Tiga Faktor yang Memengaruhi Keputusan Trump Soal Perang terhadap Iran

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
WhatsApp
Twitter
Telegram
Threads

Tinta Media – Menyikapi perkembangan terbaru Amerika Serikat (AS), Israel, dan Iran yang menunjukkan adanya upaya penghentian konflik, yakni adanya kesepakatan awal (memorandum of understanding), pada 14-15 Juni yang ditandatatangani secara virtual oleh kedua belah pihak, Cendekiawan Muslim Ustadz Muhammad Ismail Yusanto (UIY) menegaskan, setidaknya ada tiga faktor yang memengaruhi keputusan Presiden AS Donald Trump apakah kesepakatan itu akan menghentikan perang terhadap Iran atau tidak?

Hal tersebut diungkapnya dalam Program Focus to The Point, Iran-AS Berdamai, Israel Ngamuk? di kanal Youtobe UIY Official (23/6/2026).

Adapun ketiga faktor tersebut yakni: Pertama, opini publik dalam negeri yang terus mempertanyakan tujuan perang itu.

“Trump berusaha menjelaskan, tapi semakin dijelaskan semakin muncul paradoks di sana. Misalnya ketika Trump mengatakan perang dilakukan untuk menghancurkan instalasi nuklir Iran,” tuturnya.

Bahkan, lanjutnya, ketika publik menuntut hasil dari perang tersebut, Trump mengatakan, instalasi nuklir Iran telah dihancurkan sebagai bukti keberhasilan. Namun, ketika muncul pertanyaan mengenai alasan perang terus berlanjut, Trump menyatakan ancaman masih ada, yaitu Iran.

“Iran kenapa terus dianggap mengancam? Karena Iran punya instalasi nuklir. Padahal, kemarin sudah dikatakan instalasi nuklir sudah dihancurkan. Ini sesuatu yang tidak bisa dikendalikan sepenuhnya,” ujarnya.

Selain itu, UIY menyoroti besarnya biaya perang. “Apalagi faktanya, biaya perang itu sangat besar dan publik AS pasti tahu, uang 500 triliun itu uang pajak mereka (rakyat AS) yang dipakai secara semena-mena untuk sesuatu yang tidak ada hubungannya dengan mereka,” bebernya.

Publik pun sebut UIY, mengetahui pihak yang paling banyak mengambil keuntungan dari perang adalah defense industrial (industri pertahanan), mulai dari penyedia jasa, penyedia bahan atau material, hingga produsen pesawat dan berbagai jenis senjata.

“Semua orang tahu itu terhubung dengan para politikus baik Partai Demokrat maupun dengan Partai Republik,” ungkapnya.

Kedua, Trump melihat jika perang diteruskan, AS akan mengalami kerugian besar. Jika perang dihentikan, dapat dimaknai sebagai kekalahan.

“Trump melihat kalau ini (perang) diteruskan akan bonyok (bahasa Jawanya), tapi kalau dia dihentikan bisa dimaknai kalah. Dan dia tidak mau dipersepsi seperti kalah,” jelasnya.

Karena itu, tegas UIY, Trump berusaha mengatur cara mengakhiri perang yang sebelumnya tampak tidak memiliki exit plan yang jelas. Itu semua terlihat dari pernyataan Trump yang berulang kali mengatakan kesepakatan telah tercapai, meskipun dibantah oleh Iran. Narasi tersebut dibangun untuk menunjukkan AS tidak kalah.

“Secara faktual kita bisa katakan AS itu kalah. Kalah dalam arti ada banyak hal-hal yang dulu tidak dimiliki Iran, sekarang dimiliki. Tidak ada yang dulu AS itu harus memberikan kepada Iran, dia harus berikan. Apa itu? Sekarang Iran berani menutup Selat Hormuz dulu tidak. Iran juga bisa meminta seluruh dana mereka harus dicairkan yang sekian puluh tahun hampir setengah abad diblok di berbagai negara, sesuatu yang dulu tidak begitu,” bebernya.

Menurutnya, kondisi tersebut dapat dibaca sebagai sebuah kekalahan bagi AS. Dari sisi lain, itu merupakan kemenangan bagi Iran. “Ketika sebuah negara diserang, mampu bertahan, lalu mencapai meja perundingan hingga melahirkan kesepakatan damai, maka hal itu merupakan sebuah kemenangan,” imbuhnya.

Ketiga, menjadi poin penting bagi dunia Islam, karena Iran muncul sebagai negara yang membuktikan bisa melawan negara adidaya.

“Kondisi ini tidak serta-merta menghilangkan dominasi AS di Timur Tengah. Setidaknya dunia melihat AS tidak sekuat yang selama ini digembar-gemborkan, dipikirkan, atau ditakutkan,” tegasnya.

Sebenarnya, ujar UIY, para penguasa di kawasan Teluk dapat membuktikan secara langsung AS tidak datang untuk melindungi kepentingan mereka. Menurutnya, negara-negara seperti Kuwait, Bahrain, Qatar, dan Uni Emirat Arab berada dalam posisi berhadapan dengan Iran. Namun, ketika pangkalan militer AS di wilayah tersebut diserang, AS tidak dapat mencegahnya.

Ia pun menyebutkan, hal itu menimbulkan pertanyaan mengenai fungsi kehadiran AS di kawasan tersebut. Iran juga hanya menyerang pangkalan militer AS.

“Ini tentu menjadi sebuah fakta yang sangat mungkin mengoreksi pandangan (stereotyping) penguasa kawasan Teluk termasuk Arab Saudi, bahwa AS itu sangat diperlukan untuk melindungi mereka. Dan mereka mau memberikan kompensasi apa pun untuk perlindungan ini,” sebutnya.

Meski demikian, ia menilai kondisi ini tidak berarti AS akan berhenti menyerang Iran pada masa mendatang.

“Kita tahu penjahat itu selamanya akan penjahat. Jadi AS itu tidak pernah bergeser dari negara adi kuasa, imperialis, kolonialis yang akan menghisap darah siapa pun untuk kepentingannya. Sekarang ini tampak AS harus menanti perjanjian damai. Sekali lagi, itu hanya sementara dan mungkin suatu hari nanti akan melakukan hal yang sama. Jika tidak kepada Iran mungkin di tempat lain,” pungkasnya.[] Siti Aisyah

Loading

Views: 11

TintaMedia.Com : Menebar opini Islam di tengah-tengah umat yang terkungkung sistem kehidupan sekuler.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TULISAN TERBARU

SEDANG TRENDING

MENANGKAN OPINI ISLAM

JADWAL SHOLAT DI KOTA ANDA