Tinta Media – Bulan Rajab merupakan bulan istimewa bagi umat muslim sedunia. Banyak peristiwa spiritual penting terjadi pada bulan Rajab, salah satunya adalah Isra Mikraj. Woro Anjar Verianty mengungkapkan bahwa peringatan hikmah Isra Mikraj 2026 menjadi momentum penting bagi umat Islam untuk merenungkan kembali makna mendalam dari peristiwa agung yang dialami Nabi Muhammad saw. Peristiwa spiritual luar biasa ini akan diperingati pada Jumat (16/01/2026), bertepatan dengan 27 Rajab 1447 Hijriah (Liputan6.com, 10/01/2026).
Memahami hikmah Isra Mikraj 2026 tidak hanya sebatas mengingat peristiwa sejarah, tetapi juga menggali pelajaran yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Setelah peristiwa Isra Mikraj, tidak lama kemudian terjadi momen Baiat Aqabah II. Artinya, Isra Mikraj bukan sekadar momentum spiritual, tetapi juga gerbang menuju perubahan politik umat secara ideologis. Bulan Rajab juga merupakan bulan ketika Khilafah runtuh. Selama 105 tahun umat Islam tidak dapat menerapkan hukum Islam (syariat Islam) secara kafah di seluruh penjuru bumi.
Sangat disayangkan, momen Isra Mikraj belum mampu mempersatukan umat Islam di seluruh dunia dan hanya diperingati sebagai seremonial tahunan belaka. Hikmah Isra Mikraj sering kali hanya dimaknai sebatas perintah ibadah salat sebagai ibadah _mahdhah_ semata. Padahal, salat merupakan kinayah yang digunakan dalam hadis tentang larangan memerangi imam selama masih menegakkan salat, yang maknanya adalah menegakkan hukum Allah Swt. Umat belum sepenuhnya memahami bahwa sistem sekuler demokrasi yang diterapkan secara global saat ini merupakan bentuk penentangan terhadap syariat Islam, yaitu hukum ketetapan Allah.
Banyaknya bencana yang terjadi di berbagai tempat, baik bencana politik, ekonomi struktural yang semakin amburadul, bencana sosial kemanusiaan, maupun bencana alam, menunjukkan kondisi dunia yang semakin memprihatinkan. Banyak korban berjatuhan, nyawa-nyawa melayang akibat kelalaian dalam penanganan bencana. Ditambah lagi konflik internasional seperti genosida berkepanjangan di Palestina, konflik di Sudan, dan berbagai tragedi kemanusiaan lainnya.
Semua kejadian ini sejatinya bermula sejak runtuhnya Khilafah 105 tahun yang lalu. Runtuhnya Khilafah merupakan bencana terbesar bagi umat Islam, dan setelah itu dunia menderita di bawah kepemimpinan kapitalisme global. Oleh karena itu, menegakkan kembali kepemimpinan Islam di atas dunia saat ini menjadi kebutuhan yang sangat mendesak.
Maka dari itu, menegakkan Khilafah adalah perjuangan pokok yang agung dan mulia, sangat penting serta vital bagi umat. Umat harus segera menyambut perjuangan menegakkan Khilafah. Harus ada partai ideologis yang terus memahamkan dan membina umat dengan sungguh-sungguh demi misi melanjutkan kehidupan Islam di tengah-tengah umat.
Sudah saatnya umat muslim di seluruh dunia bangkit dan bersatu untuk mewujudkan makna hakiki momentum perjalanan Isra Mikraj Nabi saw., yakni melanjutkan perjuangan beliau dalam menerapkan syariat Islam secara kafah di tengah-tengah umat. Dengan tegaknya Khilafah Islam, kemuliaan Islam dan kemuliaan umat akan kembali terwujud.
Dengan demikian akan lahir seorang pemimpin yang menyerukan kepada tentara muslim untuk membebaskan Palestina dan menegakkan Khilafah Rasyidah. Negeri-negeri muslim yang terpecah belah harus disatukan kembali, serta kezaliman penguasa kafir terhadap minoritas muslim di Rohingya, Uighur, India, Rusia, dan Filipina Selatan harus dihentikan.
Berdasarkan fakta-fakta tersebut, jelas bahwa solusi yang harus diambil umat untuk menghentikan berbagai tindak kezaliman adalah kembali kepada syariat Islam secara kafah, bukan bertahan pada sistem kufur yang jelas-jelas merusak dan menghancurkan umat Islam di seluruh dunia. Wallahualam bissawab.
Oleh: Ummu Zaki,
Sahabat Tinta Media
![]()
Views: 19
















