Tinta Media – Jaminan Amerika Serikat (AS) bahwa perang Israel-Palestina telah berakhir ternyata tak bisa dipegang. Lagi-lagi, Israel melanggar kesepakatan gencatan senjata dengan kembali menyerang Gaza. Di tengah gencatan senjata, Netanyahu dengan pongahnya memerintahkan serangan dahsyat di Jalur Gaza. Two State Solution yang digadang-gadang menjadi solusi pamungkas atas konflik Israel-Palestina nyata-nyata hanya ilusi semata.
Diam atau Melawan?
Pasukan Pertahanan Israel (IDF) menuding Hamas telah meluncurkan rudal anti-tank dan menembaki IDF yang sementara melakukan pembongkaran infrastruktur di Rafah, Jalur Gaza. Atas tudingan tersebut, IDF kembali melancarkan serangan udara ke Jalur Gaza dengan alasan ‘demi keamanan’. Namun, Hamas membantah tudingan IDF dan menyatakan tidak mengetahui adanya bentrok di daerah yang sementara dikuasai Israel tersebut.
Pihak mana yang benar dan pihak mana yang salah menjadi relatif tergantung siapa yang menilai. Namun, dunia bisa melihat pihak yang selama ini kerap melanggar kesepakatan adalah Israel. Upaya perdamaian pun kerap dihalangi-halangi. Serangan Israel di Doha, Qatar menjadi salah satu bukti, Israel tak mengenal istilah ‘perdamaian’. Serangan tersebut dilakukan saat pimpinan Hamas membahas proposal gencatan senjata yang diajukan Trump (9/9/2025).
Tampaknya, Israel belum puas menginvasi Gaza setelah berlangsung dua tahun lamanya. Serangan yang kian masif menunjukkan Israel benar-benar ingin mengosongkan Gaza. Kementerian Kesehatan di Gaza melaporkan, ada 94 syuhada dan 344 luka-luka akibat serangan setelah gencatan senjata 11 Oktober 2025. Jumlah korban meningkat menjadi 68.531 syuhada dan 170.402 luka-luka sejak 7 Oktober 2023 (Risalah Amar, 28/10/2025).
Apa yang dilakukan Israel nyata-nyata melewati batas kemanusiaan. Mirisnya, Israel kerap playing victim, membuat berbagai narasi yang menunjukkan mereka adalah korban yang terzalimi. Sikap Presiden AS, Donald Trump sendiri terlihat inkonsisten. Sesekali mengecam, tak lama kemudian menyatakan dukungan terhadap Israel. Tak heran jika Netanyahu makin jumawa dan menyatakan, Israel tak butuh izin siapa pun untuk menyerang Gaza.
Padahal, pertukaran tahanan oleh kedua pihak sempat memberi asa bagi masyarakat dunia bahwa peperangan akan berakhir. Ternyata, perang hanya terhenti sesaat. Tampak bahwa inti poin gencatan senjata adalah Israel menuntut Hamas menyerahkan senjata dan kendali atas Gaza. Namun, bagaimana cara Hamas melindungi dan mempertahankan Gaza jika memenuhi tuntutan tersebut? Tak ada jaminan bahwa Jalur Gaza akan lebih damai tanpa Hamas.
Lihatlah warga Palestina di Tepi Barat yang keamanannya di tangan IDF. Mereka tak bisa hidup tenang dan tak bisa lepas dari kezaliman entitas Yahudi. Baru-baru ini, pemukim kembali mencabut 100 pohon zaitun yang sedang berbuah milik petani Shihab Awad di Kota Mukhmas, di timur laut Yerusalem. Padahal, beberapa pohon berusia lebih dari tiga dekade. Sebelumnya, sekitar 100 pohon zaitun milik petani Dahash Aref Muhanna juga dicabut dari akarnya.
Sudah menjadi pemandangan biasa, pohon zaitun warga Palestina dirusak oleh pemukim maupun IDF. Kejahatan ini merupakan upaya penjajah Israel untuk merusak ekonomi petani Palestina dan memaksa mereka melakukan migrasi. Nahasnya, Tepi Barat yang mana warganya minim melakukan perlawanan, tak bisa lepas dari target aneksasi (perluasan wilayah) Israel. Artinya, diam atau melawan, warga Palestina tetap menjadi sasaran kebiadaban Israel.
Two State Solution bukan Solusi
Pengakuan 142 negara anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) atas kemerdekaan Palestina ternyata tak memberi pengaruh signifikan dalam membebaskan bumi Syam. Melalui Deklarasi New York, status Palestina sudah merdeka secara de facto (12/9/2025). Status tersebut tak menjadikan Israel segan terhadap warga Palestina. Sebaliknya, Israel masih terus menyerang warga Palestina, baik di Jalur Gaza maupun Tepi Barat tanpa ampun.
