Tinta Media – Cendekiawan Muslim Ustadz Muhammad Ismail Yusanto (UIY) menyatakan bahwa mengikuti (ittiba) kepada Nabi Muhammad SAW adalah tanda kecintaan kepada Allah SWT.
“Mencintai nabi itu tanda utama adalah ittiba kepadanya, dan ini sekaligus juga tanda cinta kita kepada Allah,” tuturnya dalam Fokus Spesial Maulid Nabi SAW: Memaknai Cinta Nabi di Masa Kini di kanal YouTube UIY Official, Ahad (23/8/2026).
UIY mengutip firman Allah SWT dalam Surah Ali Imran ayat 31: “Katakanlah kalau engkau betul-betul cinta kepada Allah maka ikutilah aku (ittibalah) kepadaku”.
Ia kemudian menjelaskan bahwa Imam Ibnu Katsir menafsirkan ayat tersebut sebagai ittiba yang sebenar-benarnya atau haqqul ittiba. Menurutnya, haqqul ittiba berarti mengikuti Nabi dalam perintah dan larangannya.
Ia menilai orang yang mengaku mencintai Nabi tetapi tidak mau mengikuti ajarannya, atau mengikuti Nabi tetapi tidak dengan haqqul ittiba, merupakan bentuk kedustaan kepada Nabi.
Dua Unsur Haaqqul Ittiba
UIY menyebut terdapat dua unsur yang tampak pada diri seorang Muslim yang menjalankan haqqul ittiba, yakni cara berpikir dan perilaku.
Pertama, dari cara berpikir. UIY mengungkapkan bahwa orang yang mencintai Nabi akan mengikuti ajaran Nabi dalam cara berpikir, yakni berpikir berdasarkan Islam dan risalah Islam.
“Apakah ini hari ada orang Islam yang dia berpikir tidak berdasar Islam? Ada, bahkan banyak tuh ada orang Islam berpikir sekuler baik bercorak kapitalis maupun sosialis bahkan komunis ada orang Islam komunis,” jelasnya.
Ia kemudian menyebut sejumlah tokoh yang menurutnya merupakan Muslim tetapi berpikiran komunis, termasuk Semaun dan DN Aidit.
Kedua, kecintaan kepada Nabi tampak dari perilaku. Menurut UIY, seorang Muslim yang mencintai Nabi harus mengikuti ajarannya dalam berbagai aspek kehidupan, mulai dari ibadah, makanan, minuman, pakaian hingga ekonomi, politik, sosial, dan budaya.
“Kalau ini hari ada orang dia berpikir sekuler dia ittiba pada siapa? Kalau ini ada ini hari ada orang yang tidak salat dia itu ittiba kepada siapa? Kalau ini hari ada orang yang bermuamalah dalam ekonomi tak lagi memperhatikan halal dan haram ya ekonomi keuangan penuh dengan riba, dia ittiba kepada siapa? Sebab dalam keseluruhan hidup Nabi SAW, muamalah itu selalu mengikuti ketentuan-ketentuan yang telah digariskan di dalam risalah ini. Begitu juga di dalam politik, sepanjang kehidupan Nabi itu tidak pernah nabi itu berpolitik tidak atas dasar Islam dan tidak untuk Islam. Karena itu, kalau ada ini hari orang berpolitik tidak atas dasar Islam dan tidak untuk islam dia itu kepada siapa?” paparnya.
UIY menegaskan bahwa apabila kecintaan kepada Nabi diwujudkan melalui haqqul ittiba, semestinya tidak ada Muslim yang keluar dari ajaran Nabi, baik dalam kehidupan pribadi, keluarga, maupun kehidupan masyarakat dan negara.
Ia menilai keruwetan yang terjadi di negeri ini salah satunya muncul karena pemimpin-pemimpin yang beragama Islam tidak mengikuti ajaran Nabi, baik dalam cara berpikir maupun perilaku.
Menurutnya, peringatan Maulid Nabi penting untuk mengingatkan umat mengenai pentingnya ittiba. Namun, ia menyayangkan peringatan tersebut kerap berhenti sebagai seremoni.
Melanjutkan Perjuangan Rasulullah
Selain ittiba, UIY menyebut bentuk kecintaan kepada Nabi adalah melanjutkan perjuangannya. Ia mengutip ungkapan ulama, hayatur Rasul hayatud dakwah, yang bermakna kehidupan Rasul adalah kehidupan dakwah.
“Sejak awal hingga akhir kehidupannya, Nabi Muhammad SAW tidak pernah berhenti berdakwah. Bila lampu ada on-off tapi dakwah tidak ada itu on-off, dia selalu on maka semestinya hayatul Muslimin hayatul dakwah kehidupan seorang muslim kehidupan dakwah,” tandasnya.
UIY menilai dakwah merupakan konsekuensi penting bagi seorang Muslim. Sebab, jika umat Islam tidak mengisi kehidupan dengan dakwah, maka ajaran selain Islam akan berkembang.
Ia mengatakan ketidakrelaan umat Islam terhadap sesuatu yang tidak Islami harus diwujudkan dengan perjuangan untuk menegakkan Islam.
“Walhasil, dakwah itu tidak bisa tidak. Dakwah itu ekspresi yang paling nyata dari kecintaan kita kepada Nabi dengan melanjutkan perjuangan Nabi,” pungkasnya.[] Muhammad Nur
![]()
Views: 3
















