Tinta Media – Beberapa pekan yang lalu, terungkap kasus korupsi MBG (Makan Bergizi Gratis) yang menyeret nama Kepala BGN (Badan Gizi Nasional) Dadan Hindayana, dua wakil Kepala BGN, Sony Sonjaya dan Ladewyk Pusung. Kasus serupa juga terjadi pada Mantan Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus (Jampidsus) Febrie Adriansyah yang ditetapkan sebagai tersangka dengan dugaan korupsi dan Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU) (Liputan6.com, 10/7/2026).
Mengapa kasus korupsi di negeri ini tidak henti-henti, malah makin merajalela? Ini semua disebabkan karena kuatnya pengaruh paham kapitalisme sekuler dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Jauhnya nilai agama dari kehidupan membuat korupsi makin membudaya dan tidak bisa terpisahkan dalam benak masyarakat, termasuk para pejabat dan lembaga negara.
Moral masyarakat, termasuk para pejabat sudah rusak. Prinsip halal haram dan aturan Islam tidak dijadikan dasar hukum dan perundang-undangan. Bahkan, penegak hukumnya juga tidak tegas. Ini membuktikan bahwa korupsi bukan sekadar kesalahan individu semata, melainkan masalah yang sudah mengular secara sistematik.
Selain itu, sistem politik demokrasi dengan biaya politik yang sangat tinggi juga ikut berperan. Kondisi ini menormalkan korupsi sebagai cara untuk mengembalikan modal politik setelah kampanye. Sedangkan penegak hukum, mereka sudah tidak berdaya terhadap menjamurnya tindak korupsi. Akibatnya, para pelaku keenakan, tidak ada rasa takut. Sungguh, praktik korupsi seperti sudah menjadi budaya yang makin luas dan merajalela.
Dalam Islam, kedudukan atau jabatan adalah titipan dan amanah yang harus dilaksanakan dengan rasa tanggung jawab, bukan sarana untuk memperebutkan proyek, atau menggerogoti uang negara. Syariat Islam juga menetapkan hukuman berat dan tegas bagi para koruptor.
Khilafah dengan sistem pendidikan, ekonomi dan politiknya sudah menutup celah korupsi serapat mungkin, baik di tingkat pejabat maupun lembaga negara. Pola pikir materialistis ala kapitalisme-sekuler yang hanya mengejar dunia dan fokus pada keuntungan materi saja wajib diganti dengan pola pikir Islam. Dalam Islam, tujuan utama hidup adalah mencari keridaan Allah semata. Wallahu alam bishawab.
Oleh: Reni Tresnawati
Sahabat Tinta Media
![]()
Views: 5
















