Tinta Media – Di berbagai daerah, fenomena tak biasa terjadi setiap awal tahun ajaran baru. Sekolah dasar negeri yang dahulu ramai kini justru sepi peminat. Bahkan, ada sekolah yang hanya menerima satu hingga lima murid, sementara sebagian lainnya sama sekali tidak mendapatkan siswa baru (CNNIndonesia.com, 14/7/2026). Fenomena ini bukan sekadar anomali sesaat, melainkan gejala serius yang menunjukkan adanya perubahan besar dalam cara masyarakat memandang pendidikan.
Pemerintah pun merespons kondisi ini, mulai dari wacana penggabungan sekolah (regrouping) hingga evaluasi kebijakan pendidikan (CNNIndonesia.com, 15/7/2026). Namun, pertanyaannya bukan sekadar bagaimana mengisi bangku kosong di sekolah negeri, melainkan mengapa orang tua kini enggan menyekolahkan anaknya di sana.
Ada beberapa faktor yang melatarbelakangi kondisi ini. Secara demografis, jumlah anak usia sekolah di sejumlah wilayah memang menurun. Hal ini dipengaruhi oleh rendahnya angka kelahiran, fenomena penduduk menua, serta urbanisasi yang membuat banyak keluarga muda pindah ke kota (Kompas.com, 15/7/2026). Namun, faktor ini hanya menjelaskan sebagian kecil dari persoalan.
Alasan yang lebih mendasar justru terletak pada perubahan orientasi orang tua dalam memilih pendidikan bagi anaknya. Banyak orang tua kini lebih memilih sekolah swasta, khususnya yang menawarkan pendidikan berbasis agama. Mereka menginginkan anaknya tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki akhlak, kemampuan ibadah, dan benteng moral yang kuat. Kekhawatiran ini bukan tanpa alasan. Maraknya kenakalan remaja, perundungan, hingga tindak kriminal di kalangan pelajar membuat orang tua merasa sistem pendidikan saat ini gagal menjaga generasi muda.
Fenomena ini menunjukkan adanya krisis kepercayaan terhadap sekolah negeri. Bukan semata karena fasilitas, melainkan karena nilai yang diajarkan dianggap tidak cukup kuat untuk membentuk karakter. Sekolah negeri terlalu menitikberatkan pada aspek akademik, sementara pembentukan moral dan spiritual sering kali menjadi pelengkap, bukan fondasi utama.
Berulang kali perubahan kurikulum dilakukan, tetapi hasilnya belum mampu menjawab keresahan masyarakat. Kurikulum yang berganti-ganti justru sering membingungkan tanpa menyentuh akar persoalan. Pendidikan tetap berjalan dalam kerangka sekuler yang memisahkan ilmu pengetahuan dan nilai-nilai agama. Akibatnya, hasil pendidikan cenderung melahirkan generasi yang cerdas secara intelektual, tetapi rapuh secara moral.
Di sinilah letak persoalan utamanya. Sistem pendidikan yang dibangun di atas paradigma sekuler liberal telah menghasilkan generasi yang kehilangan arah nilai. Kebebasan tanpa batas yang diusung sistem ini turut memengaruhi lingkungan sosial anak-anak, sehingga berbagai penyimpangan menjadi semakin sulit dikendalikan. Orang tua pun mengambil langkah defensif dengan memilih sekolah yang dianggap mampu menjaga anak mereka dari arus kerusakan tersebut.
Padahal, dalam Islam, pendidikan bukan sekadar proses transfer ilmu, tetapi juga pembentukan kepribadian yang utuh. Rasulullah ﷺ bersabda, “Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.” (HR Bukhari dan Muslim)
Hadis ini menegaskan bahwa tanggung jawab pendidikan tidak hanya berada di tangan orang tua, tetapi juga negara sebagai pemimpin. Negara memiliki kewajiban memastikan sistem pendidikan mampu melahirkan generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga berakhlak mulia.
Islam memandang pendidikan sebagai kebutuhan dasar yang harus dipenuhi secara merata dan berkualitas. Dalam sejarah peradaban Islam, negara bertanggung jawab penuh terhadap penyelenggaraan pendidikan, mulai dari kurikulum, tenaga pengajar, hingga fasilitas. Pendidikan diberikan secara gratis dan dapat diakses oleh seluruh lapisan masyarakat tanpa diskriminasi wilayah.
Sistem pendidikan Islam dibangun di atas akidah sebagai landasan utama. Artinya, seluruh ilmu pengetahuan diajarkan dalam kerangka keimanan sehingga tidak ada dikotomi antara ilmu dunia dan agama. Hasilnya adalah generasi yang memiliki kepribadian Islam sekaligus menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi.
Berbeda dengan kondisi saat ini, negara cenderung berperan sebagai regulator, bukan penanggung jawab utama. Pendidikan sering kali diserahkan kepada mekanisme pasar sehingga sekolah swasta berkembang pesat, sementara sekolah negeri kehilangan daya tarik. Ketimpangan kualitas pun sulit dihindari.
Solusi seperti regrouping sekolah memang bisa mengatasi masalah administratif, tetapi tidak menyentuh akar persoalan. Bahkan, kebijakan ini berpotensi menimbulkan masalah baru, seperti akses pendidikan yang semakin jauh bagi sebagian siswa. Tanpa perubahan mendasar dalam sistem, berbagai kebijakan teknis hanya akan menjadi tambalan sementara.
Karena itu, perlu ada perubahan cara pandang yang lebih mendasar. Kesadaran orang tua yang ingin menyelamatkan anak dari kerusakan moral seharusnya tidak berhenti pada pilihan sekolah semata. Harus ada kesadaran bahwa kerusakan yang terjadi bersifat sistemis, berasal dari sistem pendidikan dan sosial yang tidak berlandaskan nilai yang benar.
Di sinilah pentingnya membangun kesadaran politik di tengah masyarakat, bahwa persoalan pendidikan tidak bisa diselesaikan secara parsial, tetapi membutuhkan perubahan sistem secara menyeluruh. Dakwah yang mengajak pada perubahan sistem menuju sistem yang berbasis nilai Islam menjadi sangat relevan dalam konteks ini.
Negara harus kembali mengambil peran sebagai penanggung jawab utama pendidikan. Bukan hanya menyediakan fasilitas, tetapi juga memastikan kurikulum mampu membentuk karakter generasi. Pendidikan tidak boleh hanya menghasilkan tenaga kerja, tetapi harus melahirkan manusia yang memiliki arah hidup yang jelas dan kontribusi nyata bagi masyarakat.
Fenomena sekolah negeri yang sepi murid bukan sekadar persoalan jumlah siswa, melainkan sinyal krisis yang lebih dalam. Ini adalah peringatan bahwa masyarakat sedang kehilangan kepercayaan terhadap sistem yang ada. Jika tidak segera direspons dengan perubahan yang mendasar, bukan tidak mungkin krisis ini akan makin meluas dan berdampak pada masa depan generasi bangsa.
Pilihan orang tua hari ini adalah refleksi dari kegelisahan mereka terhadap masa depan anak-anaknya. Kegelisahan itu tidak akan hilang selama sistem yang ada belum mampu memberikan jaminan pendidikan yang tidak hanya mencerdaskan, tetapi juga menjaga dan membentuk kepribadian generasi.
Oleh: Ilma Nafiah
Sahabat Tinta Media
![]()
Views: 3
















