Tinta Media – Coba bayangin, selama ini hidup kita—harga makanan, biaya sekolah, gaji, cicilan, bahkan masa depan—itu dikendalikan oleh satu hal yang jarang kita pikirin, apa itu? Sistem uang. Dan masalahnya, sistem uang yang kita pakai sekarang itu, rusak dari desainnya.
Uang kertas yang nilainya terus turun, sistem riba yang bikin utang nggak ada habisnya, inflasi yang makan tabungan pelan-pelan, sampai dolar yang selama puluhan tahun dianggap “raja”, tapi sekarang mulai kelihatan goyang. Semua itu ngebentuk hidup kita tanpa kita sadari. Dan selama sistem ini tetap jalan, rakyat bakal terus ketinggalan, capek, dan merasa hidup makin mahal tiap tahun.
Padahal, Islam punya cara main yang beda banget. Islam ngenalin uang yang stabil—pakai emas dan perak—bukan uang kertas yang bisa dicetak seenaknya. Islam melarang riba supaya nggak ada generasi yang “diperas” lewat utang. Perdagangan dijaga biar jujur, bukan manipulatif. Dan negara dalam Islam tugasnya bukan narik keuntungan dari rakyat, tapi ngurus rakyat.
Sekarang dunia mulai kelihatan capek sama sistem lama. Negara-negara besar mulai cari cara buat lepas dari dolar. Banyak yang ngumpulin emas lagi. Uang digital bank sentral muncul karena dunia tahu: ada yang retak dalam ekonomi global. Semua ini tanda kalau kita lagi menuju perubahan besar, meskipun banyak orang belum nyadar.
Buat gen Z—yang melek internet, biasa lihat drama ekonomi di TikTok, dan lebih kritis sama ketidakadilan—semua ini makin terasa. Gaji nggak naik banyak, tapi harga naik terus. Uang tabungan makin kecil nilainya. Utang dianggap normal. Dan banyak orang mulai bertanya: “Emang harus gini terus?”
Jawabannya: nggak harus.
Ada sistem yang lebih adil. Sistem yang pernah bikin peradaban berdiri kokoh berabad-abad. Sistem yang bikin perdagangan sehat, uang stabil, dan negara nggak jadi alat korporasi. Itu semua pernah berjalan di bawah peradaban Islam.
Dan sekarang, ketika dunia mulai kehilangan kepercayaan pada uang kertas, ide-ide itu kembali relevan. Bukan sebagai nostalgia, tapi sebagai solusi nyata. Islam bukan Cuma ngatur ibadah, tapi juga ngatur ekonomi, pasar, kepemimpinan, dan cara negara ngurus rakyat.
Kita lagi hidup di masa transisi. Sistem lama makin rapuh. Sistem baru mulai dicari. Gen Z punya peran besar karena kalian udah terbiasa dengan cara pikir yang cepat, kritis, dan anti manipulasi. Kalian nggak Cuma tanya “berapa harganya?”, tapi juga “kenapa bisa mahal? Siapa yang untung? Siapa yang dirugikan?”.
Itu tanda sebuah kebangkitan intelektual. Dan semua perubahan besar selalu dimulai dari kesadaran kayak gitu.
Arah peradaban lagi berubah. Dan kita bukan penonton. Kita lagi ada di tengah panggung.
Kalau solusi manusia terus gagal, mungkin sudah saatnya balik ke solusi yang datang dari Zat yang nggak pernah salah, siapa? Allah. Karena yang dari manusia rapuh, tapi yang dari Allah selalu lebih kuat, lebih adil, dan lebih mengangkat martabat manusia.[]
Oleh: Setiyawan Dwi
Jurnalis
![]()
Views: 59















