Aktivis: Sekularisme Induk Segala Kemaksiatan

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
WhatsApp
Twitter
Telegram
Threads

Tinta Media – Aktivis Muslimah, Ety Sudarti Adillah menyebut induk dari
segala kemaksiatan adalah sekularisme.

“Kemaksiatan yang paling besar atau bisa dikatakan bahwa itu
adalah pangkal segala kemaksiatan, induk dari segala kemaksiatan adalah
sekularisme, yaitu memisahkan agama dari kehidupan,” ujarnya dalam Liqo Muharam
Mubaligah 1446 H bertajuk Perubahan Hakiki: Tinggalkan Demokrasi, Ittiba’ pada
Nabi Saw, di Palembang, Ahad (28/7/2024)

Ia menjelaskan, memisahkan agama dari kehidupan maksudnya
adalah saat mengurusi berbagai urusan, maka tidak berpedoman kepada aturan
Allah Swt. Misalnya saat berekonomi, maka mengikuti ekonomi dari Barat.

“Buktinya apa? Buktinya kita pakai ekonomi ribawi. Nah, itu
adalah kemaksiatan yang diakibatkan oleh sekularisme, memisahkan agama dengan
kehidupan, seakan-akan kita menjalani hidup di dunia ini tidak perlu pakai
Al-Quran dan Hadis,” paparnya.

Sementara itu, lanjutnya, yang menyebabkan sekularisme terus
ada sehingga kerusakan terus langgeng adalah demokrasi.

“Inti dari demokrasi adalah manusia dibebaskan untuk membuat
hukum. Apakah itu sesuai dengan Islam? Tidak. Kata Allah innil hukmu ilalilLah,
hukum itu dari Allah. Demokrasi hukumnya oleh manusia. Ini satu hal yang
menyebabkan kerusakan itu terus langgeng. Karena manusia diizinkan untuk
membuat hukum,” ungkapnya.

Ety menilai, sistem kehidupan yang menjauhkan agama dari
kehidupan harus diganti dengan kehidupan yang menjadikan agama sebagai sumber
aturan dan sumber hukum bagi kehidupan. Sebab, inilah yang diperintahkan Allah
dan Rasul-Nya.

“Jadi Allah dan Rasul-Nya itu memerintahkan kita berhukum
itu kepada hukum Allah, bukan hukum buatan PBB, bukan hukum buatan Amerika,
bukan hukum pesanan Inggris, bukan undang-undang pesanan China. Bukan. Kita
diminta Allah untuk menerapkan hukum Allah, yaitu syariah Islam,” terangnya.

Karena itu, lanjutnya, sejatinya sebuah perubahan bukan
sekadar mengganti pemimpinnya, tetapi juga mengganti aturan yang dipakainya.

“Karena kalaupun pemimpinnya baik, tapi aturannya buatan
Amerika yang tidak mengizinkan Islam mengatur negara, tetap saja yang
dilaksanakan oleh pemimpin itu adalah aturan-aturan yang bukan berasal dari
Allah, aturan buatan manusia,” jelasnya.

Ety mengutip perkataan Imam Al Ghazali, bahwa agama itu
bagaikan fondasi, sementara kekuasaan (negara) adalah penjaganya. Maka, sesuatu
yang tidak memiliki fondasi pasti akan roboh. Sebaliknya, sesuatu yang tidak
memiliki penjaga pasti akan hilang.

“Kalau kita agama Islam, seharusnya kehidupan itu kehidupan
yang rahmatan lil ‘alamin. Tapi karena tidak ada penjaga, negaranya tidak ada,
maka akhirnya Islam hilang, syariat Islam ditinggalkan, Allah dan Rasul-Nya
dilupakan oleh umatnya sendiri,” sesalnya.

Menurutnya, satu-satunya negara yang menegakkan hukum-hukum
syariat Islam hanyalah Khilafah. “Tidak ada negara lain yang diciptakan dalam
rangka menerapkan syariat Islam, tidak republik, tidak kekaisaran, tidak
kerajaan, tidak parlementer, juga tidak demokrasi. Bahkan, demokrasi ini telah
menjadikan syariat Islam ini hilang dari muka bumi,” tegasnya.

Dikutip dari Syekh Abdul Qadim Zallum, Ety mengatakan
khilafah adalah kepemimpinan umum bagi seluruh umat Islam di dunia yang
tugasnya menegakkan hukum-hukum syariat Islam.

“Khilafah inilah sistem pemerintahan atau negara yang
diperintahkan oleh Allah dan Rasul-Nya, dicontohkan oleh Abu Bakar, Umar,
Utsman, Ali, para Khalifah Bani Umayyah, Abbasiyah, dan Utsmaniyah sampai 1924
mereka menerapkan ini. Para ulama waktu itu, para sahabat, tidak pernah
berpikir untuk mengganti sistem, karena ini adalah perintah Allah dan Rasul,”
pungkasnya.[] Mia

Loading

Views: 20

TintaMedia.Com : Menebar opini Islam di tengah-tengah umat yang terkungkung sistem kehidupan sekuler.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TULISAN TERBARU

SEDANG TRENDING

MENANGKAN OPINI ISLAM

JADWAL SHOLAT DI KOTA ANDA