HILMI: Iman kepada yang Ghaib Bukan Pengingkaran terhadap Rasionalitas

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
WhatsApp
Twitter
Telegram
Threads

Tinta Media – Perhimpunan Intelektual Muslim Indonesia (HILMI) menjelaskan bahwa iman kepada yang ghaib dalam ajaran Islam bukan merupakan bentuk pengingkaran terhadap rasionalitas.

“Iman kepada yang ghaib bukan pengingkaran terhadap rasionalitas. Ia justru merupakan pengakuan rasional bahwa realitas lebih luas daripada kemampuan indra manusia,” jelasnya dalam Intellectual Opinion yang diterima Tinta Media, Selasa (28/7/2026).

HILMI menyatakan, salah satu ciri utama orang beriman adalah meyakini adanya perkara ghaib. Dalam rukun iman, setiap Muslim diwajibkan beriman kepada Allah, malaikat, kitab-kitab suci, para nabi dan rasul, hari akhir, serta qada dan qadar.

Menurutnya, di dalam rukun iman tersebut terdapat banyak realitas yang tidak dapat diamati secara langsung oleh indra maupun diuji melalui eksperimen laboratorium.

Karena itu, HILMI memberikan catatan bahwa Islam memiliki batasan agar keyakinan terhadap perkara ghaib tidak berkembang menjadi tahayul maupun khurafat (khayalan).

“Pada saat yang sama, Islam menjaga umatnya agar tidak jatuh ke dalam tahayul dan khurafat dengan mensyaratkan dalil, kehati-hatian, dan kejujuran intelektual,” catatnya.

Ghaib Tidak Sama dengan Irasional

Lebih lanjut, HILMI menjelaskan bahwa istilah ghaib berarti sesuatu yang tidak hadir di hadapan indra manusia atau berada di luar jangkauan pengamatan langsung.

Menurutnya, ghaib tidak selalu berarti mustahil, tidak masuk akal, atau bertentangan dengan logika. Dalam sains pun, manusia mengenal banyak hal yang tidak dapat diamati secara langsung.

Sebagai contoh, HILMI menyebut atom tidak dapat dilihat dengan mata telanjang, tetapi keberadaannya disimpulkan dari efek dan pola yang dapat diuji. Bagian dalam bumi tidak seluruhnya dapat dimasuki manusia, namun strukturnya dipelajari melalui gelombang seismik. Demikian pula lubang hitam yang keberadaannya diketahui melalui pengaruh gravitasi dan radiasi di sekitarnya.

HILMI juga mencontohkan bahwa manusia masa kini tidak menyaksikan langsung kehidupan Julius Caesar, Gajah Mada, maupun Salahuddin al-Ayyubi. Namun keberadaan mereka diterima berdasarkan kesaksian, dokumen, artefak, dan jalur informasi yang dapat dinilai kredibilitasnya.

Karena itu, HILMI menilai kaidah “tidak terlihat berarti tidak ada” bukan merupakan kaidah ilmiah, melainkan asumsi filosofis yang tidak dapat dibuktikan melalui eksperimen.

“Sains hanya dapat menyatakan bahwa sesuatu belum dapat dideteksi dengan alat dan metode tertentu. Sains tak berwenang menyimpulkan bahwa seluruh realitas hanya terbatas pada yang terukur oleh manusia,” ulasnya.

Tiga Sumber Pengetahuan

HILMI menyebutkan, secara umum manusia memperoleh pengetahuan melalui tiga jalan, yakni pengindraan, penalaran, dan informasi yang terpercaya.

HILMI menguraikan, pengindraan memberikan data tentang dunia, sedangkan akal mengolah data tersebut untuk melihat hubungan sebab akibat, menyusun konsep, dan menarik kesimpulan.

“Sementara itu, informasi terpercaya memungkinkan manusia mengetahui sesuatu yang tidak dialaminya sendiri,” imbuhnya.

HILMI menyimpulkan bahwa sebagian besar pengetahuan manusia sejatinya bersumber dari informasi.

“Mahasiswa menerima banyak teori dari buku / dosen tanpa mengulangi seluruh eksperimen dari awal. Pasien menerima diagnosis dokter karena mempercayai kompetensi, prosedur, dan hasil pemeriksaan. Seorang ilmuwan membaca jurnal karena meyakini bahwa data penelitian dapat diperiksa dan dipertanggungjawabkan,” bebernya.

Dalam Islam, lanjut HILMI, berita tentang perkara ghaib diterima melalui wahyu. Namun penerimaan tersebut tidak diawali dengan kepercayaan buta, melainkan melalui penggunaan akal untuk menilai adanya Sang Pencipta, kebenaran kerasulan Nabi Muhammad saw., serta autentisitas Al-Qur’an.

“Setelah terbukti bahwa Al-Qur’an berasal dari Allah dan Muhammad adalah Rasul-Nya, berita yang beliau sampaikan mengenai perkara ghaib diterima karena kebenaran sumbernya,” terangnya.

Menempatkan Sains, Akal, dan Wahyu

HILMI menilai keseimbangan yang sehat dapat dicapai dengan menempatkan setiap sumber pengetahuan sesuai wilayahnya.

Sains, sebutnya, digunakan untuk meneliti fenomena alam yang dapat diamati dan diuji, akal digunakan untuk menilai konsistensi, hubungan sebab akibat, dan kredibilitas suatu klaim.

Sedangkan wahyu, terangnya, menjadi sumber pengetahuan mengenai perkara yang tidak dapat dijangkau manusia secara mandiri, terutama terkait tujuan hidup, moralitas, ibadah, dan kehidupan akhirat.

HILMI menegaskan tidak ada pertentangan hakiki antara sains dan iman apabila keduanya ditempatkan secara tepat. Konflik muncul ketika sains berubah menjadi saintisme, yaitu pandangan bahwa hanya pengetahuan empiris yang sah. Konflik juga muncul ketika agama dibebani oleh cerita, mitos, dan klaim yang tidak diajarkan oleh wahyu.

“Sikap seorang ilmuwan Muslim seharusnya jelas, yakni tidak menolak perkara ghaib hanya karena tidak dapat dilihat, tetapi juga tidak mempercayai setiap cerita aneh hanya karena terdengar religius,” pungkas HILMI. [] Agung

Loading

Views: 3

TintaMedia.Com : Menebar opini Islam di tengah-tengah umat yang terkungkung sistem kehidupan sekuler.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TULISAN TERBARU

SEDANG TRENDING

MENANGKAN OPINI ISLAM

JADWAL SHOLAT DI KOTA ANDA