Jalan Ilmiah dan Syar’i Menuju Persatuan Umat

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
WhatsApp
Twitter
Telegram
Threads

Tinta Media – Setiap tahun, menjelang Ramadan dan Idulfitri, umat Islam kembali menghadapi fenomena yang sama: perbedaan dalam menentukan awal bulan Hijriah. Sebagian memulai puasa lebih dahulu, sementara sebagian lainnya menyusul sehari kemudian. Perbedaan ini sering dianggap biasa. Namun, bagi banyak orang, hal tersebut menimbulkan pertanyaan: mengapa umat dengan kiblat yang sama tidak dapat memiliki kalender yang sama?

Persoalan ini sebenarnya berkaitan dengan metode penentuan awal bulan Hijriah. Selama ini, sebagian negara menggunakan rukyat lokal, sebagian menggunakan hisab dengan kriteria tertentu, sementara yang lain menggabungkan keduanya. Padahal, dalam tradisi fikih Islam terdapat konsep yang lebih luas, yaitu rukyat hilal global, yakni pengakuan terhadap hasil pengamatan hilal di mana pun di dunia sebagai tanda masuknya bulan baru bagi seluruh umat Islam.

Al-Qur’an sendiri menegaskan bahwa fenomena bulan memiliki fungsi universal bagi manusia. Allah Swt. berfirman:

“Mereka bertanya kepadamu tentang bulan sabit. Katakanlah: bulan sabit itu adalah tanda-tanda waktu bagi manusia dan bagi ibadah haji.” (QS Al-Baqarah: 189)

Ayat ini menunjukkan bahwa peredaran bulan menjadi penanda waktu bagi umat manusia secara umum, bukan hanya bagi suatu wilayah tertentu. Artinya, sistem kalender berbasis bulan pada dasarnya bersifat universal.

Hal yang sama juga ditegaskan dalam hadis Nabi Muhammad saw. Rasulullah bersabda:

“Berpuasalah kalian karena melihat hilal dan berbukalah karena melihat hilal. Jika hilal tertutup oleh awan bagi kalian, maka sempurnakanlah hitungan bulan menjadi tiga puluh hari.” (HR Bukhari dan Muslim)

Hadis ini menegaskan dua prinsip penting: pengamatan hilal sebagai dasar penentuan bulan serta penggunaan perhitungan jika pengamatan tidak memungkinkan. Namun, hadis tersebut tidak membatasi lokasi pengamatan secara geografis. Karena itu, sebagian ulama memahami bahwa jika hilal telah terlihat di suatu tempat di bumi, maka secara syar’i bulan baru telah dimulai.

Dalam konteks ilmu pengetahuan modern, gagasan rukyat hilal global justru semakin rasional. Astronomi saat ini mampu menghitung posisi bulan dengan tingkat akurasi yang sangat tinggi. Para ilmuwan dapat mengetahui kapan terjadi ijtimak, berapa tinggi hilal, hingga kemungkinan visibilitasnya di berbagai wilayah dunia. Dengan teknologi teleskop, kamera CCD, serta jaringan observatorium internasional, pengamatan hilal tidak lagi terbatas pada satu tempat.

Sains modern bahkan menunjukkan bahwa visibilitas hilal bergerak dari barat ke timur mengikuti rotasi bumi. Artinya, ketika hilal berhasil terlihat di wilayah paling barat seperti Afrika atau Amerika Selatan, secara astronomi bulan baru memang telah lahir dan akan terlihat secara bertahap di wilayah lain. Dalam perspektif ini, penggunaan rukyat global justru selaras dengan realitas ilmiah.

Lebih dari sekadar persoalan teknis, kalender Hijriah sebenarnya memiliki dimensi persatuan umat. Dalam Al-Qur’an Allah mengingatkan:

“Sesungguhnya umat ini adalah umat kamu yang satu, dan Aku adalah Tuhanmu, maka sembahlah Aku.” (QS Al-Anbiya: 92)

Ayat ini menegaskan pentingnya kesatuan umat Islam. Kalender yang seragam akan memperkuat rasa kebersamaan itu. Bayangkan jika seluruh umat Islam di dunia memulai Ramadan, merayakan Idulfitri, dan melaksanakan ibadah besar lainnya pada hari yang sama. Persatuan spiritual tersebut tentu akan memiliki dampak yang sangat besar bagi solidaritas umat.

Karena itu, sudah saatnya umat Islam mulai membuka ruang dialog menuju sistem kalender Hijriah global. Rukyat hilal global tidak berarti menolak ilmu hisab. Justru keduanya dapat saling melengkapi. Hisab digunakan untuk memprediksi kemungkinan visibilitas hilal, sementara rukyat menjadi verifikasi empirisnya.

Dengan dukungan astronomi modern, komunikasi global, serta kerja sama antarnegara Muslim, penerapan rukyat hilal global bukanlah hal yang mustahil. Hal ini justru menjadi langkah rasional untuk menyatukan kalender umat Islam di seluruh dunia.

Pada akhirnya, perbedaan metode tidak seharusnya menjadi sumber perpecahan. Yang jauh lebih penting adalah mencari titik temu yang mampu memperkuat persatuan umat. Dalam semangat itulah rukyat hilal global dapat dipandang sebagai salah satu jalan ilmiah dan syar’i untuk mewujudkan kalender Hijriah yang lebih bersatu bagi seluruh kaum muslimin. Wallahu a’lam bish-shawab.

Oleh: Deny Haryanto, S.Pd.
Penulis Buku Fisika

Loading

Views: 43

TintaMedia.Com : Menebar opini Islam di tengah-tengah umat yang terkungkung sistem kehidupan sekuler.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TULISAN TERBARU

SEDANG TRENDING

MENANGKAN OPINI ISLAM

JADWAL SHOLAT DI KOTA ANDA