Merindukan Pemimpin yang Amanah

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
WhatsApp
Twitter
Telegram
Threads

Tinta Media – Negeri ini akan makmur serta jauh dari berbagai persoalan dan musibah apabila dipimpin oleh sosok pemimpin yang amanah—yang rasa takutnya hanya tertuju kepada Allah Swt. Namun, dalam sistem kapitalisme, sangat sulit menemukan pemimpin yang benar-benar baik dan amanah dalam menjalankan tanggung jawabnya. Banyak di antara mereka tidak merasa takut membuat rakyat menderita melalui kebijakan pajak yang memberatkan. Mereka pun tidak merasa berdosa mencuri uang rakyat demi memperkaya diri dan memenuhi gaya hidup hedonis.

Sumber daya alam yang seharusnya dikelola untuk kesejahteraan rakyat justru diserahkan kepada perusahaan swasta dan asing. Bahkan, perusakan alam demi keuntungan materi dilakukan tanpa rasa bersalah, padahal dampaknya memicu bencana mengerikan seperti banjir bandang dan tanah longsor yang terjadi di Sumatra dan sekitarnya.

Sebagian pemimpin hanya pandai melakukan pencitraan dan menebar janji-janji manis yang tidak pernah terwujud. Aksi memanggul karung dilakukan agar terlihat peduli pada rakyat, namun mereka menutup mata terhadap kebijakan yang melegalkan penebangan hutan dan berujung pada bencana. Blusukan dan masuk gorong-gorong sekadar menjadi simbol kerakyatan, sementara kebijakan yang diambil justru menyengsarakan rakyat. Kebohongan menjadi kebiasaan demi terlihat berhasil di hadapan manusia, padahal Allah Swt. Maha Mengetahui apa yang ditampakkan maupun yang disembunyikan.

Di tengah kondisi tersebut, umat merindukan sosok pemimpin seperti Khalifah Umar bin Khaththab. Dalam kisah yang masyhur, beliau memanggul gandum bukan demi pencitraan, melainkan sebagai wujud tanggung jawab dan kepedulian terhadap rakyat miskin yang kelaparan. Beliau melakukannya sendiri dan menolak bantuan ajudannya karena takut kelak dimintai pertanggungjawaban oleh Allah Swt. atas penderitaan rakyatnya. Kisah ini menunjukkan kesederhanaan dan kepedulian luar biasa seorang pemimpin terhadap kesejahteraan rakyat.

Kita juga mengenal keteladanan Khalifah Umar bin Abdul Aziz. Suatu malam, ketika putranya datang untuk urusan keluarga, beliau memadamkan lampu negara yang menggunakan minyak milik negara, lalu menyalakan lampu pribadi yang menggunakan uang keluarganya sendiri. Tindakan ini menunjukkan ketegasan beliau dalam memisahkan urusan publik dan pribadi. Beliau dikenal _zuhud_, antikorupsi, serta mengembalikan harta rampasan yang bukan haknya. Keadilan, kejujuran, dan pengabdiannya kepada rakyat menjadikannya teladan pemimpin yang amanah dan layak dicontoh.

Selain itu, terdapat pula kisah Umair bin Sa’ad, seorang pemimpin yang terkenal karena kejujuran dan keimanannya yang kukuh sejak usia muda. Beliau menjabat sebagai Gubernur Homs di bawah kepemimpinan Khalifah Umar bin Khaththab. Umair bin Sa’ad hidup sangat sederhana dan _zuhud_, tidak mencari kekayaan ataupun jabatan. Ia sangat takut terhadap perkara _syubhat_ dan tidak pernah mengambil sesuatu yang bukan haknya. Harta negara dikelola dengan amanah dan sepenuhnya digunakan untuk kepentingan rakyat. Ia menegakkan hukum secara adil serta membangun wilayahnya melalui zakat dan pajak yang disalurkan kepada masyarakat yang membutuhkan, bukan untuk kepentingan pribadi.

Kisah-kisah tersebut menunjukkan bahwa pemimpin yang amanah adalah pemimpin yang bertanggung jawab penuh terhadap rakyat, hidup sederhana, menjunjung tinggi keadilan, serta tidak menyalahgunakan kekuasaan demi kepentingan pribadi. Keteladanan ini seharusnya menjadi cermin bagi para pemimpin masa kini. Sayangnya, pemimpin amanah hampir tidak ditemukan dalam sistem kapitalisme demokrasi. Wallahualam bissawab.

Oleh: Mochamad Efendi
Sahabat Tinta Media

Loading

Views: 31

TintaMedia.Com : Menebar opini Islam di tengah-tengah umat yang terkungkung sistem kehidupan sekuler.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TULISAN TERBARU

SEDANG TRENDING

MENANGKAN OPINI ISLAM

JADWAL SHOLAT DI KOTA ANDA