Tinta Media – Terkait penolakan warga Wadas bahwa daerahnya akan dijadikan tempat penambangan batuan andesit untuk membangun waduk dinilai oleh Direktur Pamong Institute Wahyudi Al Maroky ada komunikasi yang kurang transparan.
“Ada komunikasi yang kurang transparan. Tidak ada penjelasan pada rakyat, apa yg dimaksud proyek itu, untuk kepentingan siapa dan sebagainya,” tuturnya dalam acara Bincang bersama Sahabat Wahyudi: Solusi Waras untuk Wadas, Selasa (22/2/2022) di kanal Youtube Jakarta Qolbu Dakwah.
Menurut Wahyudi, seandainya rakyat dikasih tahu dengan baik-baik mungkin mereka bukan sekedar sukarela, tapi bisa jadi mereka ikut membantu. “Kenapa kok bisa mereka nggak mau nyumbang bahkan tidak mau memberikan, ini pasti ada persoalan besar,” tukasnya.
“Kalau rakyat dijelaskan dengan baik saya pikir ini hal yang mudah. Akan sulit dijelaskan kalau ada yang ditutup-tutupi,” jelas Wahyudi.
Wahyudi menilai pemerintah tidak transparan tapi menggunakan kekerasan. “Ini sudah tidak sesuai dengan tujuan negara dibentuk. Membangun itu kan hanya salah satu sarana untuk meningkatkan kesejahteraan. Kalau rakyatnya merasa bahwa pembangunan itu tidak mensejahterakan, atau bahkan bisa jadi malah merusak lingkungannya, kan membuat rakyat makin tidak sejahtera,” jelasnya.
“Apalagi kalau berdasar visibility lingkungan, tempat itu kan tempat kehidupan warga, tempat kehidupan habitat disitu, termasuk keseimbangan alamnya. Kalau itu dibongkar berarti tidak ada daerah penangkapan air hujan, dan mengganggu kelestarian lingkungan,”imbuhnya.
Menurut Wahyudi, kalau pembangunan tidak membuat sejahtera, ngapain dilakukan. Berarti ada pihak lain yang sedang cari untung disitu yang tidak memikirkan bahaya lingkungan, mata pencaharian rakyat dan sebagainya.
“Saya berharap ketika pemerintah membuat suatu proyek harus betul-betul untuk rakyat dan tujuannya untuk mensejahterakan,”pungkasnya.[] Irianti Aminatun
![]()
Views: 2
















