Tinta Media – Berkibarnya bendera Jolly Roger, simbol khas dari anime One Piece jelang Hari Ulang Tahun Kemerdekaan RI ke-80 kian viral di tengah-tengah publik. Sebagian masyarakat menilai pengibaran bendera Jolly Roger sebagai bentuk ekspresi budaya pop. Namun, tak sedikit pula yang menafsirkan simbol itu sebagai kritik sosial terhadap kondisi bangsa yang dinilai penuh dengan ketidakadilan dan ketimpangan. Bendera One Piece juga dianggap sebagai simbol rakyat cinta negeri ini, tetapi tidak setuju dengan sistem yang ada. (BBC, 02/08/2025)
Dalam Undang-undang Nomor 24 Tahun 2009 tentang Bendera, Bahasa, Lambang Negara dan Lagu Kebangsaan, bahwa pengibaran bendera Merah Putih wajib dikibarkan selama bulan Agustus. Tidak ada aturan yang secara eksplisit melarang pengibaran bendera lain, asalkan bendera negara dikibarkan lebih tinggi dan tidak direndahkan, serta ukuran bendera lain lebih kecil dibandingkan bendera negara.
Agenda Umat Islam
Merespons fenomena tersebut, jangan sampai umat Islam menjadi latah. Umat harus punya agenda sendiri. Apa agendanya? Muhasabah lil hukam. Muhasabah kepada penguasa itu merupakan suatu kewajiban yang datang bukan dari manusia, tetapi dari Zat Yang Maha Pencipta dan Pengatur. Dia adalah Allah Swt.
Sebagaimana firman-Nya yang termaktub di dalam Al-Qur’an: “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut dikarenakan oleh ulah tangan manusia supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari akibat perbuatan mereka agar mereka kembali.“ (QS ar-Rum: 41)
Kerusakan yang terjadi karena penguasa saat ini telah meninggalkan syariat Islam. Mereka enggan dan malah lebih suka dengan sekularisme dan kapitalisme. Ditambah lagi, umat yang masih jumud dan pilah-pilih hukum Islam sesuai selera mereka.
Seperti yang diterangkan dalam Al-Qur’an: “Dan tidaklah pantas bagi laki-laki mukmin dan perempuan mukmin, jika Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan perkara, akan ada bagi mereka pilihan yang lain tentang urusan mereka.“ (QS al-Ahzab: 36)
Maksudnya, ketika Allah dan Rasul-Nya telah menentukan suatu ketetapan (hukum), tidaklah pantas bagi umat Islam memilah dan memilih mana yang dianggap cocok dan tidak cocok baginya. Ketika kita melakukan muhasabah tersebut, kemudian kita dibunuh oleh penguasa, maka kita dikategorikan sebagai seorang syuhada atau mati syahid.
Sebagaimana dalam hadis Rasulullah saw. yang artinya: “Pemimpin para syuhada adalah Hamzah bin Abdul Muthallib dan laki-laki yang berdiri di hadapan penguasa yang zalim lalu ia memerintah penguasa itu (dengan kemakrufan) dan melarangnya (dari kemungkaran), kemudian penguasa itu membunuh dirinya.” (HR Al-Hakim dan Ath-Thabarani)
Dalam melakukan muhasabah tersebut, umat perlu bersatu dalam suatu jemaah. Hal ini tidak bisa dilakukan individu, laksana sapu lidi. Jika satu saja, maka gampang dipatahkan, tetapi bila bersatu diikat oleh satu akidah, maka tak akan mungkin dipatahkan.
Allah Swt. berfirman dalam Al-Qur’an yang mulia: “Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang mungkar. Mereka itulah orang-orang yang beruntung.“ (QS Ali-Imran: 104)
Bendera Rasulullah
Agenda selanjutnya adalah umat Islam mau mempelajari bendera Rasulullah dibandingkan bendera yang sekarang ada. Bendera yang sekarang ada adalah bendera nasionalisme yang dibuat oleh Barat dalam upaya memecah belah umat Islam.
Bendera Rasulullah itu ada dua, yakni Al-liwa (yang putih) dan Ar-rayah (yang hitam). Bendera berwarna putih atau hitam itu di atasnya bertuliskan kalimat “Laa ilaaha illallah Muhammadur Rasulullah” adalah bendera milik umat Islam.
Sebagaimana yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu, “Bendera (liwa) Rasulullah saw. berwarna putih dan panjinya (rayah) berwarna hitam.” (HR Al-Hakim, Al-Baghawi, At-Tirmidzi)
Bendera itu sekarang dikriminalisasi. Ajarannya dilecehkan dan dibuang. Hal itu seharusnya menjadi tamparan keras buat setiap mukmin yang menyatakan dirinya beriman tetapi alergi, bahkan enggan dengan syariat Islam. Bendera tauhid tersebut mempunyai makna, yakni sebagai pemersatu umat.
Bendera tauhid juga merupakan simbol akidah umat, yakni kalimat tauhid yang menyatakan tiada Illah yang disembah, kecuali hanya Allah semata. Bendera tersebut juga menjadi simbol kepemimpinan, bahwa umat Islam adalah umat terbaik yang akan memimpin dunia. Bendera tauhid juga menjadi penggelora jihad setiap mukmin, serta menjadi penggentar musuh.
Agenda yang terakhir adalah umat Islam harus mempunyai kesadaran, bahwa yang terjadi saat ini tidak bisa dengan tetap menerapkan demokrasi. Umat harus berpikir cemerlang, bahwa semua ini disebabkan ketiadaan junnah , yakni Khilafah yang dengannya akan diterapkan syariat Islam secara praktis dan bersamanya umat mengemban dakwah Islam ke seluruh dunia. Wallahualam bissawab.
Oleh: Muhammad Nur
Sahabat Tinta Media
Views: 47
