Artinya, Two State Solution atau solusi berdirinya dua negara merdeka yang berdampingan tak mampu menyolusi. Solusi yang ditawarkan PBB tersebut memang tampak manis dan bijak. Namun, solusi tersebut hakikatnya hanyalah modus untuk mengokohkan penjajahan di bumi Syam. Bagaimana mungkin, penjajah dibiarkan hidup berdampingan dengan negara jajahannya? Sungguh tak masuk logika.
Israel tentu akan mempertahankan eksistensinya sebagai negara merdeka. Tak heran jika Israel selalu berupaya menyingkirkan segala hal yang mengancam kedaulatan negaranya, termasuk Hamas. Mereka juga terus berupaya memperluas wilayah. Hal ini sejalan dengan ambisi yang kembali didengungkan Netanyahu, yaitu Greater Israel (Israel Raya). Terlihat jelas bahwa konflik di bumi Syam tak akan padam selama entitas Yahudi masih bercokol di sana.
Mengharapkan Israel menghentikan kebiadabannya adalah mustahil jika hanya dengan kecaman. Bahkan, kecaman masyarakat seluruh dunia, upaya boikot produk pro-Israel tanpa henti, pengiriman bantuan kemanusiaan, hingga Global Sumud Flotilla belum berhasil membebaskan Palestina. Solusi atas konflik Israel-Palestina juga tak bisa diserahkan kepada AS, Barat maupun lembaga perdamaian PBB.
Seperti diketahui, melalui tangan Inggris, AS, dan Barat, Israel makin eksis dan berjaya di Palestina. Kemerdekaan Palestina secara de jure bisa dikatakan tinggal selangkah lagi, yaitu menunggu keputusan AS. Namun, tak ada jaminan kemerdekaan secara de jure akan membebaskan Palestina secara sempurna. Muslimin dan masyarakat dunia perlu menilik kembali, bagaimana entitas Yahudi memasuki bumi Syam hingga diakui sebagai negara.
Nestapa di Palestina berawal dari selembaran surat yang dikeluarkan Menteri Luar Negeri Inggris, Arthur James Balfour kepada Lord Rothschild, pemimpin komunitas Yahudi sekaligus bankir ternama Yahudi-Jerman. Surat berisi Deklarasi Balfour tersebut mengumumkan dukungan Inggris terhadap pendirian ‘national home’ bagi bangsa Yahudi di Palestina. Istilah ‘home’ yang terkesan soft dipakai entitas Yahudi sebagai dasar pendirian negara Israel.
Deklarasi Balfour yang dipublikasikan di media pada tanggal 9 November 1917, tampaknya kurang diperhatikan oleh Kekhilafahan Utsmaniah (Ottoman) di Turki. Selain pemakaian kata-kata dalam isi deklarasi yang sengaja disamarkan, Utsmaniah saat itu sedang terlibat Perang Dunia I. Peperangan berada di ujung tanduk. Inggris mengadu-domba muslimin hingga sejumlah wilayah Utsmaniah melakukan pemberontakan, termasuk Hijjaz.
Perang Dunia I berakhir dengan kekalahan Blok Sentral, yaitu Jerman, Austria-Hongaria, Bulgaria, dan Utsmaniah. Akibat dari kekalahan tersebut, Blok Sentral harus menanggung kerugian persenjataan dan kerugian perang lainnya. Khusus Utsmaniah, wilayahnya dibagi-bagi oleh Inggris sekutu. Palestina termasuk wilayah Utsmaniah yang diambil alih oleh Inggris. Keruntuhan Utsmaniah pada 3 Maret 1924 menghantarkan muslimin pada kenestapaan.
Atas dasar Deklarasi Balfour, Yahudi di Eropa mulai bermigrasi ke wilayah Palestina. Lahirlah Israel sebagai negara (1948) setelah Inggris menarik diri dari mandatnya atas Palestina pada tahun 1947. Sejak saat itu, Yahudi makin berani merampas tanah dan kehormatan warga Palestina. Wilayah muslimin yang sebelumnya berada di bawah satu kepemimpinan akhirnya terpecah-pecah menjadi nation state. Khusus Palestina, keberadaannya antara ‘ada dan tiada’.
Hanya Satu Solusi Hakiki
Sungguh, terpecahnya muslimin menjadi negeri-negeri kecil seperti saat ini merupakan kondisi yang diimpikan Barat. Dengan kondisi seperti ini, muslimin lemah dan mudah ditaklukkan. Nahasnya, penguasa negeri muslim tak kunjung sadar. Mereka justru mengikuti alur Barat, yaitu menggenggam erat nasionalisme. Mirisnya, sebagian muslimin meyakini nasionalisme adalah ikatan yang paling kuat untuk menjaga dan mempertahankan kedaulatan negara.
