Himayah Konsultan: Menjadi Peramal Adalah Tindakan Kufur Menyetarakan Diri dengan Tuhan

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
WhatsApp
Twitter
Telegram
Threads

Tinta Media – Menjadi peramal atau cenayang (kahin/arofan) yang mengaku mengetahui nasib manusia atau hal gaib merupakan tindakan kufur karena menyetarakan diri dengan Tuhan (Allah SWT).

Hal tersebut disampaikan Ustadz Iskandar Yadi Hasibuan dari Himayah Konsultan dalam program “Kabar Petang: Hard Gumay, Nostradamus Baba Vanga, Why Ramalan Banyak di Cari Netizen?” Selasa (30/12/2025), di kanal YouTube Khilafah News.

“Mengetahui hal yang gaib. Dan ini hak Allah semata. Maka ini bertentangan dengan Tauhid. Jadi jatuhnya apa? Seseorang (peramal) yang mengaku mengetahui hal gaib berarti dia menyetarakan diri dengan Tuhan, dengan Allah. Maka di sini dia bisa menjadi kufur,” ungkapnya.

Apalagi di era modern saat ini, Hasibuan memperingatkan, sebenarnya sudah tidak layak lagi masyarakat mempercayai dukun, peramal, atau “orang pinter” terkait nasib masa depan.

Ia lantas menekankan pentingnya mengingatkan keluarga, saudara, tetangga, dan masyarakat luas agar tidak mendatangi peramal, karena hal tersebut memiliki konsekuensi serius dalam ibadah.

“Dalam hadits dikatakan: ‘Barang siapa yang mendatangi tukang ramal, lalu dia bertanya kepadanya tentang sesuatu. Maka tidak diterima sholatnya 40 hari’. Itu baru bertanya dan dia membenarkannya, maka dia telah kufur,” pesannya mengingatkan.

Hasibuan menambahkan bahwa dalam hadits juga disebutkan terdapat tiga profesi yang dinilai buruk dan penghasilannya haram, salah satunya adalah peramal.

“Nabi salallahu alaihi wa sallam melarang. Yang pertama, jual beli anjing. Gak boleh itu, harta yang di dapatkan dari jual anjing itu tidak halal. Yang kedua, uang yang didapatkan dari hasil pelacuran. Dan ketiga adalah, uang yang didapatkan dari aktivitas meramal. Jadi artinya apa? Tidak ada satu pun yang didapatkan ketika kemudian menjadi peramal, kecuali keburukan,” ulasnya.

Peran Negara

Lebih lanjut, Hasibuan menilai bahwa negara memiliki peran penting dalam mengatasi maraknya praktik ramalan di tengah masyarakat.

Ia menegaskan bahwa dalam Islam, negara bertugas menjaga individu, masyarakat, dan negara itu sendiri.

“Bahwa Islam itu pertama, menjaga individu. Yang kedua, Islam itu datang untuk menjaga masyarakat. Dan juga Islam datang untuk mengatasi tindak kekufuran ramalan nasib atau ramalan bintang (zodiak) di tengah masyarakat,” jelasnya.

“Yang ketiga apa solusinya? Yaitu dari adanya negara. Jadi negara itu harus hadir menjaga akidah umat, akidah keluarga-keluarga muslim, akidah seorang muslim dengan aturannya. Jadi negara itu punya peran, di antaranya apa? Menerapkan hukum (sanksi),” pungkasnya.[] Imam Wahyono

Loading

Views: 25

TintaMedia.Com : Menebar opini Islam di tengah-tengah umat yang terkungkung sistem kehidupan sekuler.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TULISAN TERBARU

SEDANG TRENDING

MENANGKAN OPINI ISLAM

JADWAL SHOLAT DI KOTA ANDA