Penjajahan Zionis: Menghancurkan Masa Depan Anak-Anak Gaza

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
WhatsApp
Twitter
Telegram
Threads

Tinta Media – Anak-anak Gaza, yang seharusnya hidup dalam damai, kini menjadi saksi dan korban dari kekejaman penjajahan zionis. Mereka kehilangan akses pendidikan, perlindungan, bahkan hak dasar untuk hidup. Di tengah berbagai serangan brutal, dunia seolah diam membisu. Ini bukan hanya tragedi kemanusiaan, tetapi juga serangan terhadap masa depan peradaban Islam.

Sejak agresi Israel ke Gaza pada 7 Oktober 2023, angka korban terus bertambah. Berdasarkan laporan Kementerian Kesehatan Palestina, 46.584 orang telah syahid, sementara 109.731 lainnya terluka, dengan 75 persen korban adalah anak-anak dan perempuan (Gaza Media Channel, 13/1/2025). Dalam satu serangan di Jabalia, Gaza, sebuah sekolah yang menjadi tempat pengungsian dihantam bom, menewaskan 8 orang, termasuk anak-anak, dan melukai puluhan lainnya (CNN Indonesia, 11/1/2025).

Selain itu, ribuan anak Gaza terpaksa belajar di bawah tenda tanpa fasilitas yang layak, sebagaimana dilaporkan Antara News (10/1/2025). Kehidupan mereka tidak hanya dipenuhi ketakutan tetapi juga dirampas dari hak untuk meraih masa depan yang lebih baik.

Mengapa Dunia Diam?

Kebisuan dunia terhadap penderitaan anak-anak Gaza sebenarnya bukanlah hal baru. Fenomena ini berakar dari beberapa faktor yang saling terkait, baik secara ideologis maupun geopolitik, antara lain:

1. Dominasi Kepentingan Geopolitik
Diamnya dunia terhadap penderitaan anak-anak Gaza tidak lepas dari kepentingan geopolitik negara-negara besar, terutama Amerika Serikat, yang terus mendukung Israel. Dukungan ini tidak hanya berupa bantuan politik dan ekonomi, tetapi juga bantuan militer yang nilainya mencapai miliaran dolar. Hal ini tetap berlangsung meskipun pelanggaran hak asasi manusia (HAM) oleh Israel sudah sangat jelas (Ajnn.net, 31 Oktober 2024).

Selain itu, media Barat sering menunjukkan bias dalam pemberitaan konflik Israel-Palestina. Banyak media yang hanya menyoroti sudut pandang Israel tanpa cukup menggambarkan penderitaan rakyat Palestina. Hal ini menyebabkan masyarakat dunia sulit memahami akar masalah yang sebenarnya dan membuat krisis kemanusiaan di Gaza kurang mendapatkan perhatian (bujurnews.com, 2/11/2024).

Kombinasi antara dukungan besar dari negara kuat dan pemberitaan media yang tidak seimbang ini membuat penderitaan rakyat Palestina, termasuk anak-anak Gaza, seolah diabaikan dunia. Situasi ini membutuhkan kesadaran semua pihak untuk lebih peduli dan mengambil langkah nyata menghentikan kezaliman yang terjadi.

2. Normalisasi Hubungan dengan Israel oleh Negara-Negara Muslim
Beberapa negara Muslim kini berlomba-lomba menormalisasi hubungan diplomatik dengan Israel, meskipun penjajahan terhadap Palestina terus berlangsung. Langkah ini menunjukkan bagaimana nasionalisme telah merasuki kebijakan luar negeri negeri-negeri Muslim. Kepentingan ekonomi dan politik nasional lebih diutamakan ketimbang membela saudara seiman di Gaza. Hal ini bertentangan dengan perintah Allah SWT untuk bersatu:
“Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara.” (TQS. Al-Hujurat: 10)

3. Sekularisme Membungkam Solidaritas Umat Islam
Sekularisme, dengan prinsip memisahkan agama dari kehidupan, telah membunuh solidaritas umat Islam. Di bawah tatanan sekuler, masalah Palestina dianggap sebagai urusan lokal, bukan persoalan akidah. Sebaliknya, Islam mengajarkan bahwa penderitaan satu bagian dari umat adalah tanggung jawab bersama. Rasulullah ﷺ bersabda: “Siapa saja yang bangun pagi tanpa memikirkan urusan kaum muslimin, maka ia bukan bagian dari mereka.” (HR. Muslim)

