahwa tanah Palestina adalah tanah umat Islam yang harus dijaga karena merupakan tanah yang diberkahi, tempat para nabi, serta lokasi Masjidilaqsa, yang dibebaskan oleh Khalifah Umar bin Khaththab dan Sultan Shalahuddin Al-Ayyubi.

Hari ini umat Islam terpecah belah dalam berbagai negara karena sekat nasionalisme. Mereka merasa aman dan tenang di negara masing-masing tanpa memedulikan nasib umat Islam di belahan dunia lain. Syekh Taqiyuddin an-Nabhani menjelaskan dalam kitab Nizhamul Islam halaman 45 bahwa ikatan kebangsaan atau nasionalisme adalah ikatan yang lemah, mempertahankan negerinya sendiri, bersifat emosional, dan tidak bisa dijadikan pengikat antara sesama manusia menuju kebangkitan dan kemajuan.

Dalam Islam, memerangi Israel atau penjajah yang telah membunuh umat Islam adalah suatu kewajiban. Tidak boleh ada upaya untuk berkompromi, menyerah, atau memberikan kesempatan bagi Israel untuk menguasai negara-negara Muslim. Dalam kitab Mafahim halaman 126–127, Syekh Taqiyuddin an-Nabhani menerangkan bahwa umat Islam harus memerangi penjajah dengan peperangan tanpa basa-basi, menuntut penjajah keluar dari negeri-negeri Islam, dan memerangi siapa saja yang membela berbagai bentuk penjajahan.

Untuk membebaskan saudara kita di Palestina dibutuhkan peperangan secara militer dengan jihad fi sabilillah. Hal ini menuntut kesatuan dan kekuatan umat Islam di seluruh dunia. Untuk itu, umat Islam harus bersatu di atas kepemimpinan yang menyatukan kekuatan umat Islam secara global dalam bingkai Khilafah. Khilafah adalah sistem kepemimpinan umum bagi seluruh umat Islam di dunia yang bertujuan menegakkan hukum syariat Islam dan mengelola urusan dunia seperti yang telah dicontohkan oleh Rasulullah saw. Oleh karena itu, perjuangan untuk menegakkan sistem Islam dan kepemimpinan Islam sangat mendesak. Wallahualam bissawab.

Oleh: Azizah
Sahabat Tinta Media

Loading

Views: 17

TintaMedia.Com : Menebar opini Islam di tengah-tengah umat yang terkungkung sistem kehidupan sekuler.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TULISAN TERBARU

SEDANG TRENDING

MENANGKAN OPINI ISLAM

JADWAL SHOLAT DI KOTA ANDA