BoP, Dewan Perdamaian Kedok Imperialisme Baru?

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
WhatsApp
Twitter
Telegram
Threads

Tinta Media – Narasi tentang penawaran gencatan senjata yang dianggap sebagai cara untuk mencapai perdamaian di Gaza terus digaungkan pada dunia. Namun, pelanggaran demi pelanggaran terus terjadi, bahkan sebelum kata “perdamaian” selesai diucapkan dalam forum internasional, yakni _Board of Peace (BoP)_ yang dimediasi oleh Amerika Serikat. Bom tetap dijatuhkan di Gaza oleh Israel, sekolah pengungsian diserang, dan korban warga sipil terus meningkat.

 

Kondisi Gaza kini makin parah. Korban nyawa terus berjatuhan. Kehancuran dan kelaparan terus terjadi. Ratusan ribu warga hidup di tenda pengungsian dan banyak pendidikan warga terhenti.

 

Begitu pun di Tepi Barat, berbagai bentuk tindak penyerangan terjadi, baik berupa kekerasan fisik, pembunuhan, penembakan , dan penggusuran yang dilakukan oleh tentara IDF maupun oleh pemukim Israel terhadap warga Palestina. Mirisnya, hal ini terus terjadi, sementara kesepakatan gencatan senjata terus dilanggar oleh Israel, bahkan hampir mencapai seribu kali pelanggaran, sejak 7 Oktober 2023.

 

Fakta ini jelas menunjukkan bahwa gencatan senjata bukanlah metode untuk mengakhiri kekerasan, tetapi jeda operasional dalam konflik yang tetap dibiarkan hidup. Itu pun dilakukan oleh Israel jika mereka merasa terdesak. Oleh karena itu, warga Palestina skeptis terhadap BoP buatan Trump, karena selama ini AS selalu berpihak pada Israel dalam kebijakan politik dan militer, bahkan menggunakan hak veto-nya di PBB untuk membela Israel.

 

AS (Trump) dan Israel ditengarai oleh beberapa kalangan yang kontra, akan menggunakan BoP yang diinisaiasi Trump. Ini untuk melegitimasi pembersihan etnis, genosida dan perampasan tanah Palestina melalui proyek New Gaza, yang sama sekali tidak melibatkan rakyat Gaza- Palestina.

 

Parahnya lagi, hal tersebut didukung oleh beberapa penguasa negeri-negeri Islam dengan menjadi anggota BoP. Ini berarti, mereka siap menjalankan poin-poin BoP di bawah kepemimpinan Trump.

 

Sebagai otoritas tertinggi yang memimpin proses pengalihan kekuasaan, Presiden Amerika Serikat Donald Trump membentuk komite yang disebut “teknokratik”, yaitu Komite Nasional untuk Pengelolaan Jalur Gaza (NCAG), untuk mengawasi proses pengalihan kekuasaan di Jalur Gaza dan menyelesaikan konflik Israel di wilayah tersebut. NCAG ini beranggotakan 15 teknokrat yang akan bertindak sebagai lembaga pelaksana di lapangan. NCAG adalah bagian dari Fase Dua Rencana Komprehensif untuk mengakhiri konflik Gaza yang diajukan oleh Presiden AS Donald Trump. Badan ini bertanggung jawab dalam pemulihan layanan listrik, air, perawatan kesehatan, pendidikan, serta pengawasan keamanan sipil.

 

NCAG juga akan mengawasi proses pelucutan senjata, mempertahankan satu hukum dan satu rantai komando, serta mengintegrasikan atau membubarkan semua kelompok bersenjata setelah melalui proses verifikasi yang ketat di Gaza. Pembentukan NCAG juga dikabarkan bertujuan untuk menggantikan pemerintahan Hamas dengan pemerintahan yang berisi para ahli. Jelas, ini adalah upaya penyesatan opini, bukan mewakili kepentingan Palestina, tetapi bagian dari BoP.

