Tinta Media – Peringatan Hari Ibu yang dirayakan setiap tanggal 22 Desember baru saja berlalu. Akan tetapi, para ibu masih mendapatkan banyak penderitaan yang memilukan hati.
Derita Para Ibu
Menurut data BPS (Badan Pusat Statistik), ada 10.783 laporan kasus KDRT (Kekerasan Dalam Rumah Tangga) di tahun 2023. Angka KDRT mengalami kenaikan sebesar 95 persen dibandingkan dengan tahun 2022 dengan jumlah 5.526 kasus. Dalam laporan tersebut, angka KDRT terbanyak berada di wilayah Jadetabek (Jakarta, Depok, Tangerang, Bekasi).
Tak hanya mengalami KDRT, sosok ibu pun menjadi sasaran pembunuhan yang dilakukan oleh anggota keluarga terdekat yaitu suami dan anak kandung. Pembunuhan yang dilakukan oleh anak kandung terhadap ibunya disebut matrisida, sedangkan pembunuhan yang dilakukan suami kepada istrinya disebut uksorisida. Penyebab para pelaku menghilangkan nyawa sosok ibu atau istri yang seharusnya dicintai karena berbagai sebab antara lain, gangguan mental parah, pasifnya peran ayah, hubungan bermusuhan, kecemburuan hingga dugaan perselingkuhan.
Kenaikan harga bahan pokok, kenaikan harga BBM, mahalnya biaya pendidikan dan kesehatan, serta kenaikan PPN 12 persen di tahun 2025, membuat beban derita para ibu semakin bertambah. Apalagi PHK (Pemutusan Hubungan Kerja) oleh berbagai perusahaan pun banyak terjadi, sehingga makin memberatkan para ibu yang bertugas mengatur perbelanjaan rumah tangga.
Penyakit IMS (Infeksi Menular Seksual) dan HIV/AIDS juga membayang-bayangi nasib para ibu. Rata-rata penambahan kasus IMS di angka 17.000 hingga 20.000 kasus setiap tahunnya. Sedangkan kasus HIV baru bertambah 5.100 kasus setiap tahunnya. Penyebab kelompok ibu rumah tangga terkena IMS dan HIV/AIDS karena memiliki pasangan dengan perilaku seksual yang beresiko. Informasi tersebut dikeluarkan oleh Kementerian kesehatan pada tahun 2023.
Penyebab Derita Para Ibu
Diterapkannya sistem kapitalisme telah membuat derita ibu semakin hari semakin berat dan bertambah parah. Sistem ini tidak berpihak pada penyejahteraan rakyat khususnya para ibu karena sistem ini hanya berpihak pada kaum elit. Hal ini terlihat pada berbagai kebijakan yang dikeluarkan, seperti kebijakan ekonomi, di mana perputaran uang hanya terdistribusi di kalangan elit saja. Sedangkan kalangan menengah ke bawah hanya menerima sedikit pendistribusian keuangan, ditambah berbagai kebijakan ekonomi yang banyak menjerat kalangan menengah ke bawah.
Penerapan aturan yang memisahkan agama dari kehidupan atau Sekularisme semakin membuat para ibu dalam jurang keterpurukan. Berbagai perilaku penyimpangan seksual dan zina menjadi hal lumrah saat ini dengan alasan suka sama suka, atau kebebasan menentukan orientasi seksual sebagai bagian dari hak asasi manusia. Padahal perilaku tersebut adalah perilaku yang dilarang agama. KDRT hingga pembunuhan yang menimpa para ibu semakin marak terjadi karena tidak adanya jerat hukum yang membuat jera para pelaku.
Kesadaran para anggota keluarga untuk memuliakan posisi para ibu mulai pudar karena ajaran agama sudah tidak dijadikan landasan dalam berfikir dan bertingkah laku. Sistem ini pun membuat para ibu banyak yang jauh dari ketakwaan kepada Allah dan RasulNya. Mereka tidak mendorong dirinya untuk banyak menuntut ilmu agama agar mampu mengarahkan keluarga sesuai standar Islam.
Islam Lenyapkan Derita Ibu
Banyak ayat dan hadis yang menggambarkan bahwa sosok ibu begitu mulia dan memiliki peran yang luar biasa. Peran ibu dalam keluarga digambarkan Islam sebagi pendidik pertama dan utama bagi anak-anaknya. Ibu dan ayah berperan besar dalam menanamkan keimanan, berfikir dan bersikap sesuai Islam. Dalam lingkup masyarakat dan negara, para ibu menjadi tiang kebangkitan Islam dan pembangun peradaban. Dari rahim-rahim mereka akan lahir generasi yang siap menjadi pengemban dakwah Islam ke seluruh penjuru dunia.
Karena peran itulah, seorang ibu akan mendorong dirinya untuk banyak belajar dan terus mengikatkan diri dalam ketakwaan. Islam akan memberi kesempatan seluas-luasnya kepada para wanita untuk belajar sehingga ia menjadi ibu yang mampu mencetak generasi unggul.
Islam juga akan mencegah segala perilaku penyimpangan seksual dan zina sehingga kesehatan ibu bisa terjaga dari penyakit IMS dan HIV/AIDS. Jika ditemukan para suami yang masih melakukan perbuatan-perbuatan keji tersebut maka mereka akan dihukum sesuai aturan Islam yaitu hukuman mati dan rajam. Termasuk hukuman berat akan diterapkanbagi pelaku pembunuhan.
Islam akan mendorong para pemimpin untuk membuat kebijakan ekonomi yang tidak merugikan rakyat. Islam mewajibkan para pemimpin memberikan fasilitas pendidikan dan kesehatan secara cuma-cuma. Para pemimpin harus mengupayakan terbukanya banyak lapangan pekerjaan yang halal, kemudahan untuk mendapatkan akses bagi pemenuhan kebutuhan pokok, maupun harga murah dalam mendapatkan bahan bakar.
Pemimpin dalam sistem Islam wajib mengurus rakyatnya termasuk para ibu. Sebagaimana yang disabdakan Nabi Muhammad saw. dalam hadis, “Pemimpin suatu kaum adalah pelayan mereka” (HR. Abu Nu’aim). Juga dalam hadis yang diriwayatkan Bukhari, Nabi Muhammad bersabda, “Imam adala raa’in (gembala) dan ia bertanggung jawab terhadap rakyatnya.”
Seorang pemimpin harus menyadari bahwa ia adalah pelayan bagi umat, sehingga ia harus menciptakan lingkungan masyarakat dan negara yang kondusif. Hal itu hanya bisa didapat ketika seorang pemimpin mau menerapkan syariat Islam secara kafah. Jika syariat Islam yang menjadi landasan seorang pemimpin dalam mengurus negara, maka para ibu akan mendapatkan kembali kemuliaan dan kebahagiaan. Bukan sembilu seperti saat ini.
Oleh: Junita
Penulis
![]()
Views: 20
















