Tinta Media – Anak-anak Palestina terus menjadi korban. Komisi Penyelidik PBB melaporkan adanya tindakan yang menyebabkan kematian serta penderitaan fisik dan mental yang berat terhadap ratusan ribu anak Palestina di Gaza dan Tepi Barat. Bahkan, setelah gencatan senjata pada Oktober 2025, pembunuhan terhadap anak-anak masih terus terjadi. Ini menjadi bukti bahwa perdamaian yang dipimpin oleh orang-orang yang tidak beriman kepada Allah tidak akan pernah menghadirkan keadilan.
Masih segar dalam ingatan kita bagaimana Amerika Serikat (AS) dan para pemimpin negeri-negeri Muslim, termasuk Indonesia yang tergabung dalam BOP, menghabiskan dana hingga triliunan rupiah. Negara kita pun ikut menggelontorkan dana besar meski saat itu sedang dilanda bencana besar di dalam negeri. Mereka berkoar-koar demi “perdamaian dunia”, termasuk untuk Palestina. Namun, seperti biasa, dana tersebut menguap begitu saja. Tidak jelas digunakan untuk apa. Sementara itu, Zionis tetap menyerang Palestina tanpa ampun.
Yang lebih mengerikan, anak-anak dijadikan sasaran paling ekstrem. Tujuannya jelas, menghilangkan seluruh generasi Palestina. Anak-anak Gaza tidak hanya dihancurkan secara fisik, tetapi juga dirusak mentalnya oleh berbagai kekejaman. Rumah mereka dihancurkan, keluarga mereka dibantai. Tidak ada lagi ruang bagi anak-anak Gaza untuk hidup dengan aman.
Ke mana mereka akan berteriak meminta tolong? Sementara saudara terdekat justru membangun tembok pemisah. Negeri-negeri Muslim lainnya sibuk dengan kepentingannya masing-masing. Kekecewaan dirasakan oleh warga Gaza karena tidak ada pemimpin negeri Muslim yang benar-benar menolong mereka, padahal jumlah umat Islam sangat besar dan memiliki kekuatan.
Alih-alih membantu Palestina, sebagian pemimpin Muslim justru bersekutu dengan para pemimpin kafir. Hal ini semakin menambah beban penderitaan mereka. Padahal tujuan Zionis hanya satu, yaitu menghancurkan dan menghabisi seluruh rakyat Palestina hingga ke akar-akarnya.
Sungguh disayangkan. Di satu sisi, rakyat Gaza akan dihabisi. Di sisi lain, saudara mereka justru bersekutu dengan para penghancurnya. Sementara yang lain terkotak-kotak oleh konsep nation-state. Mereka lebih memikirkan kondisi negaranya sendiri daripada membantu saudara-saudaranya yang setiap hari berteriak, menangis, dan mengalami kekejaman di luar batas kemanusiaan. Sayangnya, sebagian besar hanya mengecam tanpa bergerak secara nyata dengan jihad fi sabilillah. Padahal, hanya dengan itulah Zionis akan hancur.
Anak adalah Masa Depan Umat
Dalam pandangan Islam, anak adalah generasi yang menentukan ke mana arah sebuah negeri akan berjalan. Islam sangat menjaga anak-anak. Rasulullah ﷺ bersabda, “Bukanlah termasuk golonganku orang yang tidak menyayangi anak kecil dan tidak menghormati orang yang lebih tua.” (HR Tirmidzi)
Islam memuliakan anak-anak karena merekalah yang akan memegang estafet kepemimpinan pada masa mendatang. Mereka harus dipersiapkan menjadi pemimpin. Tidak hanya kuat secara fisik dan mental, akidah mereka juga harus dikuatkan agar kepemimpinannya tidak salah arah.
Seorang anak adalah calon pemimpin yang akan memikul tanggung jawab besar. Ia harus mampu mengambil keputusan sesuai dengan aturan Allah, bukan aturan buatan manusia. Sebuah negara akan kuat jika generasi anak-anak dan pemudanya selalu terikat pada aturan Allah serta memiliki mental dan kepribadian yang kokoh.
Umat Islam seolah lupa sejarah. Betapa hebatnya umat ini ketika berada di bawah satu kepemimpinan khalifah, satu komando, dan satu perintah. Di mana pun terjadi pelanggaran dan ketidakadilan, semuanya akan segera diselesaikan.
Sayangnya, saat ini sebagian umat Islam bahkan tidak lagi percaya kepada Khilafah dan khalifah. Bagi mereka, konsep tersebut seolah sesuatu yang baru. Hal ini menunjukkan betapa dangkalnya pemikiran umat. Akibatnya, umat semakin mudah diatur dengan aturan yang bukan berasal dari Islam. Pelan tetapi pasti, umat semakin jauh dari agamanya sendiri. Bagaimana umat akan bersatu jika semakin jauh dari Islam?
Saatnya Bangkit
Saatnya bangkit dan membangunkan umat dari tidur panjangnya agar memahami bahwa persoalan Gaza adalah persoalan seluruh umat Islam, bukan sekadar masalah dua negara.
Kita harus berjuang membebaskan Palestina dalam satu komando dengan jihad fi sabilillah. Agar dunia mengetahui bahwa umat Islam tidak lemah karena memiliki seorang pemimpin yang kuat. Sejarah telah membuktikan bahwa Islam mampu memimpin dunia selama 14 abad. Selamatkan Palestina dengan jihad fi sabilillah. Allahu Akbar!
Oleh: Suparti
(Pejuang Dakwah)
![]()
Views: 3






