Tinta Media – Jurnalis Senior Joko Prasetyo menilai bahwa demokrasi sering berjalan atas nama modal. “Demokrasi berbicara atas nama rakyat, tetapi sering berjalan atas nama modal,” ulasnya dalam postingan di akun Facebook pribadinya berjudul “Siapa Yang Berdaulat, Rakyat atau Pemodal?” Sabtu (28/3/2026).
Menurutnya, hal itu terjadi karena politik dan modal bukan dua dunia terpisah tetapi saling menopang. “Dalam realitas elektoral: pemilu membutuhkan biaya besar, partai politik membutuhkan logistik raksasa, dan kandidat membutuhkan dukungan finansial,” bebernya.
Jurnalis yang akrab disapa dengan Om Joy ini memaparkan, berbagai kajian tentang kapitalisasi demokrasi menunjukkan praktik politik modern sering kali terjerat oleh kekuatan modal dan jaringan patronase ekonomi, maka lahirlah fakta yang tidak nyaman.
“Rakyat memilih, tetapi tidak menentukan; rakyat mencoblos, tetapi tidak mengendalikan; dan rakyat hadir, tetapi tidak berdaulat,” kritiknya.
Sehingga, lanjut Om Joy, jika demokrasi berjalan dalam ekosistem kapitalisme maka berbagai regulasi yang lahir kental dengan kepentingan kapitalis.
Konsekuensinya, jelas Om Joy, regulasi tidak lahir di ruang netral, tetapi lahir dari tarik-menarik kepentingan.
“Dalam praktiknya: sumber daya alam dikuasai korporasi; kebijakan berpihak pada pemilik modal; dan rakyat menjadi objek, bukan subjek,” bebernya lagi.
“Dan ketika rakyat melawan? Mereka akan berhadapan dengan hukum, yang ironisnya lahir dari sistem yang tidak benar-benar mereka kendalikan,” pungkasnya.[] Novita Ratnasari
![]()
Views: 9
















