Tinta Media – Pengamat Hubungan Internasional, Hasbi Anwar, Ph.D. menilai bahwa kudeta yang terjadi di negara-negara di Afrika disebabkan kendali militer yang kuat.
“Cerita politik negara-negara itu adalah kudeta . Ini terjadi karena negara-negara tersebut setelah merdeka memang dikendalikan oleh militer yang punya kuasa dan kekuatan,” tuturnya dalam acara Kabar petang: Tren Kudeta Militer di Afrika Menyingkap Hegemoni Barat, Sabtu (12/2/2022) di kanal Youtube Khilafah News.
Menurutnya, militer jugalah yang mengarahkan arah politik di negara-negara seperti Guenia, Mali, Burkhina Faso dan Sudan.
Ia memberikan contoh di Mali. “Mali dalam kurun waktu setahun 2020-2021 presiden dan perdana menteri berganti dua kali,” jelasnya.
“Walaupun memang sejak 2010 sampai sekarang ada upaya dari gerakan gerakan sipil untuk melakukan demokratisasi di sana . Tapi tidak bertahan lama karena tetap militer punya kendali yang kuat di negara tersebut,” terangnya.
Kaya Mineral
Hasbi menuturkan bahwa walaupun Afrika itu daerah miskin, terbelakang, daerah yang tidak subur, tapi dari segi mineral seperti emas barang-barang tambang di sana itu sangat besar yang selama ini menguntungkan negara negara besar termasuk Amerika Serikat.
“Negara-negara besar itu menggunakan tangan-tangan kekuasaan di negara negara tersebut untuk melanggengkan kekuasaan mereka,” tegasnya.
Bisa jadi, lanjutnya, pertarungan antara elit yang ada di sana itu ada support dari negara-negara besar yang ada disana. “Misal antara Perancis yang ingin tetap pengaruhnya di sana. Di sisi lain kelompok yang pro Cina atau pro Amerika ingin mengambil alih peran atau pengaruh Peransis di sana,” jelasnya.
“Negara-negara ini secara militer sangat lemah, sehingga otomatis mereka harus mengambil support dari negara-negara besar,” lanjutnya.
Jadi, lanjut Hasbi, kalau misalnya ada dalang di balik itu, yaitu negara-negara besar itu sangat mungkin terjadi. Kita sering mendengar atau baca sejarah , negara-negara maju itu kadang-kadang menggunakan tangan-tangan para pemberontak untuk memperjuangkan kepentingan mereka disebuah negara.
Sudan
Hasbi menuturkan bahwa Sudan sejak kepemimpinan Omar al-Bashir 1989-2019, walaupun menyatakan diri sebagai negara yang bersyariah dan hukum yang diterapkan adalah syariah Islam, tapi dari sisi ekonomi, politik, Sudan sangat tergantung pada Amerika, IMF, World Bank .
“Ada pertarungan domestik antara sipil dan militer di Sudan. Tapi siapapun yang menang tetap yang menguasai Sudan secara politik dan ekonomi adalah IMF. Dibalik IMF ada Amerika sebagai donatur terbesar IMF,” paparnya.
Hegemoni Barat
Hasbi menilai ada dua faktor penting kenapa negara-negara besar bisa tetap menjajah negara-negara di Afrika.
“Variabel yang paling penting, yang paling tinggi dalam sebuah negara adalah militer, setelah militer tunduk baru secara ekonomi,” tegasnya.
Menurut Hasbi, dua faktor penting inilah yang dimainkan oleh negara-negara besar di Afrika. Negara-negara besar seperti Perancis dan yang lainnya memiliki pengaruh kuat secara militer di Sudan, Mali, Guenia,dan Burkhina Faso.
“Sedangkan secara ekonomi kalau kita baca dalam banyak literatur dijelaskan bahwa cara-cara Amerika itu kurang lebih sama yaitu mereka masuk membawa dana. Bahkan dalam studi kami di hubungan internasional itu sampai ada istilah ‘dolar diplomasi’ yaitu merayu negara lain supaya ikut dalam kepentingan politiknya melalui pemberian uang (utang) kepada mereka,” jelasnya.
Hasbi mengatakan ini terjadi di negara-negara Afrika. Bahkan cara Amerika ini diikuti Cina.
“Negara-negara seperti Sudan, Mali, Guenia, Burkhina Faso tetap minus tidak bisa bayar utang ke IMF,”pungkasnya.[] Irianti Aminatun
![]()
Views: 0
















