Tinta Media – Jembatan Loji, Cisadane, Kecamatan Bogor Barat, menjadi saksi bisu tindakan nekat seorang siswa SMK di Bogor. Ia melompat ke aliran sungai dan hilang terbawa derasnya arus. Jasad pelajar yang diketahui tinggal di sebuah panti asuhan itu ditemukan keesokan harinya (Detik News, 01/02/2026).
Terbaru, kematian pelajar yang mengakhiri hidup dengan cara bunuh diri juga terjadi di Kecamatan Jerebuu, Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT). Usianya baru 10 tahun dan tengah duduk di kelas IV SD. Mirisnya, bocah lelaki itu memilih bunuh diri lantaran ketidakmampuan orang tuanya membelikan buku dan pena seharga Rp10.000. Tak sampai di situ, ia kerap kali diperingatkan pihak sekolah untuk melunasi cicilan uang tahunan sebesar Rp720.000 dari jumlah Rp1,2 juta (CNN, 05/02/2026).
Dua kasus kematian pelajar yang hampir bersamaan tersebut menggambarkan betapa beratnya beban hidup yang harus dihadapi keduanya. Depresi yang dialami tak sanggup lagi mereka hadapi. Akhirnya, kematian pun menjadi jalan pintas, dengan harapan jika nyawa terlepas dari raga, beban hidup di dunia usai sudah.
Sama-sama siswa yang sedang menuntut ilmu di jenjang pendidikan dasar, seharusnya mereka giat bersekolah demi mengejar cita-cita. Namun, harapan akan masa depan yang cerah terpaksa terhenti karena di tempat mereka menimba ilmu justru permasalahan itu hadir. Kesulitan orang tua dalam menyelesaikan pembayaran administrasi sekolah terkendala kemiskinan.
Banyak faktor penyebab seseorang mengalami depresi hingga mengambil tindakan nekat. Bukan hanya dialami oleh orang dewasa, anak-anak pun rentan dan banyak yang mengalaminya. Banyaknya dan kompleksnya persoalan hidup, kurangnya bonding antara orang tua dan anak, tatanan kehidupan yang individualistis, penggunaan media sosial yang berlebihan, dan yang utama adalah kurangnya keimanan kepada Sang Maha Pencipta.
Keimanan dan ketakwaan kepada Allah Swt. harus ditanamkan sejak dini kepada anak-anak. Dengan bekal keduanya, anak akan selalu merasa diawasi oleh-Nya sehingga perbuatan yang dilarang oleh agama, seperti bunuh diri, akan jauh dari pikirannya dan tak akan dilakukan walau seberat apa pun jalan hidup yang harus dilalui.
Negara juga sangat berperan penting dalam memperhatikan kesehatan jiwa, raga, serta mental rakyatnya, tak terkecuali bagi anak-anak usia sekolah. Negara bukan sekadar memberikan makanan bergizi gratis, tetapi juga harus diimbangi dengan memberikan kemudahan bagi siapa pun untuk mengenyam pendidikan tanpa memberatkan biayanya. Sebab, walaupun asupan gizinya terpenuhi, jika seseorang dalam kondisi depresi, tubuhnya tidak akan mampu menyerap nutrisi dengan baik.
Dari dua kasus bunuh diri pelajar tersebut, pemerintah harus mengevaluasi kebijakan yang diberlakukan di sekolah. Biaya pendidikan tak seharusnya memberatkan orang tua murid. Bahkan, semestinya gratis dengan pembiayaan dari sumber daya alam yang berlimpah yang dimiliki negara.
Untuk bisa bersekolah, bukan hanya fisik yang sehat yang dibutuhkan, tetapi juga mental dan jiwa yang sehat. Alhasil, ketiganya dapat berjalan selaras dan terciptalah generasi emas, bukan generasi dalam kepungan depresi. Wallahualam bissawab.
Oleh: Nurmilati,
Sahabat Tinta Media
![]()
Views: 24
















