Sekularisme Pemicu Remaja Bunuh Diri

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
WhatsApp
Twitter
Telegram
Threads

Tinta Media – Tragis! Dalam sepekan terakhir, dua anak ditemukan meninggal akibat bunuh diri dengan cara gantung diri. Kasus pertama, warga digegerkan oleh meninggalnya anak laki-laki berusia 10 tahun berinisial MAA, siswa kelas 5 di salah satu SD Negeri di Kabupaten Cianjur (22/10). Korban ditemukan tergantung di kusen pintu kamar rumah neneknya dengan menggunakan tali sepatu. Saat ditemukan, ia sudah tidak bernyawa. (kompas.id, 31/10/2025)

Peristiwa kedua terjadi beberapa hari kemudian di Kabupaten Sukabumi. Siswi kelas dua SMP berinisial AK (14) ditemukan tewas gantung diri di kusen pintu rumahnya di Kecamatan Cikembar, Selasa (28/10/2025) malam. Ia diduga mengakhiri hidupnya setelah mengalami perundungan di sekolah. Hal ini terungkap dari selembar surat yang ditinggalkan korban sebelum meninggal.

Dua peristiwa tragis ini memunculkan keprihatinan mendalam sekaligus menjadi alarm serius bagi dunia pendidikan dan keluarga untuk lebih peka terhadap kondisi mental anak dan remaja. Semua pihak—keluarga, sekolah, masyarakat, hingga pemerintah—harus memperkuat dukungan dan perlindungan bagi anak. Pencegahan bunuh diri bukan hanya tugas psikolog, melainkan tanggung jawab sosial bersama.

Dari kedua kasus tersebut, pemicu bunuh diri memiliki kesamaan: depresi akibat bullying. Media sosial pun berkontribusi besar. Tontonan hari ini jauh dari pendidikan berkualitas, sementara banyak orang tua lalai menanamkan keimanan dan ketaatan kepada Allah. Padahal, keluarga adalah sekolah pertama bagi anak. Akibatnya, mereka tumbuh tanpa landasan iman yang kuat.

Bunuh diri di kalangan pelajar tidak muncul secara tiba-tiba. Faktor utamanya adalah keberadaan sistem kapitalisme sekuler. Dalam sistem ini, pendidikan tidak menjadikan akidah Islam sebagai dasar pembinaan anak. Dampaknya, lahirlah generasi yang lemah, rapuh, jauh dari adab, etika, dan tuntunan Islam. Sekularisme menjadi akar berbagai persoalan besar, khususnya di negeri ini, dan menanamkan pengaruh buruk terhadap generasi di berbagai bidang.

Bunuh diri dapat dicegah dengan mengubah paradigma pendidikan sekuler menjadi pendidikan Islam—yang menempatkan akidah Islam sebagai fondasi sejak dini. Pendidikan Islam membentuk generasi berkepribadian Islam sehingga mereka memiliki kekuatan untuk menghadapi kesulitan hidup.

Tujuan pendidikan dalam Islam adalah membentuk pola pikir dan pola sikap Islam. Ketika anak balig, mereka siap diarahkan dan tangguh mengemban amanah kehidupan. Karena itu, pendidikan sebelum balig harus mematangkan kepribadian Islam.

Pendidikan Islam tidak hanya mencegah gangguan mental, tetapi juga menjadi solusi tuntas bagi berbagai persoalan kehidupan. Islam memberikan kebaikan pada aspek nonklinis, seperti jaminan kebutuhan pokok, keharmonisan keluarga, serta arah hidup yang jelas.

Kurikulum pendidikan Islam memadukan kekuatan kepribadian Islam dengan pembangunan karakter yang dilengkapi indikator penguasaan kompetensi ilmu. Dengan demikian, murid mampu menyikapi persoalan kehidupan sesuai syariat Islam.

Semua ini hanya akan terwujud jika syariat Islam diterapkan secara total di seluruh lini kehidupan. Dengan begitu, lahirlah generasi yang cerdas, tangguh, unggul, dan bertakwa. Wallahualam bissawab.

 

Oleh: Bu Atep,

Sahabat Tinta Media

Loading

Views: 49

TintaMedia.Com : Menebar opini Islam di tengah-tengah umat yang terkungkung sistem kehidupan sekuler.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TULISAN TERBARU

SEDANG TRENDING

MENANGKAN OPINI ISLAM

JADWAL SHOLAT DI KOTA ANDA