Tinta Media – Perang Iran–Israel menimbulkan banyak sekali kontroversi. Bahkan, di tengah kaum muslim sendiri ada yang bersimpati kepada Iran dan ada pula yang bersikap acuh. Hal ini tidak lepas dari track record Iran sebagai negara dengan mayoritas Syiah serta riwayat konflik dengan sesama negeri muslim lainnya.
Tampaknya, dalam perang ini Iran disebut berhasil menakut-nakuti militer Israel dan Amerika. Saking kalutnya, militer Israel disebut sempat salah mengebom “lukisan” helikopter di sebuah lapangan menggunakan pesawat canggihnya. Bahkan, sebelum mereka menyadari apa yang sebenarnya terjadi, media setempat sempat menyebutnya sebagai keberhasilan Israel dalam melemahkan militer Iran. Sungguh ironis (Tribun-video.com, 06/03/2026).
Kepanikan serta kehancuran sejumlah fasilitas publik di wilayah Israel pun sempat terdokumentasi dan tersebar di media sosial sebelum akhirnya dihapus dan diblokir oleh otoritas pemerintah setempat (Tempo.co, 11/03/2026).
Semua hal ini menunjukkan bahwa Iran sangat serius dalam menyerang musuhnya dan kerugian yang diderita Israel tidaklah kecil. Lebih jauh, kejadian ini juga membuktikan bahwa Israel tidak sekuat yang selama ini diklaim dan dibesar-besarkan oleh media internasional. Di sisi lain, perang ini juga menggambarkan kekuatan Iran yang patut diperhatikan.
Bayangkan, hanya dengan kekuatan Iran saja sudah mampu mengguncang pertahanan Israel. Bagaimana jika negara-negara muslim lainnya memiliki kekuatan yang sama, bahkan lebih kuat, lalu bergabung dengan Iran dan bersama-sama menyerang Israel? Maka, musuh hampir dapat dipastikan akan luluh lantak tertimbun tanah.
Kekuatan Sejati Negeri-Negeri Muslim
Sejatinya, negeri-negeri muslim sangat kaya akan sumber daya alam dan potensi kekuatan militer. Seandainya kekuatan tersebut digunakan secara bersama-sama untuk menghadapi musuh kaum muslimin—seperti Israel dan Amerika—tentu lebih dari cukup.
Pertanyaannya, kapan hal itu mungkin terjadi? Sementara kebanyakan negeri muslim baru bereaksi ketika diserang terlebih dahulu, dan itu pun dilakukan secara sendiri-sendiri.
Dalam data OEC yang dihimpun oleh Visual Capitalist tertulis bahwa negara-negara di Timur Tengah memiliki potensi sumber daya alam yang sangat besar. Hal ini terlihat dari nilai ekspor hasil alam yang tinggi.
Dikutip pula dari Telukpersia.com, Arab Saudi saja memiliki kekayaan besar berupa minyak bumi dan gas, industri petrokimia, bijih besi, tembaga, fosfat, bahkan sektor pertanian dan perkebunan.
Negeri kita sendiri—yang mayoritas penduduknya muslim—juga memiliki kekayaan yang melimpah. Indonesia memiliki tambang emas terbesar kedua di dunia, kekayaan hasil laut yang sangat beragam, cadangan timah nomor satu di dunia, serta berbagai sumber daya alam lainnya yang tidak cukup dijabarkan dalam tulisan ini. Ini baru dari sisi sumber daya alam.
Dari sisi militer, laporan Global Firepower menyebutkan bahwa Indonesia memiliki kekuatan angkatan darat terbesar di Asia Tenggara. Indonesia juga menduduki peringkat ke-13 dunia dalam kekuatan militer, bahkan berada di atas Israel dalam daftar tersebut. Di atasnya terdapat Turki di peringkat ke-9, sementara Iran berada di peringkat ke-16—satu tingkat di bawah Israel.
Kenyataan ini menyadarkan kita bahwa Iran, yang secara peringkat berada di bawah Israel—atau dianggap memiliki kekuatan militer lebih lemah—ternyata mampu melawan dengan sengit.
Lantas, bayangkan seandainya Indonesia dan Turki ikut serta. Apakah itu belum cukup untuk mengalahkan musuh-musuh Islam dan kaum muslimin?
Sayang seribu sayang, persatuan itu belum juga dapat terwujud. Bagaimana mungkin hal itu bisa terjadi jika institusi yang mampu menyatukannya saja belum ada?
Sejarah mencatat bahwa negeri-negeri muslim yang saat ini terpecah menjadi lebih dari 50 negara pernah bersatu di bawah satu komando, yaitu dalam naungan sebuah negara bernama Khilafah. Namun, Khilafah telah runtuh satu abad yang lalu di tangan Barat. Setelah itu, Barat menanamkan paham nasionalisme di tengah-tengah kaum muslimin. Memang, mencintai tanah air diperbolehkan. Namun, cinta tanah air seperti apa yang justru menciptakan perpecahan dan membuat kaum muslimin tidak lagi peduli terhadap nasib saudaranya di negeri lain?
Konsep nation-state atau negara-bangsa inilah yang menyebabkan negeri-negeri muslim saat ini tidak saling peduli satu sama lain, meskipun memiliki satu agama dan keyakinan. Mirisnya, berharap negara-negara muslim yang terikat oleh ide nasionalisme untuk membantu muslim lain yang terzalimi, tertindas, dan dijajah menjadi sebuah utopia dan angan-angan belaka.
Satu-satunya institusi yang diyakini mampu menyatukan kaum muslimin adalah Khilafah. Khilafah yang akan menerapkan Islam secara kafah. Sistem Khilafah yang berasal dari Sang Pencipta manusia diyakini mampu menyelamatkan manusia. Oleh karena itu, kaum muslimin perlu bersama-sama berjuang agar Khilafah dapat kembali hadir di tengah kehidupan umat, sehingga kaum muslimin memiliki perisai untuk melepaskan diri dari ketertindasan dan kesengsaraan. Wallahu a’lam bish-shawab.
Oleh: Wafi Mu’tashimah,
Sahabat Tinta Media
![]()
Views: 7
















