Mengapa Sebagian Kristen Injili Bela Israel Mati-matian?

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
WhatsApp
Twitter
Telegram
Threads

Tinta Media – Ketika lantang menjawab pertanyaan dari mahasiswa, seorang Kristen Evangelikal (Injili), Charlie Kirk (31 tahun), yang duduk di atas panggung bertenda tetiba tergolek tidak bernyawa, Rabu (10/9/2025) di kampus Utah Valley University (UVU), Orem, Utah, Amerika Serikat.

Tampak luka menganga dan darah mengucur dari batang leher pemuda kelahiran 14 Oktober 1993 di Arlington Heights, Illinois. Massa panik. Acara The American Comeback Tour yang diselenggarakan Turning Point USA pun berantakan.

Turning Point USA merupakan lembaga yang didirikan dan diketuai Kirk sebagai wadah untuk menggaet suara Gen Z agar mencoblos Donald Trump pada pemilu 2024. Hal itu dilakukan lantaran kesamaan visi politik dan ideologi dengan Trump yang mendukung penuh entitas penjajah Zionis Yahudi.

Sikap Kirk sedemikian rupa tentu saja didasari keyakinan atas Kristen Injili, sebagaimana pernah dinyatakannya, “Saya punya rekam jejak yang tak terbantahkan dalam membela Israel. Saya percaya bahwa hak atas tanah itu diberikan kepada Israel berdasarkan Kitab Suci. Saya percaya akan penggenapan nubuat… Saya akan ‘berjuang demi’ Israel.”

Walhasil, tidak sedikit pihak yang langsung memfitnah pelaku penembakan tersebut adalah Muslim yang kemudian disumpahserapahi sebagai teroris. Namun, tudingan sedikit mereda setelah aparat mengumumkan dugaan pembunuhnya adalah seorang Kristen Mormon, Tyler James Robinson (22 tahun), asal Utah.

Dispensasionalisme

Umumnya Kristen Injili menganut teologi dispensasionalisme – sebuah sistem penafsiran Bibel yang melihat sejarah keselamatan terbagi dalam periode-periode tertentu (dispensasi). Dalam kerangka ini mereka meyakini tiga hal.

Pertama, Israel (bangsa Yahudi) dipandang tetap sebagai umat pilihan Allah, berbeda dari Gereja. Kedua, kembalinya bangsa Yahudi ke tanah Israel (modern) dianggap sebagai penggenapan nubuat Alkitab, seperti Yehezkiel 37, Zakharia 12, dan Roma 11.

Ketiga, mereka percaya kedatangan Yesus yang kedua tidak akan terjadi sebelum Israel mengalami kebangunan rohani dan menerima Mesias (Yesus). Keempat, dukungan terhadap Israel dianggap mendukung rencana Allah.

Contoh ayat yang sering dikutip, “Aku akan memberkati orang-orang yang memberkati engkau, dan mengutuk orang-orang yang mengutuk engkau” – Kejadian 12:² Injili

Ada banyak tokoh Injili terkemuka yang mendukung penuh Zionis Yahudi, beberapa di antaranya sebagai berikut. Pertama, Hal Lindsey. Ia adalah penulis buku akhir zaman terkenal The Late Great Planet Earth (1970). Lindsey meyakini Israel adalah pusat dalam rencana Tuhan di akhir zaman; kembalinya Yahudi ke Israel menandai awal akhir zaman. Pandangannya memengaruhi cara pandang jutaan orang Kristen Injili selama Perang Dingin hingga kini.
Kedua, Tim LaHaye. Ia pengarang seri novel Left Behind (bersama Jerry B. Jenkins). Ia menyebut Israel akan memainkan peran kunci dalam nubuatan apokaliptik dan kedatangan Yesus yang kedua.

Ketiga, Mike Pence. Ia adalah wakil Presiden AS (2017–2021). Secara terbuka Pence menyatakan sikapnya. “Kami mendukung Israel bukan hanya karena itu hal yang benar secara politis, tetapi kar⁴ena itu benar secara teologis,” ujarnya pada 2018, di Knesset.

Keempat, Pat Robertson. Ia adalah pendeta Injili, pendiri Christian Broadcasting Network (CBN). Dengan tegas ia menyatakan, dukungan terhadap Israel adalah bagian dari perang spiritual dan politik melawan musuh Kristen (komunisme, Islam, sekularisme). Pernah menyebut bencana di AS sebagai hukuman karena “menekan” Israel secara diplomatik.

