Tinta Media – Barometer kemajuan suatu bangsa dapat dilihat dari kemajuan pendidikan dan kondisi kesehatan masyarakat. Dua hal ini wajib disediakan dan difasilitasi penuh oleh negara karena mengentaskan kemiskinan negara membutuhkan individu-individu yang cerdas, terampil, kreatif, inovatif, dan kompetitif. Namun, individu tersebut tidak akan terbentuk jika tidak dibarengi dengan kesehatan fisik dan jiwa yang amat baik.
Seperti yang dilansir pada halaman Media Indonesia Nusantara bahwa sekolah rakyat di Provinsi Kalimantan Selatan segera beroperasi, sebanyak 225 peserta didik baru sekolah rakyat yang terdiri atas 125 siswa SMA dan 100 siswa SMP telah diterima sebagai peserta didik baru dan dipastikan semua biaya sekolah gratis.
Sekolah rakyat Kalimantan Selatan ini berbasis boarding (asrama) untuk sementara mereka ditempatkan di BPPKS milik Kementerian Sosial di Banjarbaru. Kemudian untuk tenaga pengajar sebanyak 50 orang telah direkrut. Proses pembangunan sekolah rakyat pun segera diproses, sebesar Rp250 miliar digelontorkan dari APBN Kementrian Sosial, sedangkan untuk penyediaan lahan disediakan oleh Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan. (Media Indonesia, 2/7/2025).
Ini sebuah angin segar bagi dunia pendidikan khususnya di Kalimantan Selatan. Ada sebuah gebrakan baru dengan membuat sekolah rakyat dengan tujuan membantu masyarakat yang tidak mampu agar dapat merasakan nikmat di bangku sekolah. Sekilas memang sebuah gebrakan yang amat mulia dan selaras dengan cita-cita bangsa Indonesia yaitu “Mencerdaskan Kehidupan Bangsa” menggelontorkan dana untuk pendidikan memanglah hal yang wajar dan seharusnya memang demikian.
Namun, bila kita telisik dari berbagai aspek, bukankah untuk bantuan bagi masyarakat tidak mampu agar bisa sekolah mereka disediakan fasilitas beasiswa KIP (Kartu Indonesia Pintar) agar bisa mengenyam pendidikan di sekolah negeri, honor guru honorer masih jauh dari kata sejahtera? Masih ada sekolah-sekolah di daerah terpencil Kalimantan Selatan yang membutuhkan bantuan suntikan dana untuk fasilitas sarana dan prasarana serta akses untuk menjangkau sekolah tersebut.
Apabila kita berkaca pada proyek-proyek yang ada di negeri ini amat riskan dan tak lepas dari kata “Korupsi”. Dana sebesar Rp250 miliar termasuk jumlah fantastis di tengah efisiensi anggaran di segala aspek publik, sangat tidak dipungkiri para tikus-tikus berdasi mengambil kesempatan di setiap celahnya. Selain riskan dari korupsi, pembangunan sekolah rakyat ini bisa dikatakan belum tepat sasaran pasalnya, masih banyak sekolah-sekolah yang membutuhkan suntikan dana tetapi membangun sekolah berbasis sekolah rakyat sungguh menghabiskan anggaran tidak pada tempatnya.
Islam mengatur pembangunan infrasturktur bentuk murni pelayanan negara kepada masyarakat. Penerapannya telah dicontohkan oleh beberapa khalifah dengan sistem khilafah. Seperti Khalifah Umar bin al-Khaththab mendirikan sebuah departemen besar untuk membangun waduk-waduk, tangka-tangki, kanal-kanal, dan pintu air agar mempermudah distribusi air sehingga seluruh masayarakat dapat mengaksesnya. (Strategi Pembangunan Infrastruktur dalam Islam – Al-Wa’ie, 3/7/2025).
Khalifah mengemban penuh amanahnya sebagai fasilitator pelayanan publik, infrastruktur dibangun berdasarkan dua hal yakni infrastruktur yang sangat dibutuhkan apabila tidak dibangun maka menimbulkan bahaya bagi umat dan yang kedua infrastruktur yang dibutuhkan namun sifatnya tidak mendesak. Biaya operasional pembangunan infrastruktur diambil dari kas Baitul Mal, tidak mengutamakan pajak dari rakyat. Amat berbeda dengan sistem sekuler-kapitalis yang mengambil pajak merata kepada rakyatnya.
Pembangunan infrastruktur yang merata, tepat guna, dengan pembiayaaan yang adil dalam Islam merupakan bukti paripurna sistem Khilafah Islamiyah. Berpaling dari sistem Islam maka semakin terlihat pembangunan infrastruktur menjadi sebuah proyek kekuasaan untuk menyuntik kantong para elit sampai bengkak. Sungguh amat jauh dari fungsi sosok pemimpin yang mulia, sebagai sarana untuk menunaikan kewajiban sebagai (ra’yin) pelayan umat serta meraih ridha Allah ta’ala.
Wallahu A’lam bishshawab.
Oleh : Rika Ishvasa
Penulis dan Aktivis Muslimah
Views: 61
