 

Board of Peace (BoP) yang diklaim bertujuan menciptakan perdamaian, meredakan konflik, dan menata ulang kawasan yang tidak stabil melalui diplomatik dan diucapkan dengan kata-kata penuh kasih sayang, nyatanya memiliki tujuan politik dunia yang penuh dengan kepentingan. BoP bukan sekadar forum mediasi, tetapi untuk menciptakan pengaruh dan pengendalian atas negeri-negeri muslim oleh Amerika dengan alasan stabilitas dan

perdamaian. BoP hanyalah wajah baru dari strategi lama kolonialisme, yaitu menguasai wilayah Palestina, tanpa terlihat seperti menjajah.

 

Adapun konsekuensi negeri-negeri Islam yang terlibat, mereka didorong untuk menerima pengawasan, kesepakatan sepihak, dan kompromi politik yang mengancam kedaulatan. Hakikatnya adalah penjajahan, tetapi dengan gaya baru.

 

Realitanya, upaya-upaya perdamaian di Palestina (termasuk Gaza), bagi Israel hanyalah janji yang terus akan dilanggar. Ini adalah ambisi Israel dalam mewujudkan penguasaannya atas Palestina. Oleh karena itu, kaum muslimin tidak boleh percaya, apalagi mendukung perdamaian dengan Israel, karena mereka sangat memusuhi Islam. Begitu pun dengan AS, yang merupakan sekutu Israel dalam upaya menguasai dunia dengan cara penjajahan politik, ekonomi maupun militer. Haram bagi umat Islam untuk bergantung, apalagi mendukung persekutuan dan solusi yang ditawarkan oleh mereka, yang suka berbuat kerusakan di muka bumi.

 

Umat Islam harus sadar bahwa penjajahan dan kejahatan Israel dan sekutunya, yaitu AS terhadap Palestina tidak bisa dipulihkan, apalagi diselesaikan hanya dengan BoP. Umat harus bersatu melawan penjajahan Israel dan membebaskan Palestina. Dalam perspektif Islam, partisipasi negara-negara Islam dalam BoP yang dimulai oleh pihak-pihak yang melakukan kezaliman dan penjajahan terhadap umat Islam, yaitu Amerika Serikat dan sekutunya, yang menurut pandangan Islam dikategorikan sebagai negara kafir yang secara nyata memerangi umat Islam merupakan hal yang haram.

 

BoP adalah koalisi yang sesat, tidak hanya merugikan umat Islam, tetapi juga melanggar ketentuan syariat yang melarang umat Islam memberi jalan kepada orang kafir untuk menguasai orang mukmin. Umat Islam tidak mungkin berharap bahwa sistem kepemimpinan sekuler berbasis kapitalisme saat ini akan mampu membela kepentingan dan agama mereka. Sehingga, mereka perlu membentuk kepemimpinan yang tegak berdasarkan keimanan dan siap menjadikan syariat Islam sebagai pedoman serta solusi bagi semua permasalahan umat Islam di seluruh dunia, termasuk masalah Palestina. Umat harus bangun dari tidurnya dan membangun kekuatan Islam global saperti yang diwariskan baginda Rasulullah saw. dan dilanjutkan oleh generasi terbaik setelahnya hingga menyatukan berbagai umat di berbagai tempat dan zaman.

 

Dalam Islam, negara harus mandiri dan berdaulat serta ber-_wala_ hanya pada Allah Swt. dan Rasul-Nya, serta menjadikan _izzul islam wal muslimin_ sebagai visi politik global. Karena itu, umat harus bersatu dan menegakkan kembali sistem Islam untuk melawan dominasi penjajahan AS dan Israel dengan jihad akbar.

 

Allah Swt. berfirman,

“…. dan Allah sekali-kali tidak akan memberi jalan kepada orang-orang kafir untuk memusnahkan orang-orang yang beriman.” (TQS. An-Nisa: 141)

 

Wallahu’alam bisshawwab.

 

Oleh: Thaqiyunna Dewi, S.I.Kom

(Sahabat Tinta Media)

 

 

Loading

Views: 6

TintaMedia.Com : Menebar opini Islam di tengah-tengah umat yang terkungkung sistem kehidupan sekuler.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TULISAN TERBARU

SEDANG TRENDING

MENANGKAN OPINI ISLAM

JADWAL SHOLAT DI KOTA ANDA