Tinta Media – Generasi Z belakangan ini semakin vokal dalam menyuarakan pendapat. Dari jalanan hingga media sosial, mereka lantang menyalurkan gagasan dengan gaya khas anak muda—mulai dari meme, poster kreatif, hingga estetika visual. Psikolog Anak dan Remaja, Anastasia Satriyo, menilai ekspresi ini adalah cara Gen-Z menyuarakan kritik tanpa harus merusak fasilitas publik.
Di sisi lain, Psikolog Universitas Indonesia, Prof. Rose Mini Agoes Salim, mengingatkan bahwa keterlibatan anak di bawah umur dalam aksi demonstrasi memiliki risiko. Meski unjuk rasa atau demo dapat menjadi wadah belajar menyatakan pendapat, anak di bawah umur tetap mudah terprovokasi karena kontrol diri mereka belum matang. Di sini terlihat paradoks: di satu sisi, energi Gen-Z begitu besar, di sisi lain, arah energi ini bisa berbalik menjadi masalah jika tidak diarahkan dengan benar. Salah satu contoh nyatanya adalah kasus dua siswa SMA di Bandung yang membuat video tidak etis terkait demonstrasi, hingga berujung pada sanksi berat dari sekolah.
Dalam bingkai psikologi modern, Gen-Z digambarkan sebagai generasi yang unik dan ekspresif. Namun jika dicermati, gambaran tersebut tidak lepas dari kacamata kapitalisme. Kreativitas dan kegemaran mereka pada estetika visual serta media sosial diarahkan ke hal-hal yang aman dan menarik, tetapi sekaligus membatasi potensi mereka agar tetap terkendali. Kritik pun seolah dibolehkan, asal tetap dalam batas yang tidak menantang sistem yang berlaku. Pertanyaannya, bagaimana Islam memandang fenomena ini?
Secara fitrah, menusia memiliki naluri baqa’, yaitu dorongan untuk menjaga martabat dan menolak kezaliman. Islam menuntun fitrah tersebut dengan syariat, bukan sekadar dengan teori psikologi apalagi dengan narasi kapitalisme. Arah yang ditunjukkan jelas; suara pemuda, entah berupa suara aspirasi, kritik, atau ekspresi penolakan terhadap kezaliman harus dipakai sebagai muhasabah lil hukkam —mengoreksi penguasa zalim. Rasulullah saw. pun juga menegaskan pentingnya muhasabah terhadap penguasa zalim, bahkan memuji syuhada yang berani menegakkan amar makruf nahi mungkar. Dengan demikian, suara pemuda dalam Islam dikerahkan bukan untuk tren sesaat, melainkan untuk perjuangan hakiki menegakkan keadilan.
Sejarah pun membuktikan peran besar pemuda dalam perubahan. Kita bisa melihat bagaimana Ali bin Abi Thalib yang masih remaja membela Rasulullah, atau Mush’ab bin Umair yang membawa Islam ke Madinah, hingga kisah Ashabul Kahfi yang menolak tunduk pada tirani. Semua kisah sahabat Nabi tersebut menegaskan bahwa pemuda adalah garda terdepan kebangkitan.
Oleh karena itu, pada dasarnya Gen-Z hari ini pun memiliki potensi yang sama. Hanya saja, potensi itu harus diarahkan agar tidak hanya berhenti pada pembuatan meme atau tagar viral semata. Perubahan nyata lahir ketika pemuda menjadikan syariat Islam sebagai standar hidup. Inilah yang akan menjadikan keberanian Gen-Z bukan hanya suara di dunia maya, tapi cahaya kebangkitan di tengah umat. Wallahualam bissawab.
Oleh: Shafa
Sahabat Tinta Media
Views: 41
















