Berjuang di Ujung Sembilu Rindu

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
WhatsApp
Twitter
Telegram
Threads

Tinta Media – Terik matahari kala itu, sangat menyilaukan mata. Maklum, Karawang memang tersohor dengan cuaca hareudang (panas).

“Jreng…jreng…jreng…” alarm ponsel berdering, sontak mengagetkanku. Ternyata sudah pukul 12.30 WIB, pengingat untuk sholat dzuhur dan persiapan kerja shift siang. Memang setiap Senin, di perusahaan tempatku bekerja selalu terjadi pergantian shift. Kala itu, memang sangat melelahkan karena pagi buta pulang kerja malam, siang bolong harus kerja lagi sampai malam. “Maklum budak korporat,” bergumam dalam hati.

Sejenak, aku dapati ponselku yang terus berkedip, simbol notifikasi yang numpuk. Benar saja, ternyata puluhan kali panggilan terlewatkan dari ibu, kakak, ipar, dan sanak saudara lainnya. Hal ini membuatku lekas sadar dan terheran-heran.

“Assalamu’alaikum Kak,” sambut ku hangat dalam telepon whatsApp.

“Wa’alaikumsalam Ta, kamu di mana?” tanyanya lirih.

“Aku di mes Kak. Maaf baru bangun tidur, soalnya over shift malam ke siang. Hape Pita disilent kan,” terangku.

“Iya Ta, sekarang Pita dengerin Kakak, Mbah Panut itu siapa Ta?” tanyanya membingungkan.

“Bapak Pita lah,” jawabku lantang.

“Oke, Pita yang tenang ya,” jawabnya lirih.

“Iya, bapak kenapa kak? Kemarin siang abis telponan sebelum berangkat kerja. Cuman Pita memang belom telpon lagi, soalnya pulang kerja langsung tidur Kak,” tuturku.

“Yang namanya Mbah Panut tadi jatuh dari pohon, sekarang sudah almahrum Ta,” ujarnya.

“Pita yang tenang, sekarang Pita izin sama leader, Kakak sekarang jemput ke mes, kita langsung otw pulang kampung. Inget ya, kemarin kita sudah diskusi panjang tentang qada dan qadar, Pita tenang,” imbuhnya.

Air mata berderai, memecahkan keheningan kamar dan menimbulkan banyak pertanyaan dari teman-teman.

Tidak pernah kabur dari memoriku, kabar pahit ini selalu beradu dalam benakku, bahkan usai delapan tahun kepergiannya. Bagaimana rasa sesak itu enggan pergi. Masih tergambar jelas, bayang-bayang senyum manis sembari melambaikan tangan sebagai simbol dukunganku dalam perjalanan merantau ke kota orang. Tak pernah terbesit dalam benakku, sosok ayah yang sangat aku cintai, tiba-tiba pergi tanpa berpamitan dan memberi aba-aba.

“16 Juli 2018 menjadi perpisahan menyakitkan dan tak terlupakan.” pikirku sambil menghela nafas panjang.

Dalam perjalanan pulang, angin malam yang menusuk ke relung hati terdalam, membuatku buyar akan milestone yang sudah disusun rapi, bahkan sudah setengah perjalanan. Rasa sesal membayangiku sampai detik ini. Selama perjalanan aku sudah tidak memikirkan lagi keinginanku kuliah, impianku punya motor sendiri dari tabunganku, harapanku sukses di kota orang, bahkan aku hanya memikirkan bagaimana tidak menyesal kedua kalinya, dengan selalu di samping ibuku.

Setibanya di rumah bata merah yang sama, dengan suasana berbeda, terdengar lantunan surah Yasin seakan menyayat kulit. Air mata sudah tak mampu terbendung lagi di hadapan tubuh yang diselimuti kain selendang tanpa seujung jari kuku yang nampak. Tangan yang hangat menjadi sangat dingin, senyum yang manis itu masih aku dapati meskipun dengan mata yang tidak akan terbuka kembali. Sosok tampan cinta pertamaku sudah pergi tanpa berpamitan! Duniaku hancur, harapanku runtuh, ceriaku ikut pergi bersamanya.

“Pak, nopo kudu saiki? Nopo pas Pita hijrah lan belajar istikamah?” tanyaku dalam hati.

(Pak, kenapa harus sekarang? Kenapa ketika Pita sudah hijrah dan belajar istikamah?)

Maklum, budaya keluargaku tidak seperti budaya nigrat. Dalam komunikasi kami lebih dominan pakai bahasa jawa ngoko alus. Kata bapakku, “bapak dadekno konco yo nduk (Bapak jadikan teman ya nduk)”.

Air mata ini tak bisa diajak kompromi sebentar saja. Hasratku, ingin terlihat tegar menemani perjalanan cinta pertamaku pulang. Kendati demikian, rasa pilu memaksaku membungkuk, mata pun secara mendadak menjadi luapan banjir bandang. Bahkan, sesampainya aku di hadapan makam bapak, tempat tidur baru dengan tanah basah dan aroma bunga mawar yang khas, isak tangis kian tak terbendung lagi.

Teringat sumpahku di hadapan makam bapak, untuk taat syariat, tunduk pada hukum syara, terus belajar, lulus sarjana dengan nilai terbaik, menjadi orang berdaya, dan mampu menolong bapak di alam kubur dengan lantunan doa-doa dan persembahan amal jariahku.

“Aku saiki yakin kudu istikamah, nko kumpul nang surga nggih Pak. Sepurane yo Pak, durung iso gawe bunggah,” bisikku lirih.

(Aku sekarang yakin haru istikamah, nanti kumpul di surga ya pak. Maaf ya Pak, belum bisa bikin bapak bahagia)

Sampai detik ini, aku masih setia dengan janji itu, aku lulus sarjana Akuntansi dengan IPK 3,49 tepat waktu. Meskipun dengan IPK tidak sempurna tetapi aku mampu lulus versi terbaikku, di tengah gempuran kerja era budak korporat dengan kerepotan membersamai anak bayi dan hamil anak kedua. Aku juga mampu menjadi penulis ideologis dengan konsisten karya-karya yang mencerdaskan umat, menjadi aktivis muslimah yang terus belajar dan belajar, bahkan menjadi pembicara di beberapa acara remaja.

Aku mengerti dan sangat paham, sosok ayah memang tidak menyaksikan dan menemani setiap langkah kecilku. Tetapi aku yakin, setiap langkah kecilku yang mencoba taat kepada Sang Pencipta mampu memberikan secercah cahaya di gelap guritanya alam kabur.

Kita hanya terpisah jarak sementara, semoga usahaku, setiap langkah kecilku, dan doa yang tak padam, kelak mampu mempertemukan kita yang kedua kalinya di jannah-Nya. Kita akan berkumpul utuh dan tak terpisahkan lagi.

Oleh: Novita Ratnasari, S.Ak.
Penulis Ideologis, Peserta Pelatihan Menulis Feature News (FN) Tinta Media

Loading

Views: 13

TintaMedia.Com : Menebar opini Islam di tengah-tengah umat yang terkungkung sistem kehidupan sekuler.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TULISAN TERBARU

SEDANG TRENDING

MENANGKAN OPINI ISLAM

JADWAL SHOLAT DI KOTA ANDA