Tinta Media – Generasi Z, yang jumlahnya sekitar 26% dari total populasi dunia, kerap dianggap sebagai generasi yang rentan mengalami depresi. Gen Z merupakan generasi yang tumbuh dalam sistem yang serba digital dan telah akrab dengan internet sejak usia dini. Akibatnya, mereka rentan terhadap berbagai tekanan media sosial, seperti gaya hidup fear of missing out (FOMO), budaya belanja di e-commerce, dan berbagai tuntutan digital lainnya. Pada 2030, total belanja Gen Z diprediksi mencapai 12,6 triliun dolar AS atau sekitar 18,7% dari pengeluaran konsumen dunia (IDN Times, 17 April 2026). Sementara itu, peluang karier dan pekerjaan semakin menyempit seiring perkembangan artificial intelligence (AI) yang menggantikan sebagian pekerjaan manusia. Gen Z pun menghadapi kesulitan mencari pekerjaan di tengah tuntutan gaya hidup dan tekanan ekonomi yang tinggi. Di Indonesia, kelompok usia 15–24 tahun masih menjadi penyumbang angka pengangguran tertinggi. Di tingkat global, diperkirakan terdapat sekitar 262 juta anak muda yang tidak bekerja, tidak sedang menempuh pendidikan, atau pelatihan (NEET).
Depresi sering kali terjadi akibat tekanan hidup yang berat. Berbagai kasus menunjukkan bahwa Gen Z saat ini rentan mengalami depresi karena tidak mampu menanggung beban hidup yang dituntut oleh zaman.
Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 menunjukkan bahwa prevalensi depresi pada penduduk berusia 15 tahun ke atas sebesar 6,1%. Sementara itu, berbagai penelitian lain menunjukkan bahwa remaja dan dewasa muda merupakan kelompok yang rentan mengalami gangguan kesehatan mental serta memiliki risiko ide bunuh diri yang perlu mendapat perhatian serius.
Jika ditelisik, setiap zaman memiliki tantangannya masing-masing, demikian pula para pelaku yang hidup di dalamnya. Jika kehidupan serba digital dibandingkan dengan masa penjajahan, tentu masa penjajahan memiliki kesulitannya sendiri yang dapat menimbulkan tekanan psikologis. Zaman akan senantiasa berubah, tetapi cara manusia menyikapi perubahan tersebut belum tentu sama.
Pada masa penjajahan, masyarakat dihadapkan pada kehidupan yang sederhana dengan keterbatasan sarana dan prasarana. Akses terhadap transportasi, komunikasi, pendidikan, dan pangan masih sangat terbatas. Ketika penjajah datang dengan ancaman terhadap jiwa serta perampasan tanah dan harta, tekanan hidup semakin berat. Dalam kondisi demikian, masyarakat berjuang dengan segala keterbatasan yang mereka miliki.
Jika menengok lebih jauh ke masa para nabi, kondisinya pun penuh tantangan. Pada masa Rasulullah saw. dan para sahabat, menuntut ilmu harus ditempuh dengan perjalanan yang melelahkan, berdagang memerlukan perjalanan jauh, dan dakwah Islam menghadapi penolakan serta berbagai bentuk tekanan.
Namun, alih-alih tenggelam dalam keputusasaan, masa para nabi dan sahabat justru menjadi puncak keteladanan. Kesejahteraan, kemajuan ilmu pengetahuan yang berlandaskan wahyu, ketenteraman hidup bermasyarakat, semangat menuntut ilmu, serta jiwa perjuangan dalam menyebarkan kebaikan menjadi ciri kehidupan mereka.
Saat ini, depresi yang dialami sebagian Gen Z tidak terlepas dari cara pandang terhadap zaman yang berbeda dengan generasi terdahulu yang berhasil melewati tantangannya. Cara pandang inilah yang menentukan keberhasilan atau kegagalan seseorang dalam menjalani kehidupannya. Para nabi dan sahabat memiliki cara pandang yang dibentuk oleh ajaran Islam sehingga melahirkan kebahagiaan hidup. Cara pandang tersebut berupa mafahim Islam (pemahaman Islam) yang melahirkan berbagai aturan hidup dan bermuara pada rasa syukur. Rasa syukur diwujudkan dengan menerima kenyataan zaman yang dihadapi, lalu mengarahkannya untuk mewujudkan kebaikan sesuai ketetapan Allah Swt.
Alih-alih terpuruk dalam depresi, generasi yang memiliki pemahaman Islam akan memiliki semangat besar dalam menjalani kehidupan. Mereka terdorong untuk menata kehidupan sesuai dengan tuntunan Sang Pencipta, terus berinovasi, berani mencoba kembali ketika gagal, serta mampu bertahan menghadapi berbagai tekanan yang dipandang sebagai bagian dari ujian dan tantangan dari Allah Swt.
Jika Gen Z disentuhkan kepada Islam sebagaimana para sahabat dahulu, dapat diprediksi kondisi mereka akan berubah. Mereka akan memperoleh kebahagiaan pada zamannya apabila mampu menerapkan tuntunan Islam, baik dalam kehidupan pribadi maupun dalam sistem kehidupan yang mereka jalani.[]
Oleh: Shela Rahmadhani, S.Pt.
Sahabat Tinta Media
![]()
Views: 8
















