Jurnalis: Rezim Ini, Prabowo atau Jokowi Jilid III?

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
WhatsApp
Twitter
Telegram
Threads

Tinta Media – Selain karena kemenangan Prabowo sebagai presiden diduga karena adanya keterlibatan rezim saat itu Jokowi dan menjadikan Gibran Rakabuming Raka bin Jokowi sebagai wapres, Jurnalis Joko Prasetyo menilai meski rezim saat ini adalah Prabowo tetapi serasa Jokowi Jilid III karena setidaknya ada empat faktor kesamaan.

“Rezim saat ini itu Prabowo atau Jokowi Jilid III sih? Kerasa begitu enggak? Bukan karena dulu didukung Jokowi dan Gibran jadi wapresnya aja kok. Kerasa begitu karena setidaknya karena empat faktor kesamaan kedua rezim itu,” ujarnya kepada tintamedia.com, Ahad (17/5/2026).

Pertama, kesinambungan oligarki politik. Menurut Om Joy, sapaan akrab Joko, banyak tokoh penting era Jokowi tetap bertahan dan memiliki pengaruh besar dalam pemerintahan baru. Koalisi supergemuk tetap dipertahankan sehingga oposisi praktis mengecil.

“Akibatnya, kehilangan daya kontrol karena hampir semua kekuatan politik berada dalam lingkar kekuasaan,” jelasnya.

Publik akhirnya, sebut Om Joy, publik melihat pergantian presiden tidak benar-benar mengubah struktur kekuasaan. Yang berganti hanya wajah di podium, sementara mesin politiknya tetap bergerak dengan pola lama.

Kedua, kesinambungan politik pencitraan dan program populis raksasa. Di era Jokowi, sebut Om Joy, publik disuguhi proyek-proyek besar seperti IKN, food estate, dan hilirisasi yang dipromosikan secara masif sebagai simbol kemajuan nasional.

“Kini di era Prabowo, pola serupa muncul lewat program makan bergizi gratis, swasembada pangan, dan berbagai narasi besar lainnya,” ungkap Om Joy.

Masalahnya, sebut Om Joy, program-program itu sering kali dipromosikan lebih cepat daripada kesiapan implementasinya. Akibatnya muncul kegaduhan di lapangan: distribusi yang belum siap, kualitas yang dipersoalkan, hingga kebijakan yang masih membingungkan publik.

“Namun di saat kritik muncul, pemerintah justru lebih sibuk mempertahankan citra program ketimbang menjawab akar persoalan secara terbuka,” jelasnya.

Ketiga, kesinambungan budaya antikritik. Pada era Jokowi, ungkap Om Joy, pengkritik pemerintah kerap dicap anti-pembangunan, pembenci pemerintah, bahkan dianggap mengganggu stabilitas. Kini pola serupa mulai tampak kembali.

Kritik terhadap program pemerintah, ungkap Om Joy, sering direspons secara emosional atau moralistik, seolah yang mengkritik tidak peduli rakyat kecil.

“Padahal kritik justru mekanisme penting untuk mengoreksi kekuasaan agar tidak terjebak dalam propaganda diri sendiri,” sebutnya.

Keempat, kesinambungan politik simbolik. Menurut Om Joy, Jokowi membangun citra lewat blusukan, motoran, masuk gorong-gorong, dan kesederhanaan visual. Sementara Prabowo membangun citra lewat pidato patriotik, gestur emosional, nasionalisme, dan simbol keberpihakan pada rakyat kecil.

“Keduanya berbeda gaya, tetapi sama-sama sangat bertumpu pada kekuatan simbol dan pencitraan emosional. Politik akhirnya lebih sibuk mengelola persepsi daripada membangun tradisi evaluasi berbasis hasil nyata,” tegasnya.
Karena itu, bebernya, banyak orang melihat transisi kekuasaan kemarin bukan sebagai pergantian rezim, melainkan estafet kekuasaan dalam lingkar elite yang sama.

Tentu terlalu dini menyimpulkan seluruh pemerintahan Prabowo akan identik dengan Jokowi. Waktu masih panjang dan arah politik bisa berubah. Namun setidaknya hingga hari ini, 19 bulan Prabowo berkuasa, pungkas Om Joy, publik belum melihat tanda koreksi besar terhadap pola-pola lama yang dulu banyak dikritik.[] Siti Aisyah

Loading

Views: 7

TintaMedia.Com : Menebar opini Islam di tengah-tengah umat yang terkungkung sistem kehidupan sekuler.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TULISAN TERBARU

SEDANG TRENDING

MENANGKAN OPINI ISLAM

JADWAL SHOLAT DI KOTA ANDA