Perpecahan ini diperparah oleh nasionalisme, yang membagi umat Islam ke dalam sekat-sekat negara. Palestina, yang seharusnya menjadi tanggung jawab seluruh kaum muslimin, kini dianggap hanya sebagai masalah bangsa Palestina. Padahal, Rasulullah ﷺ telah memperingatkan bahaya perpecahan: “Janganlah kalian menjadi seperti orang-orang kafir yang saling berpecah belah dan berselisih setelah datang kepada mereka keterangan yang jelas.” (TQS. Ali Imran: 105)

Pendidikan: Fondasi yang Hancur

Pendidikan adalah hak asasi setiap anak. Namun, bagi anak-anak Gaza, pendidikan kini menjadi hak yang nyaris mustahil diraih. Sebanyak 93 persen bangunan sekolah telah hancur sebagian atau sepenuhnya akibat serangan Zionis Israel. Sebelum serangan pada 7 Oktober 2023, terdapat 17 universitas dan perguruan tinggi di Gaza, serta 796 sekolah yang melayani sekitar 800.000 siswa (KompasTV, 4/10/2024). Namun, laporan terbaru dari Antara News (10/1/2025), mencatat bahwa 352 sekolah di Jalur Gaza rusak parah dan tidak dapat digunakan untuk kegiatan belajar mengajar.

Hancurnya pendidikan di Gaza adalah strategi penjajah untuk melemahkan generasi Palestina. Dengan menghancurkan pendidikan, Zionis Israel memastikan Palestina tetap lemah dan tidak mampu bangkit. Padahal, Islam sangat menekankan pentingnya pendidikan. Rasulullah ﷺ bersabda: “Menuntut ilmu itu wajib atas setiap muslim.” (HR. Ibnu Majah)

Tanpa pendidikan, anak-anak Gaza kehilangan harapan untuk membangun peradaban yang kuat. Mereka terjebak dalam siklus kemiskinan, ketakutan, dan kebodohan, yang semakin memperlemah posisi mereka di hadapan penjajah.

Solusi Hakiki: Jihad dan Khilafah

Realitas ini menunjukkan bahwa bantuan kemanusiaan atau diplomasi saja tidak cukup untuk menghentikan penjajahan Zionis. Solusi yang hakiki adalah melalui jihad fisabilillah, sebagaimana diperintahkan oleh Allah SWT: “Perangilah mereka sampai tidak ada lagi fitnah, dan agama itu hanya untuk Allah.” (QS. Al-Baqarah: 193)

Namun, jihad tidak bisa dilakukan secara sporadis oleh individu atau kelompok kecil. Dibutuhkan kekuatan yang terorganisasi, yaitu sebuah negara yang menerapkan syariat Islam secara kaffah. Negara ini adalah Khilafah, yang akan menjadi pelindung umat dan pemimpin dalam membebaskan Palestina. Rasulullah ﷺ bersabda: “Sesungguhnya Imam (Khalifah) itu adalah perisai; orang-orang berperang di belakangnya dan berlindung dengannya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Khilafah juga akan menjamin pendidikan bagi seluruh anak muslim, termasuk anak-anak Gaza. Pendidikan akan diberikan secara gratis dan berkualitas, dengan kurikulum yang mencetak generasi pemimpin, ulama, dan ilmuwan yang mampu membangun kembali peradaban Islam. Sejarah telah membuktikan bagaimana Khilafah mampu memuliakan umat Islam, menjadikan Baghdad, Kordoba, dan Damaskus sebagai pusat peradaban dunia.

Khatimah: Saatnya Umat Islam Bersatu

Anak-anak Gaza adalah korban nyata dari penjajahan Zionis, tetapi mereka juga menjadi simbol penderitaan umat akibat sekularisme dan nasionalisme. Umat Islam tidak boleh lagi berdiam diri. Saatnya mereka bersatu menyeru para penguasa muslim untuk menghentikan penjajahan ini melalui jihad. Tegaknya Khilafah adalah solusi yang hakiki untuk menyelamatkan Palestina dan membangun kembali peradaban Islam. Dengan Khilafah, umat akan bersatu tanpa sekat, anak-anak akan mendapatkan pendidikan yang layak, dan penjajahan akan berakhir. Semoga Allah SWT mempercepat pertolongan-Nya bagi Palestina dan umat Islam di seluruh dunia.

Wallahualam bii Shawab.

 

 

Oleh: Khodijah Ummu Hannan
(Aktivis Muslimah Ideologis)

Loading

Views: 6

TintaMedia.Com : Menebar opini Islam di tengah-tengah umat yang terkungkung sistem kehidupan sekuler.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TULISAN TERBARU

SEDANG TRENDING

MENANGKAN OPINI ISLAM

JADWAL SHOLAT DI KOTA ANDA