Tinta Media – Cinta, satu kata yang sulit didefinisikan karena cinta terletak di dalam hati. Orang lain tidak bisa mengukur kedalaman dan luasnya cinta, kecuali menyaksikan perbuatannya. Akan tetapi, itu tidak berlaku bagi Rasulullah saw. karena cinta kepada umatnya murni seratus persen. Hal ini dijelasakan oleh Allah Swt. dalam Al-Qur’an surat At-Taubah ayat 128 yang artinya: “Sungguh, benar-benar telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri. Berat terasa olehnya penderitaan yang kamu alami, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, dan (bersikap) penyantun dan penyayang terhadap orang-orang mukmin.“
Dari rangkaian ayat di atas, ada beberapa bukti cinta Rasulullah saw. kepada umatnya:
Pertama, umatnya menjadi bagian dirinya. Frasa Rasul dari kalanganmu sendiri, tafsir pada umumnya dimaknai Rasul dari jenis manusia juga, bukan dari kalangan jin ataupun malaikat. Ada juga yang memaknai dari kalangan bangsa Arab dan berbahasa Arab.
Akan tetapi, ada tafsir yang berbeda dan menarik tentang min anfusikum oleh K.H. Thoifur Mawardi (Ulama kharismatik, pengasuh Pondok Pesantren Daarut Tauhid, Kedungsari, Purworejo) bahwa Nabi saw. menjadikan umat ini bukan sebagai orang lain, tetapi bagian dari dirinya. Hal ini juga dibuktikan beliau ketika menjelang wafatnya. Beliau berkata, “ummati, ummati, ummati.” Itulah salah satu bukti cinta yang luar biasa, sayang yang luar biasa kepada umatnya. Padahal, umumnya ketika seseorang naza (sakaratul maut), yang keluar dari mulutnya kata “Allah” atau “Laa Ilaha Illallah”, tetapi beliau “Ummati (umatku)”.
Betapa besar perhatian Beliau kepada umatnya. Ibaratnya, orang tua memiliki anak, tetapi anaknya nakal sekali. Bagaimana sikap orang tuanya terhadap anak tersebut? Tentu tetap akan ada syafaqah (rasa kasih sayang) karena anaknya, darah dagingnya, juga buah hatinya. Seperti itu pula cinta Rasulullah saw. kepada umatnya.
Kedua, penderitaan umat adalah penderitaannya juga. Rasulullah saw. merasakan berat hatinya menyaksikan kesulitan dan penderitaan umatnya, seperti yang saat ini dialami umat Muslim di berbagai negara, terutama umat Muslim di Gaza Palestina atas tindakan genosida oleh entitas Yahudi Israel. Dua tahun serangan Israel sejak Oktober 2023 hingga hari ini telah syahid kurang lebih 67.000 orang. Belum lagi sarana dan prasarana yang sudah luluh lantak tak tersisa walaupun hanya sekadar untuk berteduh atau minum seteguk air. Sungguh memilukan!
Menyaksikan penderitaan itu, Rasulullah saw. pun pasti merasa sesak dadanya. Sebagaimana sebuah hadis diriwayatkan Imam Al-Bazzar dalam kitab al-Musnad: “Hidupku lebih baik buat kalian dan matiku lebih baik buat kalian…” Ketika Nabi saw. masih hidup, para sahabat bisa bertanya langsung tentang suatu masalah dan berbagai masalah kehidupan bisa diselesaikan langsung oleh beliau. Ketika Rasulullah saw. telah wafat pun masih memberikan kebaikan bagi umatnya, yakni amal baik dan buruk dari umatnya akan ditampakkan di hadapan Beliau. Ketika umat mengerjakan amal baik, Beliau akan memuji Allah Swt. dan ketika umat mengerjakan amal buruk, maka Beliau akan memintakan ampun kepada Allah Swt.
Ketiga, Rasulullah saw. sangat ingin umatnya mendapat hidayah Islam. Hal itu dibuktikan sesaat setelah beliau menerima wahyu pertama di gua Hira’ surat al-Alaq. Beliau turun dari bukit pulang ke rumah menemui istrinya Khadijah sambil mengatakan: “Wahai Khadijah, waktu tidurku sudah habis. “Wahai Khadijah, setelah hari ini tidak ada waktu istirahat.” Sejak saat itu Rasulullah saw. bekerja keras mengajak semua yang ditemuinya agar masuk Islam. Siang-malam mendidik mereka dengan Islam, termasuk mengajak istrinya Khadijah masuk Islam. Khadijah menjadi wanita pertama yang masuk Islam, kemudian ada sahabat dekatnya Abu Bakar ash-Shiddiq. Ali bin Abu Thalib (8), dari kalangan anak-anak yang pertama masuk Islam, dll. Jalan dakwahnya tidaklah mudah, mengalami gangguan, hambatan, tantangan, pemboikotan, bahkan penyiksaan fisik oleh kafir Quraisy di Makkah, tetapi Rasulullah saw. tidak bergeming sedikit pun. Karena, keinginan yang kuat agar umatnya mendapatkan hidayah Islam sehingga selamat di dunia dan akhirat. Manusia tanpa hidayah tidak ubahnya seperti binatang, tidak ada artinya manusia hidup.
Keempat, semua umat Rasulullah saw. masuk surga. Cinta yang teramat sangat kepada umatnya sehingga semua dijamin masuk surga. Sebagaimana sabda beliau: “Setiap umatku akan masuk surga, kecuali mereka enggan.” Sahabat bertanya: “Siapa yang enggan ya Rasulullah?” Jawabnya: “Barang siapa yang menaatiku, maka ia akan masuk surga dan barang siapa yang durhaka kepadaku, maka sungguh ia telah enggan.” (HR al-Bukhari no. 7280)
Begitulah cintanya yang luar biasa kepada umatnya. Maka, sudah seharusnya kita membalasnya dengan mengikuti semua yang dicontohkannya dan meninggalkan yang dilarangnya. Marilah wujudkan kembali warisan beliau, Daulah Khilafah ‘ala Minhajin Nubuwwah agar dada beliau lapang kembali dan tersenyum menyaksikan umatnya mengikuti risalahnya. Wallahualam bissawab.
Oleh: Imam Wahyono
Kurir Ideologis Lulusan API III 2025
Views: 54
















