Tinta Media – Penderitaan di Gaza sesungguhnya belum berakhir. Namun, akibat berbagai persoalan yang tengah melanda kaum Muslim, isu mengenai Gaza seolah tenggelam dan terlupakan. Pemerintah Qatar, Mesir, dan Turki telah bereaksi terhadap Zionis Israel. Meski demikian, seperti biasa, tindakan mereka kembali terbatas pada kecaman semata.
Sejak serangan yang dilancarkan Hamas ke wilayah pendudukan Israel pada Oktober 2023, militer Israel terus melakukan serangkaian tindakan kekerasan di Gaza. Kekerasan tersebut juga mencakup tindakan kekerasan seksual dan pemerkosaan terhadap tahanan Palestina.
Terkait hal ini, pada Juni lalu, Al Jazeera merilis laporan investigasi serta film dokumenter terbaru berjudul Bodies of Evidence: Israel’s Darkest Weapon. Bukti genosida yang dilakukan oleh Zionis kini semakin nyata dengan adanya upaya penghancuran sistematis terhadap seluruh infrastruktur di Gaza. Penderitaan yang terus berlanjut ini pun semakin mempertanyakan efektivitas Dewan Perdamaian (Board of Peace atau BOP) yang sama sekali tidak berfungsi. Jika situasinya sudah seperti ini, lalu apa sebenarnya arti kehadiran lembaga tersebut?
Negara-negara Muslim yang berada di dalam BOP bukankah seharusnya membela kehormatan, harta, dan darah sesama kaum Muslim? Sebagaimana sabda Nabi saw.: “Seorang Muslim adalah saudara bagi Muslim lainnya. Ia tidak boleh menzalimi saudaranya dan membiarkannya. Siapa yang memenuhi kebutuhan saudaranya, Allah akan memenuhi kebutuhannya. Siapa saja yang menghilangkan kesulitan seorang Muslim, Allah akan menghilangkan kesulitannya.” (HR. Muslim)
Seandainya para pemimpin Muslim bersatu menjatuhkan blokade dan embargo kepada Zionis tersebut, maka negara itu akan hancur seketika. Seharusnya kaum Muslim menjadikan Islam sebagai sudut pandang dan solusi untuk semua persoalan, termasuk dalam menghadapi krisis di Gaza. Wallahu a’lam bish-shawab.
Oleh: Fajri Ilham
(STPS Teladan Umat)
![]()
Views: 8
















