Tinta Media – Muharam merupakan salah satu bulan haram yang dimuliakan Allah Swt. Bulan ini memiliki kedudukan istimewa dalam sejarah Islam karena menjadi penanda perjalanan besar Rasulullah ﷺ saat berhijrah dari Makkah ke Madinah. Hijrah tersebut bukan sekadar perpindahan tempat, melainkan bagian dari upaya menegakkan agama Allah dan membangun kehidupan Islam bersama kaum muslimin hingga terwujud kemenangan bagi umat.
Allah Swt. berfirman:
«إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِندَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ»
“Sesungguhnya jumlah bulan menurut Allah ialah dua belas bulan dalam ketetapan Allah pada waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya ada empat bulan haram.” (QS At-Taubah: 36)
Semestinya, datangnya Muharam menjadi sarana bagi umat Islam untuk merenungkan makna hijrah, yaitu berpindah dari kondisi jahiliah menuju kehidupan yang lebih baik dengan akhlak yang mulia. Namun, realitas yang tampak saat ini justru menunjukkan berbagai kerusakan yang terus terjadi akibat sistem kehidupan yang dinilai tidak berpihak kepada rakyat. Ketidakpastian ekonomi semakin dirasakan masyarakat, pemutusan hubungan kerja terjadi di berbagai sektor, sementara sebagian pejabat tetap menampilkan kehidupan mewah di ruang publik. Bahkan, di tengah kesulitan yang dialami rakyat, tidak sedikit pemimpin yang terkesan jauh dari penderitaan mereka.
Kondisi memprihatinkan juga terjadi di berbagai negeri Muslim. Di Palestina, khususnya Gaza, penderitaan akibat perang dan krisis kemanusiaan masih berlangsung. Banyak kaum muslimin mengalami kelaparan dan kehilangan tempat tinggal, sementara dunia Islam belum mampu memberikan solusi yang menghentikan penderitaan tersebut.
Memasuki 1 Muharam 1448 H, keadaan umat Islam secara umum masih jauh dari gambaran umat terbaik yang Allah kehendaki.
Allah Swt. telah berfirman:
«إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ»
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS Ar-Ra’d: 11)
Berbagai persoalan yang menimpa negeri-negeri Muslim dipandang sebagai akibat dari penerapan sistem yang menjauhkan kehidupan dari aturan Allah Swt. Ketika ukuran manfaat dan kepentingan materi menjadi tolok ukur utama, nilai halal dan haram semakin tersisih. Akibatnya, kerusakan muncul di berbagai bidang kehidupan. Di tingkat global, lemahnya posisi umat Islam juga dinilai berkaitan dengan tidak adanya institusi politik yang mampu menyatukan dan melindungi kaum muslimin sehingga mereka tercerai-berai oleh batas-batas nasionalisme dan mudah dipengaruhi kekuatan asing.
Karena itu, Muharam seharusnya menjadi momentum untuk melakukan evaluasi dan menyadari bahwa berbagai problem yang dihadapi umat bukanlah sesuatu yang harus diterima begitu saja. Diperlukan perubahan yang mendasar dengan kembali menjadikan syariat Islam sebagai pedoman dalam seluruh aspek kehidupan. Hijrah yang sesungguhnya bukan hanya perubahan individu, tetapi juga perubahan menuju penerapan aturan Allah secara menyeluruh.
Rasulullah ﷺ telah memberikan teladan bahwa perubahan besar memerlukan perjuangan yang serius, terarah, dan berkesinambungan. Bersama para sahabat, beliau menempuh jalan dakwah hingga terwujud masyarakat Islam yang menerapkan hukum-hukum Allah. Perjuangan tersebut berangkat dari keyakinan bahwa aturan Allah adalah aturan terbaik bagi manusia.
Allah Swt. berfirman:
«وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللَّهِ حُكْمًا لِقَوْمٍ يُوقِنُونَ»
“Dan siapakah yang lebih baik hukumnya daripada Allah bagi orang-orang yang meyakini (agamanya)?” (QS Al-Ma’idah: 50)
Oleh karena itu, umat Islam perlu terus meningkatkan kesadaran dan berjuang bersama dalam aktivitas dakwah yang berlandaskan ajaran Islam serta meneladani metode perjuangan Rasulullah ﷺ. Dengan demikian, Muharam tidak hanya dimaknai sebagai pergantian tahun Hijriah, tetapi juga sebagai momentum kebangkitan umat untuk kembali menjadikan Islam sebagai pedoman hidup secara menyeluruh sehingga kemuliaan di dunia dan keselamatan di akhirat dapat diraih. Wallahu a’lam bish-shawab.
Oleh: Rini Ummu Aisy
(Sahabat Tinta Media)
![]()
Views: 2
















