Gaza dan Idulfitri yang Sunyi: Menguji Solidaritas Dunia

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
WhatsApp
Twitter
Telegram
Threads
Gaza dan Idulfitri yang Sunyi: Menguji Solidaritas Dunia

Tinta Media – Idulfitri merupakan momentum kemenangan bagi umat Islam setelah satu bulan berpuasa Ramadan. Momen bersukacita yang umumnya dirayakan bersama keluarga tercinta. Di berbagai penjuru dunia, umat Islam menyambut Idulfitri dengan gembira dan penuh antusias, mempersiapkan pakaian terbaik serta hidangan istimewa untuk berkumpul bersama sanak saudara dan orang-orang tercinta. Namun, bagaimana dengan warga Gaza yang kini harus merayakan Idulfitri di tengah reruntuhan kota? Nestapa yang terus mendera.

Tiga tahun telah berlangsung sejak agresi militer Zionis pada 2023. Hingga kini, warga Palestina di Gaza masih merayakan Idulfitri dalam kondisi yang mengenaskan. Suasana duka begitu mencekam bagi warga yang kehilangan rumah dan keluarga. Ketika takbir berkumandang di atas reruntuhan yang penuh luka, mereka hanya bisa mengenang dan mengharapkan kemenangan.

Warga Gaza bukan hanya tidak memiliki rumah untuk berkumpul bersama keluarga, tetapi bahkan tidak memiliki tempat untuk melaksanakan salat Idulfitri bersama. Salat Idulfitri kini harus dilaksanakan di atas puing-puing bangunan yang runtuh, di atas tanah berdebu, di antara tenda-tenda darurat. Hari raya berlangsung tanpa sukacita. Bahkan, mereka pun tidak mampu memenuhi kebutuhan hidupnya. Pemblokadean yang berkepanjangan semakin memperburuk keadaan. Nestapa seolah tidak berujung menimpa warga Gaza.

Negara Iran yang menjadi pendukung utama Palestina kini ikut terserang. Derita warga Gaza semakin terlupakan ketika AS dan Israel fokus memerangi Iran. Ke mana umat Muslim lainnya? Sebagai umat terbesar kedua di dunia, apakah tidak bisa bersatu membantu memerdekakan umat Islam Palestina di Gaza?

Mirisnya rasa kemanusiaan saat ini. Umat Islam hidup dalam kelompok negara yang sibuk mengurus kepentingan internal masing-masing dan menganggap peristiwa ini bukanlah masalah bersama. Bahkan, negara-negara Arab Teluk justru bersekutu dengan negara nonmuslim untuk memerangi Iran dan melupakan warga Gaza. Negara-negara Arab Teluk kini mengecam serangan Iran sebagai pelanggaran kedaulatan.

Perdamaian yang dilakukan AS dan Israel bukanlah prioritas, melainkan hegemoni kekuasaan dunia. Kebijakan AS yang dikaitkan sebagai upaya mendorong negara Arab melakukan normalisasi dengan Israel justru menutup isu utama Palestina, yakni tanah dan rakyat Palestina. Warga Gaza membutuhkan keadilan yang merata, negosiasi internasional yang objektif, bukan sekadar pendekatan sepihak.

Penderitaan warga Gaza seharusnya dirasakan oleh seluruh kaum Muslimin. Islam mengajarkan bahwa seorang mukmin dengan mukmin lainnya bagaikan satu bangunan yang bagian-bagiannya saling menguatkan (HR Bukhari dan Muslim). Dari hadis tersebut dapat dipahami bahwa penderitaan seorang Muslim adalah penderitaan seluruh kaum Muslimin yang harus diperjuangkan demi meraih kebahagiaan dan kemenangan bersama.

Allah memerintahkan kaum mukmin untuk berjihad. Dalam QS At-Taubah: 123, “Wahai orang-orang yang beriman, perangilah orang-orang kafir di sekitarmu, dan hendaklah mereka merasakan ketegasan darimu.” Ukhuah islamiah menjadi pengingat bagi umat Islam di seluruh dunia untuk membebaskan penderitaan saudara sesama Muslim. QS Al-Fath ayat 29 juga mengajarkan untuk berkasih sayang dan lemah lembut terhadap sesama Muslim, serta bersikap tegas terhadap orang-orang kafir.

Idulfitri seharusnya tidak dimaknai sebagai kemenangan pribadi saja, tetapi menjadi momentum untuk meningkatkan empati dan kepedulian. Saat kita merayakan Idulfitri dengan penuh sukacita, kita harus mengingat bahwa banyak saudara kita di Gaza yang menderita. Sudah seharusnya kita kembali pada sistem Khilafah, yaitu sistem pemerintahan Islam yang menyatukan seluruh umat dalam satu kepemimpinan untuk menerapkan syariat secara menyeluruh. Dengan tegaknya Khilafah, tidak ada pembatasan antarnegara, dan semua permasalahan menjadi tanggung jawab bersama. Jihad akan sempurna di bawah kepemimpinan Khilafah ‘ala minhajin nubuwwah.

Idulfitri harus menjadi titik refleksi bahwa kemenangan sejati bukanlah milik diri sendiri, tetapi kemenangan yang juga menjadi harapan warga Gaza yang tertindas. Umat Islam harus membangun kesadaran kolektif untuk memperjuangkan keadilan dan kemanusiaan. Tegakkan kebenaran, karena diam di atas kebatilan merupakan pengkhianatan terhadap nurani.

Sistem Khilafah bertujuan menyejahterakan rakyat secara merata. Negara dilarang melakukan kezaliman dan diskriminasi, sejalan dengan perintah Rasulullah saw. untuk berbuat baik kepada sesama manusia. Khilafah berdiri untuk semua umat sebagai rahmatan lil-‘alamin yang mampu memberikan keadilan dan perlindungan bagi seluruh masyarakat, tidak hanya Muslim, tetapi juga seluruh warga negara tanpa memandang latar belakang agama.

Pada akhirnya, Idulfitri harus menjadi panggilan untuk kembali pada nilai kemanusiaan dan keadilan. Ketika kebenaran tertimbun oleh reruntuhan dan kepentingan, tumbuhkan keberanian untuk peduli. Jangan biarkan penderitaan terus berulang. Kemenangan harus segera diperjuangkan agar umat Muslim di Gaza juga dapat merasakan kebahagiaan seperti yang kita rasakan.

Oleh: Rahmadina
Pendidik Generasi

Loading

Views: 7

TintaMedia.Com : Menebar opini Islam di tengah-tengah umat yang terkungkung sistem kehidupan sekuler.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TULISAN TERBARU

SEDANG TRENDING

MENANGKAN OPINI ISLAM

JADWAL SHOLAT DI KOTA ANDA