Tinta Media – Setiap kali Maulid Nabi Muhammad ﷺ datang, suasana umat Islam biasanya terasa berbeda. Masjid ramai, selawat berkumandang, ceramah digelar, dan kisah kehidupan Rasulullah ﷺ kembali disampaikan. Semua itu tentu baik. Namun, ada satu pertanyaan yang semestinya tidak kita hindari: setelah Maulid selesai, apakah kehidupan kita benar-benar semakin dekat dengan ajaran Rasulullah ﷺ?
Maulid Nabi 1448 H merupakan momentum untuk mengenang kelahiran sekaligus meneladani perjuangan Rasulullah ﷺ. MUI juga mengingatkan bahwa kecintaan kepada Rasulullah semestinya diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari. Artinya, Maulid seharusnya tidak berhenti sebagai agenda tahunan dan seremoni keagamaan (DetikHikmah, 15/8/2026).
Sebab, Rasulullah ﷺ bukan sekadar tokoh yang kisah kelahirannya dikenang. Beliau adalah uswatun hasanah, teladan bagi umat manusia.
Allah Swt. berfirman: “Sungguh, telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagi kalian.” (QS Al-Ahzab: 21)
Pertanyaannya, sudah sejauh mana kita memahami keteladanan itu? Sering kali, keteladanan Rasulullah ﷺ hanya dipahami sebatas akhlak pribadi: jujur, amanah, sabar, santun, dan penyayang. Semua itu benar. Namun, Rasulullah ﷺ juga membawa risalah Islam yang mengatur kehidupan secara menyeluruh.
Beliau membimbing umat dalam ibadah, keluarga, pendidikan, ekonomi, muamalah, hukum, kehidupan sosial, hingga kepemimpinan masyarakat, bahkan negara. Karena itu, menjadikan Rasulullah ﷺ sebagai teladan tidak cukup dengan meniru akhlaknya secara individual, sementara aturan Islam hanya ditempatkan di ruang pribadi.
Di sinilah persoalan besar umat hari ini. Islam sering diterima ketika berbicara tentang shalat, puasa, zakat, atau akhlak. Namun, ketika Islam berbicara tentang ekonomi, hukum, politik, pemerintahan, dan pengelolaan kehidupan masyarakat, muncul anggapan bahwa semua itu bukan wilayah agama.
Padahal, Allah Swt. berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman, masuklah kalian ke dalam Islam secara keseluruhan.” (QS Al-Baqarah: 208)
Maka, jangan sampai kita begitu bersemangat mengaku mencintai Rasulullah ﷺ, tetapi pada saat yang sama hanya mengambil sebagian ajarannya dan meninggalkan sebagian lainnya.
Cinta kepada Rasulullah ﷺ bukan sekadar kata-kata. Cinta membutuhkan itibak, yaitu mengikuti petunjuk yang beliau bawa. Jika Rasulullah ﷺ mengajarkan kejujuran, maka kejujuran harus hadir dalam perdagangan dan pemerintahan. Jika beliau mengajarkan keadilan, maka keadilan harus ditegakkan tanpa pandang bulu. Jika beliau melarang kezaliman, maka segala bentuk penindasan terhadap rakyat harus ditolak.
Begitu pula dalam persoalan ekonomi. Islam tidak hanya mengajarkan individu agar bersedekah, tetapi juga memiliki aturan tentang kepemilikan, perdagangan, larangan riba, dan pengelolaan kekayaan. Islam juga tidak hanya mengajarkan manusia untuk menjadi baik secara pribadi, tetapi membangun masyarakat yang terlindungi dari kezaliman dan kerusakan.
Karena itu, Maulid semestinya menjadi momentum muhasabah, bukan sekadar seremoni. Sudahkah kita menjadikan Al-Qur’an dan Sunah sebagai pedoman dalam seluruh kehidupan?
Jalan keluarnya adalah membangun kesadaran umat melalui dakwah dan pendidikan Islam yang menyeluruh. Umat perlu memahami sirah Rasulullah ﷺ bukan hanya sebagai cerita sejarah, tetapi sebagai gambaran bagaimana Islam dibangun, diterapkan, dan dijadikan pedoman dalam kehidupan masyarakat.
Pada tingkat kehidupan bernegara, perspektif politik Islam menempatkan Khilafah sebagai institusi yang menerapkan syariat secara menyeluruh dan mengurus kemaslahatan rakyat. Perjuangan menuju perubahan tersebut tentu harus ditempuh melalui dakwah dan pembinaan umat, bukan kekerasan.
Jadi, jangan biarkan Maulid berhenti ketika lampu masjid dipadamkan dan pengeras suara kembali sunyi. Jika benar mencintai Rasulullah ﷺ, jangan hanya merayakan kelahirannya. Teladani perjuangannya. Jangan hanya memperbanyak selawat di lisan. Buktikan dengan mengikuti risalahnya. Jangan hanya mengambil Islam untuk urusan pribadi. Jadikan Islam sebagai pedoman dalam seluruh aspek kehidupan.
Sebab, cinta kepada Rasulullah ﷺ bukan sekadar apa yang kita ucapkan, tetapi sejauh mana kita bersedia mengikuti petunjuk yang beliau bawa. Wallahu a’lam bish-shawab.
Oleh: Dani Al-Haritsi
(Sahabat Tinta Media, Garut)
![]()
Views: 0











