Tinta Media – Berulangnya sejarah bangsa-bangsa yang bangkit dan mencapai puncak kejayaan, menurut Perhimpunan Intelektual Muslim Indonesia (HILMI) hampir selalu ditandai oleh keputusan fundamental menahan konsumsi demi investasi masa depan.
“Kebangkitan peradaban bangsa-bangsa hampir selalu ditandai oleh satu keputusan fundamental yaitu masyarakat memilih menahan konsumsi hari ini demi investasi masa depan,” ulas HILMI melalui Intellectual Opinion yang dirilis pada Selasa (3/2/2026), berjudul: “Setiap Bangsa Ada Umurnya, Membaca Ulang Siklus Peradaban”.
Investasi itu, lanjutnya, bukan sekadar pembangunan fisik, tetapi penanaman kapasitas—manusia, ilmu, teknologi, dan institusi.
“Ketika investasi produktif lebih besar daripada konsumsi, produksi meningkat lebih cepat, surplus tercipta, dan kemandirian menguat. Inilah wajah ekonomi dari solidaritas: kesediaan kolektif untuk menunda kenikmatan demi kekuatan jangka panjang,” bebernya.
Sebaliknya, HILMI menjelaskan bahwa keruntuhan peradaban dimulai saat keseimbangan itu terbalik yaitu konsumsi melampaui produksi, gaya hidup melampaui kapasitas riil, dan selisihnya ditutup dengan defisit serta utang. Pada tahap awal, utang memberi ilusi keberlanjutan.
“Ketika utang menjadi struktural dan produktivitas stagnan, peradaban sedang menunda konsekuensi, bukan menghindarinya. Di sinilah ekonomi menjadi cermin terjujur dari kerusakan nilai,” jelasnya.
Dalam konteks modern, tandas HILMI, pilihan antara investasi dan konsumsi menemukan medan terpentingnya pada ilmu pengetahuan dan teknologi.
“Tidak ada investasi yang lebih strategis bagi umur peradaban selain pendidikan yang membentuk nalar, riset yang memecahkan masalah nyata, dan inovasi yang mengubah pengetahuan menjadi produksi,” imbuhnya.
HILMI mengingatkan, sejarah juga mengajarkan bahwa ilmu pengetahuan tidak dapat berdiri sendiri. “Tanpa investasi pada institusi hukum, tata kelola, dan etika publik, ilmu justru bisa mempercepat keruntuhan,” ungkapnya.
HILMI menilai, kebangkitan peradaban bukanlah soal menjadi kaya, melainkan soal menahan diri untuk menanam. Keruntuhan peradaban, juga sebutnya, bukanlah soal menjadi miskin, melainkan soal berhenti belajar dan terlalu cepat menikmati.
“Sejarah tidak menghukum bangsa karena kekurangan sumber daya, tetapi karena kekurangan visi, disiplin, dan keberanian berinvestasi pada masa depan,” tutupnya.[] Erlina
![]()
Views: 4