Seperti disinggung di atas, mendukung penuh Israel itu hanya keumuman saja. Dengan kata lain, tidak semua Kristen Injili berpendapat serupa. Agar tidak terkesan pukul rata, memang lebih tepatnya untuk menyebut umat Kristen yang mendukung Israel sebagai Zionis Kristen.

Zionis Kristen

Ya, bukan hanya Zionis Yahudi, di kalangan Kristen pun ada pandangan yang hanya menginginkan Palestina dan sekitarnya untuk Yahudi saja. Mereka tidak setuju solusi dua negara apalagi sampai mengenyahkan Israel dari sana.
Karena, dalam pandangan mereka: Tuhan berikan tanah dari Mesir ke Efrat, bukan hanya sebagian (Kejadian 15:18); Perjanjian kekal atas tanah itu kepada keturunan Abraham (Kejadian 17:7–8); Tuhan ingin satu bangsa di tanah itu, bukan dua (Yehezkiel 37:21–22); dan Tuhan akan menghakimi bangsa-bangsa yang membagi tanah-Nya (Yoel 3:2).

Meskipun banyak lembaga gereja menolak Zionisme Kristen secara resmi, individu atau kelompok yang meyakininya tetap dikenal sebagai Zionis Kristen (Christian Zionists).

Bahkan Theodore Herzl, pendiri Zionisme modern, pernah menyebut istilah Christian Zionist pada Kongres Zionis pertama tahun 1897 sebagai pengakuan terhadap dukungan Kristen.

Tokoh-Tokoh Terkemuka Zionis Kristen

Ada banyak tokoh-tokoh terkemuka Zionis Kristen. Berikut tiga di antaranya.

1. Pastor John Hagee (Kristen Protestan Pantekosta)
Pada 2004, ia mendirikan gerakan Night to Honor Israel, yang menggalang dana bagi pusat imigrasi, rumah sakit, dan lembaga Yahudi di Israel.

Pada 2006 mendirikan organisasi Christians United for Israel (CUFI). CUFI secara aktif melobi pemerintah AS agar mendukung Israel — termasuk dukungan militer, diplomasi, dan posisi kebijakan di PBB.

Ia menolak keras solusi dua negara. Dalam wawancaranya (FreshAirArchives.org, 18/9/2006), ia menyatakan, “Membagi tanah Israel berarti melanggar firman Tuhan.”

2. William Eugene Blackstone (Kristen Protestan Injili)
Tokoh restorasionis dari kalangan Metodis ini menggagas Blackstone Memorial (1891), dokumen penting yang menyerukan agar Palestina diserahkan kepada bangsa Yahudi. Ia meyakini bahwa orang Kristen bertanggung jawab secara moral terhadap penderitaan orang Yahudi, dan pemulihan tanah Israel merupakan bagian dari rencana Tuhan.

3. Pendeta John Stanley Grauel (Kristen Protestan Metodis)
Sebagai anggota kapal Exodus 1947—kapal pengungsi Yahudi ilegal ke Palestina—Grauel memberikan kesaksian kepada Komite Khusus PBB untuk Palestina. Kesaksiannya dinilai sangat memengaruhi dukungan PBB terhadap pendirian Negara Israel. Ia juga menerima penghargaan resmi dari pemerintah Israel atas jasanya.

Kritik terhadap Zionis Kristen

Bukan nubuat yang digenapi, tapi tanah yang diduduki. Inilah inti kritik teolog Dr. Stephen Robert Sizer terhadap keyakinan Zionisme Kristen yang menyatakan berdirinya negara Israel pada tahun 1948 merupakan penggenapan nubuat Alkitab.
Keyakinan itu menurut Sizer, dalam bukunya Zion’s Christian Soldiers? (InterVarsity Press, 2007, hlm. 42), lahir dari “pembacaan harfiah yang selektif dan mengabaikan pesan moral Perjanjian Baru.”

Doktor Teologi dari Middlesex University, dengan disertasi tentang Teologi Zionisme Kristen dan Dampaknya terhadap Kebijakan Timur Tengah tersebut mengakui, memang Alkitab mencatat janji kepada Abraham (Nabi Ibrahim as), “Kepada keturunanmulah Kuberikan negeri ini” (Kejadian 15:18).

Namun dalam Christian Zionism: Road-map to Armageddon? (InterVarsity Press, 2004, hlm. 57), ia menegaskan, janji itu bersifat bersyarat, merujuk pada Imamat 18:24-28 yang memperingatkan, “Israel sendiri bisa terusir dari tanah jika berlaku lalim.”

