Tinta Media – Kita masih ingat kasus seorang ibu hamil bernama Irene Sokoy yang bersama bayi dalam kandungannya meninggal dunia setelah dibawa ke empat rumah sakit di Jayapura tanpa mendapatkan penanganan medis yang memadai pada Minggu (16/11/2025). Kasus penolakan rumah sakit terhadap ibu hamil hingga berakibat kematian bayi bukanlah yang pertama. Kejadian seperti ini terus berulang.
Sungguh disayangkan ketika pemerintah sedang gencar memberikan makanan bergizi untuk ibu hamil agar ibu dan bayi tetap sehat selama kehamilan, tetapi hal itu tidak sejalan dengan pelayanan rumah sakit yang seharusnya menjadi garda terdepan dalam menyelamatkan nyawa ibu dan anak. Pemerintah semestinya tidak hanya fokus pada asupan gizi, tetapi juga menjamin keselamatan ibu dan bayi melalui pelayanan kesehatan yang cepat dan tepat.
Pemerintah memang menyediakan jaminan kesehatan seperti KIS, tetapi faktanya tidak semua warga yang membutuhkan mendapatkan fasilitas tersebut. Program yang dicanangkan pemerintah pun sering kali tidak tepat sasaran. Padahal, ibu hamil berada dalam kondisi darurat dan harus mendapat prioritas. Mereka tidak seharusnya dipertanyakan soal administrasi terlebih dahulu. Yang utama adalah keselamatan ibu dan bayinya.
Pihak rumah sakit tidak bisa berdalih dengan alasan prosedur atau menunggu kepastian biaya. Jika pelayanan hanya berjalan ketika ada uang atau jaminan, berarti hanya orang kaya atau mereka yang memiliki fasilitas jaminan pemerintah yang bisa merasakan layanan kesehatan. Ini sangat menyakitkan bagi masyarakat yang tidak memiliki keduanya. Sikap seperti itu menunjukkan bahwa pihak rumah sakit telah mengabaikan moralitas dan nurani sebagai lembaga yang seharusnya berupaya menyelamatkan pasien.
Pemerintah harus membuat aturan yang jelas mengenai prosedur pelayanan bagi ibu yang akan melahirkan: harus diprioritaskan tanpa syarat apa pun. Begitu ada ibu yang membutuhkan pertolongan, ia harus langsung ditangani tanpa ditanya administrasi. Biarlah urusan administrasi menjadi tanggung jawab negara. Yang terpenting adalah menyelamatkan ibu dan bayinya terlebih dahulu. Pemerintah juga harus memberikan sanksi tegas yang menimbulkan efek jera bagi rumah sakit maupun pejabat terkait agar kejadian serupa tidak terulang kembali.
Berbeda dengan sistem Islam, di mana kesehatan umat merupakan bagian dari jaminan negara. Tidak ada satu pun rakyat yang dibiarkan kesulitan dalam urusan kesehatan. Pelayanan bukan hanya gratis, tetapi juga diberikan dengan fasilitas terbaik, tanpa membedakan kaya atau miskin.
Contohnya adalah rumah sakit di Baghdad pada masa Bani Abbasiyah, yang menyediakan fasilitas terbaik mulai dari tenaga medis hingga obat-obatan. Dalam sistem Islam, pelayanan kepada umat adalah prioritas; tidak ada yang lebih penting daripada keselamatan dan kesehatan rakyat. Bahkan, pasien tidak hanya mendapatkan pengobatan, tetapi juga pakaian baru, makanan bergizi, dan uang transportasi untuk pulang setelah sembuh. Semua itu diberikan bukan hanya kepada kaum muslimin, tetapi juga kepada nonmuslim.
Dalam sistem Islam, kesehatan ditanggung sepenuhnya oleh negara melalui baitulmal dan pengelolaan sumber daya alam yang dikelola langsung oleh negara, bukan diserahkan kepada swasta. Negara muslim diberikan kekayaan melimpah oleh Allah agar mampu berdiri sendiri tanpa bergantung pada siapa pun. Wallahualam bissawab.
Oleh: Suparti,
Sahabat Tinta Media
![]()
Views: 51
















