Jurnalis: Sejak Kapan Perbedaan Diselesaikan dengan Api?

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
WhatsApp
Twitter
Telegram
Threads
Jurnalis: Sejak Kapan Perbedaan Diselesaikan dengan Api?

Tinta Media – Jurnalis Joko Prasetyo (Om Joy) mempertanyakan sikap Kyai Luthfi Bashori yang membakar buku karena tidak cocok dengan isinya. ”Sejak kapan perbedaan diselesaikan dengan api? Sejak kapan otoritas merasa cukup tanpa adu hujjah?” ungkapnya kepada Tinta Media, Selasa (14/4/2026).

Pasalnya menurutnya, tidak cocok, belum tentu salah. “Apalagi dalam tradisi keilmuan Islam, perbedaan tidak pernah diselesaikan dengan pembakaran, tetapi dengan hujjah. Para ulama besar tidak mendidik umat untuk takut pada buku. Justru mereka melatih umat agar mampu menguji, memilah, dan membantah dengan ilmu,” bebernya.

Jika sebuah buku dianggap berbahaya, ucapnya, pertanyaannya sederhana, di mana letak kesalahannya? ”Jika kekhawatirannya adalah santri “terpengaruh”, maka yang perlu diuji bukan bukunya, melainkan ketahanan nalar dan kedalaman bimbingan. Santri tidak dididik untuk steril dari perbedaan, tetapi untuk mengenali kebenaran dengan dalil, bukan dengan pelarangan,” argumennya.

Membakar atau membuang buku, kata Om Joy, bukan tanda kemenangan pemikiran. ”Itu justru isyarat bahwa argumentasi belum dihadirkan, atau lebih jauh, tidak disiapkan,” kritiknya.

Ia juga mempertanyakan, mengapa pembakaran itu dipublikasikan? ”Jika tujuannya menjaga santri, cukup selesai di internal. Namun ketika dipertontonkan ke publik, ini bukan lagi sekadar tindakan, melainkan pernyataan sikap. Bahkan demonstrasi kuasa,” sindirnya.

Om Joy menjelaskan lebih lanjut, sikap bahwa perbedaan tidak dilawan dengan hujjah, tetapi dengan pemusnahan. Sikap bahwa yang berbeda cukup disingkirkan, bukan dijawab. Demonstrasi kuasa yang dibangun tanpa hujjah.

”Ini berbahaya. Karena yang lahir bukan tradisi ilmu, melainkan tradisi takut. Di atas rasa takut, kebenaran tidak pernah tumbuh sehat,” tegasnya.

Dalam dunia ilmu, sambungnya, yang seharusnya “dibakar” adalah kesalahan. Dan itu, hanya bisa dilakukan dengan satu cara: dibantah, bukan dimusnahkan.

”Jangan pernah dilupakan, ketika buku dibakar, yang padam bukan sekadar kertas tetapi keberanian berpikir, dan perlahan… kewibawaan sang pembakar itu sendiri,” pungkasnya.

Sebelumnya viral postingan FB Luthfi Bashori yang isinya, “HARI AHAD INI SAYA DIKIRIMI BUKU OLEH AKTIFIS HTI, KARENA TIDAK COCOK ISINYA, DAN KHAWATIR PARA SANTRI TERPENGARUH JIKA MEMBACANYA, MAKA SAYA BAKAR, ABUNYA SAYA BUANG.[] Irianti Aminatun

Loading

Views: 2

TintaMedia.Com : Menebar opini Islam di tengah-tengah umat yang terkungkung sistem kehidupan sekuler.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TULISAN TERBARU

SEDANG TRENDING

MENANGKAN OPINI ISLAM

JADWAL SHOLAT DI KOTA ANDA