Prof. Fahmi: Inilah Periode Perubahan Peradaban dari Jahiliyah Menjadi Islam

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
WhatsApp
Twitter
Telegram
Threads
https://drive.google.com/uc?export=view&id=14oJo0n6I8Iyx7qBseBTO-J_MVSZ9E7uh
Tinta Media – Pakar Sistem Informasi Spasial sekaligus Pengkaji Peradaban Prof. Dr. –Ing. H. Fahmi Amhar menyatakan bahwa periode  Khulafa’ur-Rasyidin (11-41 M/632-661 H) dan Bani Umayyah (41-133 M/661-750 H) menjadi periode pembentukan masyarakat baru dari peradaban jahiliyah menjadi Islam.
“Ini adalah periode yang menyaksikan pembentukan masyarakat baru dan konversi orang-orang dari peradaban lama (jahiliyah) ke peradaban Islam, yakni ilmu Quran, ilmu Fikih, ilmu Sunah, dan lain-lain,” tuturnya dalam Rubrik Sains Islam: Awal Gerakan Intelektual di Era Umayyah, Ahad (6/2/2022) di kanal Youtube Peradaban Islam ID.
Ia menerangkan pusat pembelajaran di era Umayyah, terdapat di tanah-tanah taklukan khilafah Umayyah. Pusat pembelajaran ini telah berpindah dari Athena ke Alexandria, lalu ke Antiokhia, Edessa dan Nisibis. Selain Hellenisme Alexandria, warisan intelektual Persia dan India secara bersamaan tersedia bagi kaum Muslim.
“Sudah ada tempat-tempat belajar itu. Jadi, selama abad ke-7, aliran ini telah mengintegrasikan ilmu-ilmu Yunani,  Persia, dan India. Dan tak tertandingi dalam kedokteran dan astronomi (saat itu) sebelum Islam,” ujarnya.
Ia pun mengurai tentang pusat pembelajaran Muslim pertama di masa Khulafa’ur-Rasyidin yakni di Madinah. Di kenal sebagai pusat pemerintahan selama periode empat khalifah pertama. Di Madinah sebagian besar sahabat Nabi Saw. tinggal dan sebagian besar ulama menyelesaikan studi mereka dalam hadis, fikih, tafsir, dan sejarah. Otomatis Madinah dikenal sebagai ibukota intelektualisasi. Di mana orang-orang berbondong-bondong belajar ke sana.
Setelah penaklukan oleh kaum Muslim, menurut Prof. Fahmi, sejumlah sahabat meninggalkan Madinah menuju negeri-negeri yang baru dan membentuk inti dari sekolah-sekolah baru yang didirikan di sana.
“Sebelum Bani Abbasiyah, pada masa Bani Umayyah sejumlah sahabat meninggalkan Madinah menuju negeri-negeri lain. Sebetulnya proses ini sudah terjadi di masa Khalifah Utsman yang mengizinkan sahabat-sahabat pintar, sahabat-sahabat yang alim untuk ke Irak dan ke Mesir,” katanya.
“Ketika kekhilafahan pindah ke Damaskus pada masa Umayyah. Ibukota baru tersebut (Damaskus) menjadi pusat budaya yang penting. Selama periode pertama ini, ilmu-ilmu filsafat dan rasional masih aktif, sampai batas tertentu,”  imbuhnya.
Ia pun mengungkapkan tentang Basra sebagai salah satu kota yang baru. Barat menyebutnya Venesia dari Arab. Karena ada kanal yang dibangun pada masa Umar bin Khattab. Basra adalah sekolah tertua yang didirikan di luar Arabia (Madinah-Makkah) dan Kuffah menyusul kemudian. Basra dapat dianggap sebagai wadah di mana semua elemen budaya Islam menyatu. Selama abad ke-8 dan awal abad ke- 9, Basra menjadi kota besar.
“Kota Basra menjadi pusat internasional perdagangan dan budaya. Tempat pertemuan semua elemen etnis kekhilafahan. Basra menjadi titik awal kebangkitan peradaban Islam,” tegasnya.
Ia menjelaskan pada periode pertama, masyarakat baru di pusat-pusat kebudayaan di atas berada pada tahap formatif, dan fondasi ilmu-ilmu bahasa arab, agama, filsafat, dan rasional sedang diletakkan.
“Islam datang tapi masih di tahap formatif, masih pembentukan, difondasikan kemudian, terutama ilmu agama, ilmu bahasa arab, ilmu filsafat, dan rasional pelan-pelan diakuisisi oleh filsuf-filsuf kuno,” pungkasnya. []Ageng Kartika

Loading

Views: 2

TintaMedia.Com : Menebar opini Islam di tengah-tengah umat yang terkungkung sistem kehidupan sekuler.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TULISAN TERBARU

SEDANG TRENDING

MENANGKAN OPINI ISLAM

JADWAL SHOLAT DI KOTA ANDA