Dengan demikian, kata Pendeta Anglikan Evangelikal asal Inggris tersebut, tanah bukan hak istimewa etnis, melainkan anugerah Tuhan yang hanya sah jika disertai keadilan.

Sizer juga menunjukkan, Perjanjian Baru mengubah cara memahami “tanah perjanjian.” Dalam khotbahnya (Al-Jazeera, The Evangelicals and Israel, 2013), ia mengutip Matius 5:5  —“Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena merekalah yang akan memiliki bumi”— lalu menegaskan, janji warisan tidak lagi berbasis darah dan tanah, tetapi karakter rohani.

Lelaki kelahiran 4 Januari 1953, di Lowestoft, Suffolk, Inggris menguatkannya dengan Galatia 3:28-29, yang intinya menegaskan, “Keturunan Abraham yang sejati adalah semua orang yang percaya, bukan hanya etnis Yahudi.”

Sizer bahkan menyindir para pendeta pro-Zionis seperti Pastor Kristen Protestan Pantekosta John Hagee yang menyebut Yesaya 66:8 sebagai nubuat lahirnya Israel modern.

Menurut Sizer (2007, hlm. 88), “Nubuat tidak boleh digunakan untuk melegitimasi kekerasan; jika suatu tafsir menghasilkan penindasan, maka itu bukan berasal dari Roh Kristus.”

Pertanyaan yang sering ia ajukan dalam kuliah dan debat publiknya sangat menggugah: “Jika Israel modern adalah penggenapan nubuat, apakah itu berarti Tuhan kini merestui pengusiran dan pendudukan?” (Sizer 2004, hlm. 112).
Ia menjawab sendiri bahwa Yesus tidak pernah mengajarkan berkat melalui kekuasaan politik. Dalam wawancaranya dengan Al-Jazeera (2013), Sizer berkata, “Mendukung Israel tanpa peduli pada Palestina bukanlah kesetiaan kepada Alkitab, melainkan kepada ideologi.”

Dalam artikelnya, The Promised Land: From Zion to Zionism and Back (2013), Sizer mengkritik umat Kristen yang mendukung Zionis, “Tanah Suci bukan milik mereka yang mengklaimnya melalui kekuatan atau garis keturunan, tetapi milik mereka yang mengejar kasih sayang, keadilan, dan rekonsiliasi.”

Lebih keras lagi ia menyatakan, “Zionisme Kristen bukan hanya kesalahan tafsir, tetapi penyimpangan moral” (Sizer 2007, hlm. 123).

Pengkritik Zionis Kristen Lainnya

Selain Sizer, banyak pula tokoh Kristen terkemuka yang mengkritik Zionis Kristen sebagai kekeliruan yang berbahaya bahkan ajaran sesat. Dua di antaranya sebagai berikut.

1. Patriark Latin Michel Sabbah (Gereja Katolik)
Patriark Michel Sabbah menandatangani Jerusalem Declaration on Christian Zionism pada tahun 2006, yang menyebut Zionisme Kristen sebagai ajaran sesat yang merusak pesan Alkitab tentang kasih, keadilan, dan rekonsiliasi. Deklarasi ini juga ditandatangani oleh Uskup Anglikan Riah Abu el-Assal dan Uskup Lutheran Munib Younan.

2. Dr. Hank Hanegraaff (Kristen Protestan Injili)
Dalam artikelnya A Biblical Response to Christian Zionism (2020), Presiden Christian Research Institute Dr. Hank Hanegraaff mengkritik Zionisme Kristen sebagai penafsiran Alkitab yang keliru dan berbahaya. Ia menekankan bahwa Zionisme Kristen sering kali mengabaikan konteks historis dan teologis dari teks-teks Alkitab, serta dapat memperburuk konflik di Timur Tengah.

Zionisme Kristen merupakan fenomena lintas denominasi yang berakar pada interpretasi literal terhadap nubuat Alkitab. Dukungan untuk entitas Yahudi menguasai seluruh tanah Palestina dianggap sebagai panggilan iman. Meski sebagian gereja menolaknya, Zionis Kristen tetap menjadi kekuatan pengaruh global yang memainkan peran penting dalam hubungan internasional, khususnya antara Amerika Serikat dan Israel.[]
 
Oleh: Joko Prasetyo
Pengasuh Tintamedia.com/Pengasuh Rubrik Kristologi Tabloid Media Umat

Views: 47

TintaMedia.Com : Menebar opini Islam di tengah-tengah umat yang terkungkung sistem kehidupan sekuler.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TULISAN TERBARU

SEDANG TRENDING

MENANGKAN OPINI ISLAM

JADWAL SHOLAT DI KOTA ANDA