Genosida Gaza, Memutus Rantai Kebangkitan Peradaban Islam

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
WhatsApp
Twitter
Telegram
Threads

Tinta Media – Lebih dari 100 tahun, Gaza mengalami genosida. Konflik yang tak kunjung usai membuat jeritan kemanusiaan bukan tidak terdengar, tetapi justru disaksikan oleh seluruh dunia di tengah kebrutalan Zionis. Mirisnya, ribuan anak menjadi target kekejaman tersebut. Anak-anak Gaza lahir dan tumbuh di tengah perang. Melansir Kompas.id, Rabu (25/6/2025), perang di Gaza bukan hanya menghancurkan infrastruktur sosial, tetapi juga secara sengaja menargetkan anak-anak Palestina sejak Hamas melancarkan serangan terhadap Israel pada 7 Oktober 2023.

Hingga Oktober 2025, berdasarkan laporan Komisi Penyelidik Internasional Independen Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), sedikitnya 20.179 anak Palestina menjadi korban. Komisi tersebut menyimpulkan adanya upaya menghilangkan satu generasi di tengah perang. Sementara itu, melansir Anadolu Ajansi, sedikitnya 265 anak tewas sejak gencatan senjata pada Oktober 2025. Juru Bicara UNICEF, James Elder, menyebut gencatan senjata sebagai “ilusi mematikan” karena meskipun perang dihentikan, kekerasan tetap terjadi. Selama lebih dari delapan bulan, hampir setiap hari ada anak yang terbunuh.

Setiap detik, kehidupan anak-anak berada dalam bidikan tentara Israel. Selalu ada anak yang tewas di tempat umum saat bermain bola, memancing, di sekolah, bahkan di dalam rumah. Setiap hari selalu ada pemakaman. Di lokasi pengungsian pun anak-anak tidak luput dari serangan yang menewaskan ayah, bayi berusia dua dan lima tahun, serta seorang anak berusia 13 tahun. Sementara itu, lebih dari 400 anak mengalami cedera berat. Penderitaan di Gaza terus menambah catatan luka sejak Oktober. Anak-anak di pengungsian membutuhkan evakuasi akibat keterbatasan obat-obatan. Kondisi tersebut menyebabkan komplikasi dan infeksi serius, terutama pada korban amputasi.

Jika ditelaah lebih dalam, perang ini bukan hanya menyisakan luka fisik. Kehidupan anak-anak Gaza terus dibayangi ketakutan dan kekerasan yang berdampak traumatis terhadap kondisi psikologis mereka. Karena itu, James Elder menyerukan kepada pemerintah dan lembaga internasional agar bertindak tegas dengan menegakkan hukum internasional atas kejahatan tentara Israel yang tidak mematuhi perjanjian gencatan senjata. Fakta lain juga menambah catatan kejahatan tentara Israel, yaitu sedikitnya 247 anak tewas dan 992 lainnya terluka di Lebanon sejak 2 Maret. Hal ini semakin menguatkan pernyataan James Elder bahwa gencatan senjata hanyalah “ilusi mematikan”. Dalam situasi gencatan senjata sekalipun, tentara Israel tetap melakukan serangan yang menargetkan anak-anak sebagai bagian dari agenda genosida terhadap kaum muslim di Palestina.

Berbagai kecaman dari negara-negara melalui lembaga PBB terus disampaikan, tetapi genosida tetap berlangsung. Harapan akan adanya perubahan kebijakan melalui pergantian perdana menteri Israel belum mampu menghentikan penjajahan di Gaza. Mirisnya, keberpihakan negara-negara mayoritas Muslim juga semakin melemah karena negara-negara di Timur Tengah masih menjalin kerja sama dengan Amerika Serikat dan Israel. Paradigma politik dan ekonomi kapitalisme yang diterapkan di negara-negara mayoritas Muslim menyebabkan penyelesaian konflik di Gaza semakin sulit. Masing-masing negara lebih mengutamakan kepentingan nasional, stabilitas ekonomi, dan geopolitik. Sejatinya, penjajahan di Palestina hanya dapat diakhiri jika umat Islam menyadari bahwa kelemahan terbesar terletak pada lemahnya pemikiran umat Islam sendiri.

Setelah runtuhnya Daulah Turki Utsmani, dunia dipaksa menerima ideologi kapitalisme yang disebarkan oleh Amerika Serikat dan negara-negara sekutunya. Ideologi tersebut kemudian diemban oleh negara-negara anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa. Akibatnya, umat Islam menjadi sekuler dengan nilai-nilai kebebasan dalam berbagai aspek kehidupan. Kehancuran dan kesenjangan ekonomi pun bermunculan di berbagai belahan dunia akibat penjajahan bangsa-bangsa Barat, termasuk penjajahan di tanah Palestina.

Umat Islam harus mengembalikan kekuatan persatuan dengan ikatan akidah. Hanya qiyadah fikriyah Islam yang berlandaskan akidah Islam mampu mewujudkan kebangkitan dan kemajuan melalui kekuatan politik Islam.

Politik Islam akan menerapkan solusi Islam yang mampu menyelesaikan konflik di berbagai belahan dunia, termasuk persoalan Palestina. Solusi Islam tidak akan pernah bergantung kepada negara-negara kafir yang merupakan musuh Islam dan sarat dengan pengkhianatan. Politik Islam mampu mempersatukan umat untuk membangun kekuatan militer Islam. Kekuatan militer Islam hanya dapat terwujud apabila umat mampu menghadirkan kepemimpinan yang dapat menggerakkan jihad, sebab jihad merupakan kewajiban syar’i. Sebagaimana firman Allah Swt., “Perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kalian, tetapi jangan melampaui batas. Sungguh, Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” (QS Al-Baqarah: 190)

Kekuatan sistem pemerintahan Islam adalah Khilafah yang mampu mempersatukan umat tanpa sekat nasionalisme. Khilafah memosisikan pemimpin sebagai perisai bagi umat, sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ yang artinya, “Sesungguhnya imam (khalifah) itu adalah perisai. Orang-orang berperang di belakangnya dan berlindung kepadanya.” (HR Al-Bukhari dan Muslim)

Dalam penjajahan di Palestina yang telah banyak memakan korban anak-anak, Khilafah akan memberikan perlindungan kepada mereka. Islam memandang anak sebagai aset umat yang wajib dijaga dan dibentengi dari pemikiran Barat yang sekuler. Generasi Islam yang berpikir cemerlang akan mampu menjaga kedaulatan negara Islam serta mengembalikan peradaban Islam yang mulia untuk menjaga setiap jengkal tanah umat Islam. Wallahu a’lam bish-shawab.

Oleh: Dewi Poncowati
(Aktivis Muslimah Peduli Generasi)

Loading

Views: 3

TintaMedia.Com : Menebar opini Islam di tengah-tengah umat yang terkungkung sistem kehidupan sekuler.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TULISAN TERBARU

SEDANG TRENDING

MENANGKAN OPINI ISLAM

JADWAL SHOLAT DI KOTA ANDA