Khawatir Miskin, Pemuda Tunda Menikah

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
WhatsApp
Twitter
Telegram
Threads

Tinta Media – Saat ini, banyak anak muda menilai kestabilan ekonomi lebih penting daripada segera menikah. Kondisi ekonomi global yang tidak menentu mendorong generasi muda memilih menunda pernikahan. Kehidupan keluarga bahagia yang diimpikan terasa semakin sulit diwujudkan karena banyak kebutuhan yang harus dipenuhi. Lonjakan harga kebutuhan pokok, meningkatnya biaya hunian, serta ketatnya persaingan kerja menjadi alasan utama. Narasi “marriage is scary” pun kian menguat dan dijadikan pembenaran untuk menunda pernikahan.

Kekhawatiran pemuda semakin besar karena menikah dianggap akan memperberat beban ekonomi. Mereka takut hidup makin miskin ketika harus menanggung kebutuhan dua orang, bahkan lebih. Padahal, sebelum menikah pun kehidupan sudah terasa pas-pasan. Biaya hidup tinggi, sementara penghasilan sulit didapat dan cepat habis. Gaji baru diterima, berbagai pos pengeluaran telah menanti, hingga belum genap pertengahan bulan penghasilan sudah ludes. Lapangan kerja pun semakin sempit, sementara upah yang diterima sering kali tidak sebanding dengan kebutuhan hidup.

Akibat Kemiskinan Struktural

Kemiskinan yang dirasakan masyarakat sejatinya bukan kemiskinan individual, melainkan kemiskinan struktural dan sistemis. Kemiskinan ini tidak hanya berkaitan dengan kekurangan materi, tetapi juga ketidakmampuan memenuhi kebutuhan dasar seperti kesehatan, pendidikan, dan rasa aman.

Ironisnya, dalam sistem kapitalisme sekuler yang diterapkan saat ini, negara justru memberi ruang luas kepada pemilik modal untuk menguasai sektor-sektor strategis yang seharusnya menjadi milik rakyat. Dengan perlindungan undang-undang, para pemodal leluasa menguasai aset penting. Lantas, di manakah peran negara sebagai pelindung rakyat?

Hari ini, negara lebih berperan sebagai regulator semata dan cenderung melepaskan tanggung jawabnya dalam menjamin kesejahteraan rakyat. Beban kehidupan pun sepenuhnya dipikul individu. Fakta menunjukkan bahwa kedaulatan negara semakin melemah. Dari Sabang sampai Merauke, berdiri perusahaan-perusahaan asing dengan berbagai bendera yang berkibar, menandakan kuatnya cengkeraman kekuasaan asing di negeri ini.

Sistem inilah yang membuat pemuda takut menikah karena khawatir miskin. Ini merupakan ironi besar. Negeri yang kaya sumber daya alam justru memiliki rakyat yang jauh dari sejahtera. Berapa banyak lulusan perguruan tinggi yang menganggur? Berapa banyak pemuda harus bersaing di sektor pekerjaan rendahan, sementara sektor strategis dikuasai perusahaan raksasa asing? Pada akhirnya, kekayaan alam hanya dinikmati segelintir kapitalis, sementara pemuda tertekan oleh beban ekonomi hingga enggan menikah.

Solusi Islam Menyejahterakan

Negara yang menerapkan sistem Islam memiliki sistem ekonomi yang kukuh dan menyeluruh. Sumber pendapatan negara sangat besar dan beragam, seperti zakat, _ganimah, kharaj, fai, khumus_, serta pengelolaan kepemilikan umum. Seluruh hasilnya dikembalikan untuk kesejahteraan rakyat melalui layanan kesehatan, pendidikan, dan keamanan. Ketiga sektor ini merupakan layanan publik yang wajib disediakan negara secara gratis dan berkualitas karena menjadi hak rakyat.

Kekayaan milik umum, seperti tambang dan sumber daya alam, tidak boleh diserahkan kepada swasta, terlebih kepada pihak asing. Rasulullah ﷺ bersabda: “Kaum muslim berserikat dalam tiga perkara: padang rumput, air, dan api.” (HR. Abu Dawud dan Ahmad)

Dalam Islam, kekayaan tersebut harus dapat dinikmati oleh seluruh rakyat, baik secara gratis maupun dengan harga yang sangat terjangkau. Negara bertanggung jawab memenuhi kebutuhan primer rakyat sesuai standar syariat. Pemasukan dan pengeluaran negara diatur secara rinci, transparan, dan akuntabel, sehingga kesejahteraan rakyat benar-benar terjamin.

Pengaturan ini bersumber dari aturan Sang Pencipta yang Maha Mengetahui tabiat manusia dan realitas kehidupan. Karena itu, sistem Islam akan menghadirkan keberkahan dan ketenteraman, termasuk bagi generasi muda. Dengan jaminan kesejahteraan dari negara, kekhawatiran menikah karena alasan ekonomi tidak lagi menjadi persoalan.

Negara yang menerapkan sistem Islam akan menjadikan penguasa dan rakyat sama-sama tunduk pada aturan Allah Swt. Seluruh kebijakan bersandar pada perintah dan larangan-Nya. Islam hadir sebagai solusi atas seluruh problem kehidupan, termasuk ketakutan pemuda untuk menikah akibat ketidakstabilan ekonomi, dengan dukungan pemerintahan yang amanah dan bertanggung jawab.

Rasulullah ﷺ bersabda: “Sesungguhnya seorang imam itu laksana perisai. Orang-orang berperang di belakangnya dan berlindung kepadanya. Jika ia memerintahkan takwa kepada Allah dan berlaku adil, maka ia memperoleh pahala. Namun, jika ia memerintahkan selain itu, maka ia menanggung dosa karenanya.” (HR. Bukhari dan Muslim). Wallahualam bissawab.

Oleh: Erni Yulianti, S.Pd.I.
Pemerhati Masalah Sosial

Loading

Views: 27

TintaMedia.Com : Menebar opini Islam di tengah-tengah umat yang terkungkung sistem kehidupan sekuler.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TULISAN TERBARU

SEDANG TRENDING

MENANGKAN OPINI ISLAM

JADWAL SHOLAT DI KOTA ANDA