Fakta kondisi saat ini seharusnya menjadikan banyak muslimin sadar, nasionalisme menjadikan mereka acuh terhadap nasib saudara seakidahnya. Two State Solution ataupun nation-state tak akan mampu menyolusi masalah Palestina. Tampak begitu berat bagi penguasa negeri-negeri muslim saat ini untuk mengirimkan bantuan militer ke Gaza. Tidakkah pembantaian dan pelaparan di Gaza mengusik hati penguasa negeri muslim? Ironis.
Penguasa negeri muslim yang berbatasan langsung dengan Palestina pun hanya mampu mengecam. Lebih ironis lagi, ketika Netanyahu terang-terangan menyatakan ambisinya mewujudkan Israel Raya, pemimpin negeri muslim justru ramai-ramai melakukan normalisasi dengan negara penjajah tersebut. Padahal, narasi Israel Raya telah dijadikan pembenaran politik Israel untuk menguasai seluruh wilayah Palestina.
Tidakkah pemimpin negeri muslim paham, terwujudnya Israel Raya akan mencaplok wilayah negeri muslim lainnya? Ambisi Israel Raya tak sekadar menguasai wilayah Palestina secara penuh, tetapi juga sebagian wilayah Mesir, Yordania, Suriah, Libanon, dan Arab Saudi. Cakupan wilayah tersebut terlihat dalam gambar peta di emblem IDF. Kondisi Palestina secara terang menunjukkan hanya ada satu solusi hakiki, yaitu mengembalikan kekhilafahan Islam.
Untuk menghentikan kebiadaban zi0nis Yahudi, dibutuhkan negara yang setara kekuatannya dengan Israel sekutu. Keberadaan Khilafah yang berdasakan metode kenabian akan menjadikan muslimin kembali pada posisi negara adidaya yang disegani dunia. Di tengah upaya muslimin menggaungkan kembali sistem pemerintahan Islam, Netanyahu sesumbar tak akan menerima kekhilafahan mana pun di pantai Mediterania, Senin (21/4/2025).
Netanyahu sekutu paham, keberadaan Khilafah menjadi ancaman besar bagi keberlangsungan Israel. Namun, kembalinya sistem pemerintahan Islam tersebut merupakan suatu keniscayaan. Sekuat apa pun Israel sekutu menolaknya, tetap akan terwujud dengan izin Allah. Hadist berikut ini menjadi kabar baik bagi muslimin akan kembalinya masa kepemimpinan yang berjalan di atas kenabian.
Nabi Saw. bersabda, “Akan datang kepada kalian masa kenabian, dan atas kehendak Allah masa itu akan datang. Kemudian, Allah akan menghapusnya, jika Ia berkehendak menghapusnya. Setelah itu, akan datang masa Kekhilafahan ‘ala Minhaaj al-Nubuwwah; dan atas kehendak Allah masa itu akan datang. Lalu, Allah menghapusnya jika Ia berkehendak menghapusnya. Setelah itu, akan datang kepada kalian, masa raja menggigit (raja yang zalim), dan atas kehendak Allah masa itu akan datang. Lalu, Allah menghapusnya, jika Ia berkehendak menghapusnya. Setelah itu, akan datang masa raja diktator (pemaksa); dan atas kehendak Allah masa itu akan datang; lalu Allah akan menghapusnya jika berkehendak menghapusnya. Kemudian, datanglah masa Khilafah ‘ala Minhaaj al-Nubuwwah (Khilafah yang berjalan di atas kenabian). Setelah itu, beliau diam”. [HR. Imam Ahmad]
Masa kenabian telah berlalu atas kehendak Allah Swt. Demikian halnya masa kekhilafahan ‘ala minhaaj al nubuwah yang pertama, yaitu masa Khulafaur Rasyidin juga telah berlalu. Masa kerajaan atau dinasti yang zalim juga telah berlalu. Saat ini, muslimin di banyak negeri sedang berhadapan dengan pemimpin-pemimpin yang diktator, memeras, dan memaksa. Berbagai kebijakan yang menyengsarakan rakyat dibuat oleh para penguasa secara paksa.
Kondisi muslimin di seluruh dunia secara umum mengalami berbagai kemunduran baik pemikiran, moral, ekonomi, dan sebagainya akibat dijauhkan dari Islam. Tak heran jika kehormatan dan darah kaum muslimin saat ini tak ada harganya. Perundingan-perundingan yang selama ini diklaim berjalan alot ternyata buntu pada Two State Solution. Padahal, Palestina hanya butuh dukungan jihad dari sebuah negara yang berasaskan Islam. Wallahu ‘alam bish showab.[] Ikhtiyatoh
Views: 54
















